Jakarta, Britakini.com – Harga emas menguat ke US$ 4.600 per troy ons setelah mencatat penurunan bulanan terbesar sejak awal 1980-an. Kenaikan ini memberi sinyal pemulihan jangka pendek, meski tekanan pasar masih membayangi.
Namun, analis menilai tren penurunan belum selesai. Mengutip Kitco News, Selasa (7/4/2026), analis ElliottWaveTrader, Avi Gilburt, melihat dua arah pergerakan harga emas dalam waktu dekat.
Gilburt memproyeksikan harga emas bisa turun di bawah US$ 4.000, bahkan menuju US$ 3.800 per troy ons. Proyeksi ini setara penurunan sekitar 20% dari level US$ 4.775. Ia menilai tekanan teknikal masih cukup kuat untuk mendorong harga turun lebih dalam.
Ia memantau pergerakan harga dengan cermat. Pada skenario pertama, harga menyentuh area resistensi saat ini sebelum kembali melemah. Pola ini kerap terjadi dalam fase koreksi pasar.
Namun, ia menilai skenario kedua lebih berisiko. Jika harga menembus US$ 4.800 dan melanjutkan kenaikan ke US$ 5.200, pasar justru berpotensi memasuki fase penurunan yang lebih tajam. Kondisi ini bisa mengecoh pelaku pasar yang mengira tren sudah berbalik naik.
“Kenaikan ini bisa menyesatkan karena terlihat seperti akhir koreksi, padahal baru mulai,” ujarnya.
Selain faktor teknikal, sentimen geopolitik juga memengaruhi pergerakan harga emas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjelang pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Pada perdagangan Senin (6/4/2026), harga emas kembali turun seiring sikap wait and see investor. Harga emas spot turun 0,55% ke US$ 4.650,56 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun tipis 0,07% ke US$ 4.676,2.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati perkembangan global dan sinyal teknikal sebelum mengambil keputusan investasi.









