Gaza Dilaporkan Hancur, Ribuan Jenazah Masih Tertimbun

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kerusakan di Gaza akibat serangan Israel (AFP/EYAD BABA)

Foto: Kerusakan di Gaza akibat serangan Israel (AFP/EYAD BABA)

Kondisi Gaza: Laporan PBB, Dampak Perang, dan Situasi Kemanusiaan

Gaza, Britakini.com — Pertama-tama, seorang pejabat Program Pembangunan PBB (UNDP) yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan kondisi Gaza yang sangat memprihatinkan di Palestina. Selain itu, ia memperkirakan sekitar 8.000 jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat konflik yang terus berlangsung.

Lebih lanjut, laporan yang Haaretz kutip melalui Al Jazeera menyebutkan bahwa proses pembersihan puing di Gaza akan memakan waktu hingga tujuh tahun. Hal ini terjadi karena, di satu sisi, kehancuran meluas di seluruh wilayah, sementara di sisi lain, pihak berwenang mengalami kekurangan alat berat yang sangat parah.

Akibat kondisi tersebut, banyak keluarga di Gaza hingga saat ini menunggu kepastian mengenai anggota keluarga mereka. Dengan demikian, mereka menghadapi kesulitan besar dalam mencari dan menguburkan korban yang tertimbun reruntuhan.

Dampak Konflik Berkepanjangan

Di samping itu, konflik yang dimulai sejak Oktober 2023 menimbulkan dampak yang sangat besar. Awalnya, Israel meluncurkan operasi militer sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.

Baca Juga :  Harga emas Antam naik hari ini dipicu sentimen global

Namun demikian, dalam perkembangannya, Israel memperluas operasi militer di Gaza selama dua tahun. Oleh karena itu, laporan mencatat lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan sekitar 172.000 lainnya terluka. Selain itu, serangan tersebut menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di Gaza.

Sebagai akibatnya, PBB memperkirakan bahwa rekonstruksi wilayah tersebut membutuhkan sekitar 70 miliar dolar AS. Dengan kata lain, perang ini menyebabkan kerusakan besar baik secara kemanusiaan maupun ekonomi.

Situasi Gencatan Senjata yang Tidak Stabil

Meskipun demikian, gencatan senjata yang para pihak sepakati pada Oktober 2025 masih sering dilanggar di lapangan. Di satu sisi, kesepakatan itu bertujuan menghentikan kekerasan, tetapi di sisi lain, berbagai pihak masih melakukan serangan.

Akibatnya, serangan lanjutan selama periode gencatan senjata menewaskan ratusan warga Palestina dan melukai ribuan lainnya.

Baca Juga :  Ronaldo Diduga Ucap Bismillah Sebelum Cetak Gol

Insiden Armada Bantuan Kemanusiaan

Sementara itu, militer Israel juga mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. Armada bernama Global Sumud Flotilla tersebut membawa bantuan dari berbagai negara Eropa.

Lebih jauh lagi, militer Israel menghentikan lebih dari 50 kapal di perairan internasional. Menurut penyelenggara, komunikasi dengan sejumlah kapal terputus, sehingga mereka khawatir terhadap keselamatan para aktivis.

Selain itu, penyelenggara juga melaporkan adanya intimidasi, termasuk penggunaan senjata dan perintah untuk berhenti di laut. Akibat kejadian itu, Israel menahan sekitar 175 aktivis dan membawa mereka ke wilayahnya.

Namun demikian, pemerintah Israel menyatakan bahwa mereka mengalihkan kapal-kapal tersebut secara damai ke pelabuhan Israel.

Reaksi Internasional

Sebagai respons, Turki mengecam tindakan tersebut. Pemerintah Turki menyebut insiden itu sebagai pelanggaran hukum internasional. Oleh karena itu, Turki menilai tindakan tersebut sebagai serangan terhadap misi kemanusiaan untuk membantu warga Gaza.

(vvr)

Penulis : Vendra

Editor : vendra

Sumber Berita: detik.com

Berita Terkait

Iran Tembus Blokade Laut AS dengan 52 Kapal
Rusia Dukung Iran, Putin Soroti Keberanian Rakyatnya
Azerbaijan Lepas 22 Ton Emas Saat Harga Melonjak
AS Butuh Enam Bulan Bersihkan Ranjau Selat Hormuz
Iran Ungkap Dugaan Serangan Siber AS ke Jaringan
Rosan Roeslani Bahas Kerja Sama Ekonomi Indonesia Singapura
Menaker AS Mundur Usai Skandal Libatkan Staf Muda
Wisata China Meningkat, Hotel Ekonomi Jadi Pilihan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:00 WIB

Gaza Dilaporkan Hancur, Ribuan Jenazah Masih Tertimbun

Kamis, 30 April 2026 - 21:00 WIB

Iran Tembus Blokade Laut AS dengan 52 Kapal

Selasa, 28 April 2026 - 20:00 WIB

Rusia Dukung Iran, Putin Soroti Keberanian Rakyatnya

Sabtu, 25 April 2026 - 19:00 WIB

Azerbaijan Lepas 22 Ton Emas Saat Harga Melonjak

Kamis, 23 April 2026 - 18:00 WIB

AS Butuh Enam Bulan Bersihkan Ranjau Selat Hormuz

Berita Terbaru

Grace Natalie menyampaikan klarifikasi soal unggahan video ceramah Jusuf Kalla dalam konferensi pers di Jakarta.

Nasional

Grace Natalie Tegaskan Video JK Bukan Atas Nama PSI

Senin, 11 Mei 2026 - 21:00 WIB

Kirmanto, anak petani asal Pemalang, kini bekerja di PT Nestlé Indonesia setelah lulus cumlaude dari UNU Yogyakarta.

Nasional

Anak Petani Pemalang Tembus Nestlé, Kisah Kirmanto

Senin, 11 Mei 2026 - 20:00 WIB

Layar menampilkan pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan terbaru

Ekonomi

Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah ke Rp17.405

Senin, 11 Mei 2026 - 19:00 WIB

Ilustrasi emas batangan Antam. Harga emas Antam hari ini turun menjadi Rp2.819.000 per gram.

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu

Senin, 11 Mei 2026 - 18:00 WIB