Jakarta, Britakini.com – Harga minyak dunia turun pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Penurunan ini langsung menghapus kenaikan sebelumnya. Negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata.
Mengutip CNBC, Jumat (29/5/2026), kedua pihak menyepakati nota kesepahaman selama 60 hari. Mereka juga mulai membahas program nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump masih harus memberikan persetujuan akhir.
Harga Minyak Brent dan WTI Bergerak Berlawanan
Harga minyak Brent turun 58 sen menjadi US$ 93,71 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 22 sen ke US$ 88,90 per barel.
Ketegangan Militer Sempat Dorong Harga Naik
Harga minyak sempat naik pada Kamis pagi. Kenaikan ini terjadi karena AS dan Iran saling melancarkan serangan militer.
Garda Revolusi Iran menyerang pangkalan udara AS sekitar pukul 04.50 waktu setempat. Mereka tidak mengungkap lokasi target.
Komando Pusat AS melaporkan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait. Sistem pertahanan langsung mencegat serangan tersebut.
Militer AS kemudian menggempur situs militer di Iran. Pejabat AS menyebut lokasi itu mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pasukan AS juga mencegat dan menjatuhkan beberapa drone Iran.
Harga Minyak Turun Lebih dari 10% Sejak 18 Mei
Harga minyak sudah turun lebih dari 10% sejak 18 Mei 2026. Penurunan ini terjadi setelah Trump membatalkan rencana serangan militer besar. Ia memberi ruang bagi proses negosiasi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pembicaraan menunjukkan kemajuan. Ia menegaskan bahwa Trump mengutamakan diplomasi. Pemerintah AS juga memberi kesempatan penuh bagi negosiasi dengan Iran.
AS dan Iran masih bersitegang terkait Selat Hormuz sejak gencatan senjata pada April.
Iran Setujui MoU Pembukaan Selat Hormuz
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menyetujui draf nota kesepahaman dengan AS. Kesepakatan ini membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial seperti sebelum konflik.
Iran dan Oman akan mengatur lalu lintas kapal di selat tersebut. Namun, Gedung Putih membantah laporan ini dan menyebutnya tidak benar. Trump juga menegaskan bahwa tidak ada negara yang akan mengendalikan jalur tersebut.
Iran Dinilai Kuasai Selat Hormuz
Mantan Penasihat Energi Presiden Joe Biden, Amos Hochstein, menilai Iran telah menguasai Selat Hormuz secara efektif.
Ia mengatakan banyak pemimpin Timur Tengah percaya Iran akan tetap mengendalikan selat tersebut, apa pun isi kesepakatannya.
Citigroup: Pasar Mulai Stabil, Risiko Masih Tinggi
Citigroup menilai pasar minyak mulai stabil. Investor mulai memperhitungkan risiko terburuk terhadap pasokan minyak. Peluang kesepakatan AS dan Iran juga semakin besar.
Namun, Citi mengingatkan bahwa ketidakpastian masih tinggi. Bank sentral tetap waspada terhadap risiko inflasi dari sektor energi.
Citi menilai kenaikan harga minyak yang berkepanjangan mulai menekan inflasi global. Dampaknya terlihat pada kenaikan harga barang dan jasa.
Hochstein mengatakan pasar keuangan ingin perang segera berakhir. Namun, ekspektasi pasar terhadap kesepakatan justru memengaruhi harga minyak.
Ia menegaskan bahwa optimisme terhadap pernyataan Trump menjadi salah satu penyebab utama turunnya harga minyak saat ini. (Ven*)









