Jakarta, Britakini.com – Para pakar tetap optimistis melihat prospek bullish harga emas dunia. Selain itu, mereka menilai tren kenaikan ini masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Mengutip Kitco News, Rabu (8/4/2026), manajer portofolio Gabelli Funds, Chris Mancini, menilai penurunan harga emas setelah konflik Iran justru menegaskan peran logam mulia sebagai aset aman saat krisis. Dengan demikian, emas tetap menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian global.
Lebih lanjut, Mancini menyatakan bahwa emas lebih menarik daripada utang pemerintah karena memiliki likuiditas yang lebih sederhana. Ia menilai peningkatan utang dan defisit global akan terus mendorong minat investor terhadap emas. Di sisi lain, kenaikan belanja pertahanan juga ikut memperkuat daya tarik logam mulia ini.
Sementara itu, ia menyoroti konflik Iran dan lonjakan pengeluaran militer yang terjadi di tengah pergeseran besar dari dominasi dolar AS. Oleh karena itu, ia menilai dunia kini memasuki fase de-dolarisasi dalam cadangan global.
Sebagai contoh, Mancini mengangkat peristiwa saat Rusia menginvasi Ukraina. Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat menyita obligasi milik Rusia, sehingga menunjukkan risiko dalam sistem keuangan berbasis dolar. Akibatnya, peristiwa tersebut turut mendorong harga emas naik dari sekitar US$2.000 menjadi mendekati US$5.000 per troy ons.
Pada akhirnya, untuk jangka menengah, Mancini tetap meyakini harga emas akan terus menguat. Ia memperkirakan bahwa setelah konflik di Timur Tengah mereda dan tatanan baru terbentuk, harga emas berpotensi menembus US$6.000 per troy ons.
“Kesimpulannya, setelah kondisi stabil dan paradigma baru berjalan, harga emas bisa melampaui US$6.000,” ujar Mancini.
(Ven*)









