Cara Balik Nama Sertifikat Tanah Hibah: Syarat, Biaya, dan Waktu
iNBrita.com — Penerima tanah hibah harus segera mengurus balik nama sertifikat. Dengan langkah ini, penerima mencegah potensi sengketa atau masalah hukum di masa depan.
Balik nama berarti proses pengalihan hak atas tanah dari pemilik lama ke pemilik baru secara sah. Selain itu, pemberi hibah bisa memberikan tanah kepada siapa saja, termasuk anak atau anggota keluarga. Umumnya, pemberi hibah menjalankan proses ini saat masih hidup.
Setelah menerima hibah, penerima langsung menyiapkan dokumen. Oleh karena itu, penerima perlu memastikan semua berkas lengkap agar proses berjalan lancar.
Mengacu pada Kementerian ATR/BPN, berikut persyaratannya:
Dokumen yang Diperlukan
Pertama, pemohon mengisi formulir permohonan lalu menandatanganinya di atas meterai. Jika menggunakan perwakilan, pemohon melampirkan surat kuasa.
Selanjutnya, pemohon menyertakan fotokopi KTP dan KK milik pemberi serta penerima hibah. Kemudian, pemohon menunjukkan dokumen asli untuk verifikasi.
Selain itu, pemohon membawa sertifikat tanah asli dan akta hibah dari PPAT. Jika sertifikat memuat ketentuan khusus, pemohon melampirkan izin pemindahan hak.
Berikutnya, pemohon menyertakan SPPT dan PBB tahun berjalan, bukti pembayaran SSB (BPHTB), serta bukti pembayaran uang pemasukan.
Terakhir, untuk tanah dengan nilai di atas Rp60 juta, pemohon melampirkan bukti SSP/PPH.
Waktu dan Biaya Pengurusan
Sementara itu, petugas menyelesaikan proses balik nama dalam waktu sekitar 5 hari kerja. Dengan begitu, pemohon tidak perlu menunggu lama.
Di sisi lain, pemohon dapat menghitung biaya melalui situs resmi Kementerian ATR/BPN atau aplikasi Sentuh Tanahku. Sebagai gambaran, pemohon menghitung biaya dengan rumus: nilai tanah per meter dikalikan luas tanah, lalu dibagi 1.000, kemudian ditambah biaya layanan Rp50.000.
Kesimpulannya, penerima hibah dapat mengurus balik nama sertifikat dengan cepat, aman, dan tanpa hambatan jika mengikuti seluruh syarat dan prosedur. (Ven*)









