Rupiah Menguat Tipis, Harga Minyak Tekan Dolar AS
Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (24/8/2026). Penurunan harga minyak global dan penguatan mayoritas mata uang Asia ikut menopang pergerakan rupiah.
Mengutip Antara, rupiah dibuka di level Rp17.690 per dolar AS. Posisi tersebut naik 4 poin atau 0,02% dari penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Rully melihat penurunan harga minyak global dan penguatan mata uang regional sebagai dua faktor utama yang mendukung rupiah. Sentimen tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk menguat di tengah tekanan pasar global.
Harga Minyak Brent Anjlok
Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 13% hingga berada di bawah US$90 per barel. Rully menilai perlambatan ekonomi global menjadi salah satu penyebab penurunan tersebut.
Sejumlah bank sentral dunia masih menjalankan kebijakan moneter ketat. Kebijakan tersebut dapat menekan aktivitas ekonomi dan mengurangi permintaan energi global.
Pasar kemudian merespons kondisi tersebut dengan menurunkan harga minyak. Pergerakan harga energi juga menjadi perhatian bagi pasar keuangan Indonesia.
Penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan biaya impor energi. Kondisi ini berpotensi membantu menjaga stabilitas eksternal Indonesia dan mendukung pergerakan rupiah.
Defisit Neraca Berjalan Menyempit
Pelaku pasar juga memantau kondisi ekonomi Indonesia, terutama kinerja neraca berjalan.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit US$0,9 miliar pada kuartal II 2026. Angka tersebut turun tajam dari defisit US$9,1 miliar pada kuartal I 2026.
Meski defisit menyempit, Rully tetap meminta pasar mencermati sumber aliran dana yang masuk ke Indonesia.
Pasar keuangan Indonesia masih menerima aliran modal jangka pendek atau hot money. Investor biasanya memindahkan dana tersebut dengan cepat untuk mencari imbal hasil yang lebih menarik.
Rully mengatakan kenaikan yield obligasi pemerintah AS, terutama surat utang jangka panjang, ikut memengaruhi arus modal.
“Hot money sangat deras masuk ke pasar keuangan Indonesia,” ujar Rully, dikutip dari Antara.
Kenaikan yield Treasury dapat membuat investor mengalihkan dana ke aset AS. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menguat pada Jumat
Rupiah juga menguat pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026). Rupiah naik 54 poin atau 0,30% ke level Rp17.694 per dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.748 per dolar AS.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan penguatan rupiah.
BI mencatat JISDOR pada Jumat berada di level Rp17.705 per dolar AS. Angka tersebut menguat dari posisi sebelumnya sebesar Rp17.779 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga ikut menopang rupiah.
BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Amru, dikutip dari Antara.
Menurut Amru, keputusan BI memberikan sentimen positif bagi rupiah. Kebijakan tersebut juga membantu pasar menghadapi berbagai tekanan dari pasar global.
Dolar AS Masih Jadi Perhatian
Investor masih memantau pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury.
Dolar AS sempat melemah setelah Pemerintah AS mengumumkan peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang. Namun, pelemahan tersebut tidak berlangsung lama.
Imbal hasil Treasury kemudian kembali naik. Kondisi itu memberikan dukungan terhadap dolar AS dan memengaruhi pergerakan mata uang negara lain.
Investor juga mencermati risiko inflasi dan kondisi fiskal Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS.
Karena itu, pasar terus menunggu sinyal dari The Federal Reserve. Perubahan kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan rupiah.
Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah suku bunga.
Amru mengatakan perbedaan pandangan tersebut membuat investor terus mencermati prospek kebijakan moneter AS. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat menggerakkan dolar AS, arus modal global, dan nilai tukar rupiah.
Penulis : Vendra
Editor : vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









