Jakarta, Britakini.com – Sejumlah sentimen global dan domestik akan memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina, menyebut tiga faktor yang perlu investor cermati. Faktor tersebut meliputi arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), harga minyak dunia, dan rebalancing indeks MSCI.
Pidato Ketua The Fed Jadi Perhatian Investor
Investor akan mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Jackson Hole. Pidato tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).
“Kalau di pekan ini kalau kita lihat itu ada pidato dari Gubernur The Fed sekarang, jadi Chairman The Fed yang akan menentukan nih bagaimana sentimen terkait dengan suku bunga,” kata Martha dalam program Obrolan Saham Kompas.com, dikutip Selasa (25/8/2026).
Namun, Martha menilai investor belum tentu mendapatkan sinyal kuat mengenai kebijakan The Fed berikutnya.
Menurutnya, Kevin Warsh cenderung tidak banyak memberikan petunjuk mengenai kebijakan pada masa mendatang. Ia justru mendorong pasar untuk mencermati perkembangan data ekonomi.
“Jadi memang kalau kita lihat di masa dia kemungkinan memang akan lebih kurang sinyal-sinyal gitu ya untuk langkah-langkah The Fed ke depan,” ujarnya.
Karena itu, investor perlu mencermati data inflasi dan Personal Consumption Expenditures (PCE). Pasar akan menggunakan kedua data tersebut sebagai bahan pertimbangan sebelum The Fed menggelar pertemuan pada September.
Harga Minyak Berpotensi Menahan Inflasi
Selain kebijakan The Fed, investor juga perlu memantau pergerakan harga minyak dunia.
Martha menyebut harga minyak masih berada pada level tinggi. Harga minyak Brent bahkan masih bertahan di atas 90 dollar AS per barrel.
Harga minyak yang tinggi dapat mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam menentukan suku bunga.
“Harga minyak tuh saat ini Brent masih di atas 90 dollar AS, itu masih di level yang sangat tinggi, karena kenaikan atau bertahannya minyak di harga tinggi itu kan akan terus membuat inflasi itu bertahan di level tinggi,” kata Martha.
Jika inflasi terus bertahan tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Rebalancing MSCI Masih Membayangi IHSG
Dari dalam negeri, investor akan memantau rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Agustus.
Sebelumnya, isu MSCI sempat menekan pasar saham Indonesia. Namun, tekanan tersebut mulai mereda pada pekan ketiga Agustus.
Martha mencatat investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih atau net buy sekitar Rp 500 miliar pada periode tersebut.
“Isu terkait MSCI sudah mulai reda setelah minggu kedua kemarin cukup gencar gitu ya net sell juga. Minggu ketiga kemarin, Agustus ini, itu relatif lebih stabil,” ujarnya.
Kembalinya dana asing memberikan sinyal positif bagi IHSG. Meski begitu, Martha mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati karena arus dana asing belum menunjukkan pola yang stabil.
IHSG Berpeluang Mengalami Profit Taking
Martha juga melihat posisi IHSG di sekitar level 6.500 membuka peluang terjadinya aksi ambil untung atau profit taking.
Investor berpotensi melepas saham yang sudah menguat, terutama menjelang akhir pekan.
“Jadi kita masih melihat bahwa akan rawan profit taking di pekan ini gitu ya, khususnya nanti di akhir pekan,” ucapnya.
Untuk perdagangan pekan ini, Martha memperkirakan IHSG memiliki level support 6.400 dan resistance 6.600.
Jika IHSG mampu menembus level 6.600, indeks berpeluang melanjutkan penguatan.
Sebaliknya, investor perlu mewaspadai jika IHSG menembus level 6.200. Pelemahan tersebut dapat membuka ruang bagi IHSG untuk bergerak menuju level di bawah 6.000. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : vendra
Sumber Berita: kompas.com









