Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026).
Data Refinitiv menunjukkan rupiah melemah 0,26% ke level Rp17.405/US$. Sejak awal perdagangan, pelaku pasar langsung menekan rupiah. Pada pembukaan pagi, pelaku pasar mendorong rupiah turun 0,06% ke Rp17.370/US$, lalu melanjutkan tekanan hingga penutupan sore.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat. Indeks ini mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia dan naik 0,10% ke level 98,001 pada pukul 15.00 WIB.
Penguatan dolar AS mendorong pelemahan rupiah sepanjang hari. Investor meningkatkan permintaan dolar karena mereka mencari aset safe haven.
Ketidakpastian global memicu sentimen tersebut. Pelaku pasar belum menemukan titik terang dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama 10 pekan.
Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Washington dan menyebut respons tersebut “totally unacceptable” atau tidak dapat diterima.
Sebelumnya, Iran menawarkan pengalihan sebagian stok uranium yang telah diperkaya tinggi ke negara ketiga. Namun, pemerintah Iran tetap mempertahankan infrastruktur nuklirnya dan menolak membongkarnya.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat keyakinan konsumen tetap kuat pada April 2026. Survei Konsumen menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 123,0, naik tipis dari 122,9 pada bulan sebelumnya.
Peningkatan ini terjadi karena masyarakat menilai kondisi ekonomi saat ini semakin baik. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 116,5 dari 115,4.
Sementara itu, masyarakat tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi ke depan meskipun sedikit menurun. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat sebesar 129,6, turun dari 130,4 pada bulan sebelumnya. (Ven*)









