Jakarta, Britakini.com — Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa kasus penyakit ginjal kronis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, ia menyoroti konsumsi minuman manis sebagai penyebab utama kerusakan ginjal.
Kebiasaan Minuman Manis pada Anak
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, lebih dari 50 persen anak usia 3–14 tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari. Oleh karena itu, kelompok ini mencatat angka tertinggi dibandingkan kelompok usia lain.
Secara rinci, anak usia 3–4 tahun mencapai 51,4 persen. Selanjutnya, usia 5–9 tahun mencatat 53,0 persen. Sementara itu, usia 10–14 tahun mencapai 50,7 persen. Adapun rata-rata nasional berada di angka 47,5 persen.
Dampak Gula Berlebih pada Ginjal
Dr. Nadia menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko gangguan ginjal. Selain itu, gula tinggi juga menaikkan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu obesitas, resistensi insulin, diabetes, dan hipertensi.
Dengan demikian, faktor-faktor tersebut mempercepat kerusakan ginjal kronis.
Beban Kerja Ginjal Meningkat
Pada dasarnya, ginjal menyaring darah dan membuang zat sisa. Namun, saat tubuh terus menerima gula berlebih, ginjal bekerja lebih keras.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu membatasi konsumsi gula. WHO merekomendasikan maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per hari.
Pasien Semakin Muda
Di sisi lain, dr. Nadia melihat tren pasien ginjal bergeser ke usia lebih muda. Kini, banyak pasien berusia sekitar 30 tahun sudah mengalami gagal ginjal.
Jika dibandingkan, kondisi ini berbeda dengan 10 tahun lalu. Saat itu, penyakit ini lebih sering menyerang usia di atas 50 tahun.
Pentingnya Deteksi Dini
Untuk itu, pemerintah mendorong masyarakat menjalani cek kesehatan gratis (CKG) setiap tahun. Langkah ini membantu mendeteksi penyakit lebih awal.
Pasalnya, hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol sering memicu gagal ginjal. Namun, banyak pasien tidak menyadari kondisi tersebut hingga akhirnya membutuhkan cuci darah.
Dampak pada Pembiayaan Kesehatan
Selain berdampak pada kesehatan, peningkatan kasus juga membebani pembiayaan. Data BPJS Kesehatan periode 2019–2025 menunjukkan biaya penyakit ginjal naik lebih dari 400 persen.
Sebagai perbandingan, stroke dan penyakit jantung hanya meningkat sekitar 38–40 persen. Oleh karena itu, beban biaya penyakit ginjal jauh lebih besar.
Pada akhirnya, pada 2025 BPJS Kesehatan mengeluarkan sekitar Rp13 triliun untuk menangani gagal ginjal. (Ven*)









