Jakarta, Britakini.com – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan awal Juni 2026. Data Refinitiv menunjukkan pelaku pasar mendorong rupiah naik 0,20% ke level Rp17.830/US$ pada Selasa (2/6/2026). Penguatan ini sekaligus menghentikan tren pelemahan selama lima hari berturut-turut.
Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari
Sepanjang hari, rupiah bergerak fluktuatif. Pada pembukaan, pelaku pasar mengangkat rupiah ke level Rp17.850/US$ atau menguat 0,08%. Tekanan kemudian muncul dan mendorong rupiah melemah hingga Rp17.892/US$. Menjelang penutupan, sentimen kembali membaik sehingga pelaku pasar membawa rupiah berbalik menguat dan ditutup di zona positif.
Pengaruh Faktor Global
Pelemahan dolar AS di pasar global memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat, termasuk rupiah. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,12% ke level 99,081 pada pukul 15.00 WIB. Penurunan ini mengurangi tekanan eksternal dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Kebijakan Bank Indonesia
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas rupiah dengan langkah aktif di pasar valuta asing. BI mengkalibrasi kebijakan dengan memperketat aturan transaksi. Bank sentral menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying dari US$100.000 menjadi US$50.000 sejak April 2026. Selanjutnya, BI kembali menurunkan batas tersebut menjadi US$25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026 untuk menekan permintaan spekulatif.
BI juga memperluas fleksibilitas di pasar derivatif. Untuk transaksi forward jual dan swap tanpa underlying, BI menaikkan batas hingga US$10 juta per transaksi. Selain itu, otoritas mendorong pelaku pasar menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan bilateral. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT mencapai US$22,61 miliar dan menunjukkan peningkatan penggunaan mata uang lokal.
Tekanan dari Data Perdagangan
Di sisi lain, data perdagangan memberi sinyal kehati-hatian. Badan Pusat Statistik mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia turun tajam menjadi US$90 juta pada April 2026, dari US$3,32 miliar pada Maret. Kenaikan impor sebesar 22,49% menjadi US$25,21 miliar menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Sementara itu, ekspor mencapai US$25,30 miliar dengan pertumbuhan lebih moderat sebesar 21,98%.
Kesimpulan dan Prospek
Kombinasi kebijakan domestik yang aktif dan pelemahan dolar AS berhasil mendorong penguatan rupiah. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan data perdagangan dan dinamika global karena faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (Ven*)









