Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (8/9/2026). Rupiah turun ke level Rp17.645 per dollar AS di pasar spot.
Data Bloomberg mencatat rupiah melemah 5 poin atau 0,03 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Senin (7/9/2026), rupiah berada di level Rp17.640 per dollar AS.
Sementara itu, indeks dollar AS (DXY) justru melemah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,39 persen ke posisi 98,789.
Namun, pelemahan dollar AS belum mampu mengangkat rupiah. Mata uang Garuda masih bergerak terbatas pada awal perdagangan.
Cadangan Devisa Indonesia Meningkat
Indonesia mencatat kenaikan cadangan devisa pada Agustus 2026. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa mencapai 146,5 miliar dollar AS.
Posisi tersebut meningkat 1,2 miliar dollar AS dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski naik, cadangan devisa belum sepenuhnya memperkuat penyangga eksternal Indonesia. Kemampuan cadangan devisa untuk memenuhi kebutuhan impor justru sedikit menurun.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut penerimaan pemerintah menjadi salah satu sumber utama kenaikan cadangan devisa. Penerimaan tersebut berasal dari pajak dan jasa.
Pemerintah juga memperoleh tambahan devisa dari pencairan pinjaman luar negeri.
Pembayaran Utang Beri Tekanan
Mirae Asset Sekuritas mencatat pemerintah masih menghadapi tekanan pembayaran utang luar negeri. Pemerintah juga membutuhkan dana untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Kenaikan cadangan devisa tersebut terjadi di tengah tekanan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi rupiah,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya, Selasa pagi.
Tekanan tersebut membuat cakupan cadangan devisa terhadap kebutuhan impor menurun.
Mirae Asset Sekuritas mencatat cakupan cadangan devisa turun dari 5,5 bulan menjadi 5,4 bulan kebutuhan impor.
Penurunan itu menunjukkan kenaikan cadangan devisa belum sepenuhnya memperkuat penyangga eksternal Indonesia.
“Ketahanan eksternal telah membaik, meskipun keberlanjutannya akan bergantung pada konsistensi dan kualitas arus masuk valuta asing,” lanjut Mirae Asset Sekuritas.
Investor Asing Kembali Masuk
Pasar valuta asing Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Investor asing kembali menempatkan dana pada sejumlah aset keuangan domestik.
Hingga 14 Agustus 2026, Indonesia mencatat arus masuk bersih portofolio sebesar 1,8 miliar dollar AS sepanjang kuartal III 2026.
Investor asing mengalirkan dana tersebut ke beberapa instrumen. SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi dua instrumen yang mendapat aliran dana.
Masuknya dana asing turut mendukung pergerakan rupiah.
Rupiah Sempat Menguat
Rupiah sempat menguat pada 18 Agustus 2026. Saat itu, rupiah naik 0,78 persen secara point-to-point (ptp) menjadi Rp17.855 per dollar AS.
Mirae Asset Sekuritas menilai investor asing kembali masuk setelah pasar melakukan repricing terhadap SBN dan SRBI.
Arus dana tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset berdenominasi rupiah. Kondisi ini kemudian membantu mengurangi tekanan terhadap nilai tukar.
Selain itu, masuknya modal asing mengurangi kebutuhan Bank Indonesia (BI) untuk menggunakan cadangan devisa. BI dapat mengurangi intervensi cadangan devisa ketika tekanan terhadap rupiah mereda.
Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas menilai kenaikan cadangan devisa belum menunjukkan penguatan keseimbangan eksternal secara fundamental.
Defisit Transaksi Berjalan Meningkat
Indonesia masih menghadapi tekanan dari transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan mencapai 12,5 miliar dollar AS atau 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026.
Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia ikut menyusut.
Sepanjang Januari-Juli 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 3,7 miliar dollar AS.
Penurunan surplus perdagangan membuat sumber devisa dari kegiatan perdagangan semakin tipis.
Karena itu, Indonesia semakin membutuhkan arus portofolio dan aliran keuangan lainnya untuk menjaga stabilitas eksternal.
Arus Modal Asing Masih Berisiko
Mirae Asset Sekuritas melihat arus modal asing memberikan dampak positif bagi kondisi eksternal Indonesia. Namun, investor asing dapat mengalihkan dananya dengan cepat ketika risiko global meningkat.
“Hal ini membuat kualitas akumulasi cadangan devisa masih lebih rentan mengalami pembalikan dibandingkan jika didukung pemulihan transaksi berjalan yang berkelanjutan,” lanjut Mirae Asset Sekuritas.
Karena itu, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan arus modal portofolio untuk memperkuat cadangan devisa dalam jangka panjang.
Indonesia juga perlu memperbaiki transaksi berjalan. Langkah tersebut dapat membuat penyangga eksternal lebih kuat dan berkelanjutan.
Cadangan Devisa Diprediksi Stabil
Mirae Asset Sekuritas memperkirakan cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang memadai dalam jangka pendek. Lembaga tersebut juga melihat peluang cadangan devisa tetap stabil atau meningkat.
Imbal hasil SBN dan SRBI yang relatif menarik menjadi salah satu faktor pendukung. Imbal hasil tersebut dapat menarik investor asing untuk kembali menempatkan dana di Indonesia.
Namun, Indonesia masih menghadapi tekanan dari transaksi berjalan.
Bank Indonesia memproyeksikan defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 berada pada kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB.
Mirae Asset Sekuritas menilai proyeksi tersebut menunjukkan peluang normalisasi transaksi berjalan pada semester II 2026.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan dari arus portofolio.
Perbaikan transaksi berjalan juga dapat meningkatkan kualitas cadangan devisa. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memperkuat penyangga eksternal Indonesia.
Penguatan penyangga eksternal juga dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : vendra
Sumber Berita: kompas.com









