Jakarta, Britakini.com – Goldman Sachs tetap melihat prospek positif pada harga emas. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$5.400 per ons pada akhir 2027.
Proyeksi itu tetap bertahan setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pekan ini. Para ekonom juga memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Analis Goldman Sachs Lina Thomas mengatakan kenaikan suku bunga hanya akan memperlambat kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Menurut Thomas, kebijakan tersebut tidak akan menghentikan tren kenaikan harga emas dalam jangka panjang.
“Karena itu, kami memperkirakan dampak kebijakan moneter yang lebih ketat terutama akan terasa melalui kenaikan harga yang lebih lambat dalam jangka pendek, bukan melalui penurunan harga emas terminal,” kata Thomas seperti dikutip dari Investing.com, Minggu (20/9/2026).
Goldman Sachs Pertahankan Target Harga Emas US$5.400
Goldman Sachs tetap menargetkan harga emas mencapai US$5.400 per ons pada akhir 2027.
Target tersebut menunjukkan Goldman Sachs masih melihat peluang kenaikan harga emas dalam jangka panjang. Namun, bank investasi itu memperkirakan kenaikan harga akan berlangsung lebih lambat dalam jangka pendek.
Goldman Sachs Pangkas Target Harga Emas 2026
Goldman Sachs juga memangkas estimasi nilai wajar harga emas pada akhir 2026. Bank investasi tersebut menurunkan target dari US$4.900 menjadi US$4.650 per ons.
Meski memangkas target tersebut, Goldman Sachs masih menempatkannya di atas harga spot emas terbaru. Harga spot emas kini berada di kisaran US$4.350 per ons.
Thomas mengatakan suku bunga yang lebih tinggi masih dapat menekan harga emas dalam jangka pendek. Tekanan tersebut terutama dapat muncul melalui permintaan terhadap produk exchange-traded fund (ETF).
Namun, Goldman Sachs menilai pasar sudah memperhitungkan sebagian besar dampak pengetatan kebijakan moneter terhadap permintaan ETF.
Suku Bunga The Fed Masih Pengaruhi Harga Emas
Thomas memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada periode September 2027 hingga Maret 2028.
Goldman Sachs menilai skenario tersebut tidak akan mengubah perkiraan suku bunga terminal.
Kondisi itu membuat Goldman Sachs tetap melihat peluang kenaikan harga emas dalam beberapa tahun ke depan.
Bank Sentral Terus Beli Emas
Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan naik secara bertahap dalam jangka pendek.
Thomas menyebut pembelian emas oleh bank sentral sebagai salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Menurut dia, permintaan bank sentral dapat mengimbangi tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi.
“Kami memperkirakan harga emas akan terus bergerak naik secara bertahap dalam jangka pendek,” ujar Thomas.
Goldman Sachs memperkirakan pembelian bank sentral akan menyumbang hampir seluruh potensi kenaikan harga emas sebesar 23 persen hingga akhir 2027.
Bank sentral saat ini membeli sekitar 91 ton emas per bulan. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada rata-rata pembelian sebelum 2022 yang hanya mencapai sekitar 17 ton per bulan.
Permintaan Investasi Jadi Penopang Harga Emas
Thomas menilai risiko pergerakan harga emas masih mengarah ke atas.
Permintaan terhadap call option emas juga tetap kuat. Investor menggunakan instrumen tersebut untuk melindungi aset dari risiko kebijakan makroekonomi.
Meski demikian, Thomas mengingatkan investor terhadap potensi volatilitas harga yang lebih tinggi. Harga emas dapat bergerak lebih tajam ke atas maupun ke bawah.
“Sebaliknya, jalur The Fed yang secara signifikan lebih hawkish dapat memicu koreksi yang lebih tajam dari biasanya,” kata Thomas.
Goldman Sachs tetap mempertahankan proyeksi positif terhadap harga emas dalam jangka panjang. Namun, kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: kompas.com









