Jakarta, Britakini.com – Harga emas dunia bergerak stabil di dekat level terendah dalam sepekan pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar.
Kini, investor mencermati rencana kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed. Mereka menunggu hasil pertemuan bank sentral tersebut pada pekan depan.
Mengutip CNBC, Kamis (22/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi US$ 4.136,22 per ons pada pukul 13.55 waktu setempat atau EDT. Namun, pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 15 Oktober.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$ 4.152,60 per ons.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam Zaner Metals, Peter Grant, menilai pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini. Meski demikian, pasar memperkirakan bank sentral AS baru mengambil langkah tersebut pada Desember.
Grant menjelaskan bahwa peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah menurun cukup signifikan.
“Menurut saya, pasar saat ini memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini. Namun, kenaikan tersebut kemungkinan baru terjadi pada Desember. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober juga telah menurun cukup signifikan,” kata Grant.
Grant memperkirakan harga emas akan bergerak dalam rentang terbatas untuk sementara waktu. Bahkan, ia menilai tekanan jual masih berpotensi melemahkan harga emas dalam jangka pendek.
Investor Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed
Investor kini menunggu pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober. Selain itu, mereka mencermati laporan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pekan depan.
Kedua agenda tersebut dapat membantu investor memprediksi arah kebijakan suku bunga berikutnya. Sementara itu, laporan PCE akan memberikan gambaran mengenai perkembangan inflasi di AS.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 88%.
Hampir seluruh ekonom yang mengikuti survei memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober. Namun, mereka memprediksi bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada Desember.
The Fed kemungkinan memilih pendekatan hati-hati sebelum mengambil keputusan. Meski begitu, tekanan inflasi yang masih bertahan dapat mendorong bank sentral menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kondisi tersebut turut memengaruhi daya tarik emas. Selama ini, investor membeli emas untuk melindungi nilai aset dari inflasi. Akan tetapi, kenaikan suku bunga dapat mengurangi minat terhadap logam mulia tersebut.
Pasalnya, investor bisa mengalihkan dana ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Akibatnya, kenaikan suku bunga berpotensi menekan harga emas.
Harga Minyak Naik, Kekhawatiran Inflasi Menguat
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 108 per barel pada perdagangan Rabu. Pada saat yang sama, pernyataan Iran mengurangi harapan pasar terhadap terobosan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Jika harga energi terus naik, biaya produksi dan transportasi juga dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Tekanan inflasi yang lebih tinggi dapat memengaruhi keputusan The Fed. Bank sentral AS mungkin mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkannya untuk mengendalikan inflasi.
Situasi ini membuat investor harus mempertimbangkan beberapa faktor sebelum mengambil keputusan investasi. Mereka perlu mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, dan arah kebijakan moneter AS.
Analis UBS Prediksi Harga Emas Masih Berkonsolidasi
Analis UBS, Giovanni Staunovo, memperkirakan harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi jangka pendek. Ia melihat investor tetap menunjukkan minat beli ketika harga emas turun di bawah US$ 4.100 per ons.
Menurut Staunovo, minat beli tersebut dapat membantu menopang harga emas. Namun, konflik di Timur Tengah masih membatasi peluang kenaikan harga dalam waktu dekat.
“Saya masih percaya bahwa dalam jangka pendek, emas berada dalam fase konsolidasi. Setiap kali harga turun di bawah US$ 4.100 per ons, pembeli cenderung masuk ke pasar dan membantu menopang harga. Namun, potensi kenaikannya masih terbatas selama konflik di Timur Tengah terus menjadi perhatian,” ujar Staunovo.
Pernyataan Staunovo menegaskan bahwa ketegangan geopolitik masih memengaruhi pergerakan harga emas. Di satu sisi, penurunan harga dapat menarik investor untuk membeli emas dengan harga lebih rendah.
Namun, ketidakpastian inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed masih membatasi potensi penguatan harga. Karena itu, investor perlu mengikuti perkembangan pasar secara cermat.
Dalam jangka pendek, pergerakan harga minyak, data inflasi AS, dan hasil pertemuan The Fed akan menjadi perhatian utama pasar. Ketiga faktor tersebut dapat menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









