Jakarta, Britakini.com — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/10) pagi. Rupiah turun 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.948 per dolar AS. Kenaikan inflasi AS turut menekan pergerakan mata uang Garuda.
Inflasi AS Menekan Rupiah
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini. Data inflasi konsumen AS yang melampaui perkiraan mendorong pasar memperkirakan kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Kenaikan ekspektasi suku bunga dapat memperkuat dolar AS. Investor cenderung mempertimbangkan aset berbasis dolar ketika mereka memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Lukman menyampaikan bahwa kenaikan inflasi konsumen AS menjadi pemicu pelemahan rupiah pada awal perdagangan.
“Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan pada inflasi konsumen AS yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kenaikan pada ekspektasi suku bunga The Fed,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/10).
Investor Menanti Data Inflasi Produsen AS
Selain memantau inflasi konsumen, investor juga menunggu data inflasi produsen AS. Pihak terkait menjadwalkan rilis data tersebut pada Kamis malam waktu setempat.
Data inflasi produsen dapat membantu investor menilai tekanan harga di Amerika Serikat. Hasilnya juga dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati data tersebut sebelum menentukan langkah investasi berikutnya. Perubahan ekspektasi suku bunga juga dapat memengaruhi permintaan dolar AS di pasar valuta asing.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Sejumlah mata uang Asia mencatat penguatan terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, dan dolar Singapura naik 0,21 persen. Yen Jepang juga menguat 0,37 persen, sedangkan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.
Namun, beberapa mata uang Asia justru melemah. Peso Filipina turun 0,36 persen, sementara won Korea Selatan merosot 0,91 persen.
Di kelompok negara maju, franc Swiss menguat 0,62 persen. Euro naik 0,45 persen dan pound sterling menguat 0,29 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,33 persen dan dolar Kanada turun 0,01 persen.
Rupiah Berpotensi Menyentuh Rp18.000
Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.
Investor akan terus memantau perkembangan inflasi AS dan arah kebijakan The Fed. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan dolar AS serta menentukan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan berikutnya. (ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: cnnindonesia.com









