JAKARTA, Britakini.com — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus meninggalkan marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop. Kenaikan biaya logistik serta potongan komisi (take rate) mendorong banyak penjual beralih ke kanal lain yang lebih menguntungkan.
Akibatnya, pelaku UMKM kini semakin selektif. Mereka aktif menghitung efisiensi biaya sekaligus mempertimbangkan margin keuntungan sebelum menentukan platform penjualan.
Kemendag Tegaskan Transaksi Digital Tetap Tumbuh
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, memastikan transaksi digital nasional akan terus tumbuh. Ia menegaskan bahwa perpindahan seller tidak secara langsung memengaruhi laju pertumbuhan e-commerce.
Menurutnya, sejumlah faktor lain justru berperan lebih besar. Misalnya, daya beli masyarakat, inovasi platform, serta peningkatan penetrasi digital.
Pemerintah Jaga Keseimbangan Ekosistem Digital
Di sisi lain, Kemendag terus berkoordinasi dengan platform marketplace dan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini bertujuan menjaga ekosistem digital tetap sehat, kompetitif, dan adil.
Selain itu, Iqbal menekankan pentingnya transparansi dan praktik usaha yang adil. Ia juga mendorong platform untuk terus berinovasi, namun tetap menjaga agar pelaku UMKM tidak terbebani secara berlebihan.
Dialog Platform dan Seller Jadi Kunci
Lebih lanjut, pemerintah mendorong platform dan penjual untuk membuka dialog secara aktif. Dengan cara ini, kedua pihak dapat mencari solusi yang saling menguntungkan.
Tidak hanya itu, langkah tersebut juga menciptakan ekosistem perdagangan digital yang lebih kondusif, terutama bagi produk lokal. Oleh karena itu, UMKM perlu menghindari ketergantungan pada satu platform saja.
Strategi Multichannel dan Omnichannel Makin Penting
Seiring perubahan ini, pelaku usaha mulai menerapkan strategi multichannel dan omnichannel. Mereka memanfaatkan berbagai kanal digital, mulai dari media sosial, website sendiri, hingga marketplace alternatif.
Dengan strategi tersebut, UMKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, mereka juga mampu mengurangi risiko ketergantungan pada satu platform.
Indonesia Tetap Jadi Raja E-Commerce Asia Tenggara
Di tengah dinamika ini, Indonesia tetap menunjukkan kekuatan besar di sektor digital. Laporan Momentum Works dalam Ecommerce in Southeast Asia 2026 menempatkan Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di kawasan.
Bahkan, nilai transaksi kotor (GMV) Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang mencapai US$56,5 miliar.
Shopee masih memimpin pasar dengan pangsa 54%. Selanjutnya, TikTok Shop dan Tokopedia menyusul dengan 38%. Sementara itu, Lazada dan Blibli masing-masing melengkapi sisa pangsa pasar. (Ven*)









