Rupiah Tertekan, Pasar Nantikan Inflasi AS dan MSCI

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah melemah terhadap dolar AS.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rupiah melemah terhadap dolar AS.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8/2026). Pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Investor domestik juga menunggu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Mengutip Antara, rupiah turun 8 poin atau 0,04% ke level Rp17.869 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.861 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak konsolidatif sepanjang perdagangan hari ini.

“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam,” ujar Lukman, dikutip dari Antara.

Konflik Iran-AS Pengaruhi Rupiah

Perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat turut memengaruhi pasar keuangan. Mengutip Anadolu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan Iran dan AS hampir mencapai kesepakatan.

Namun, kedua negara masih menghadapi kebuntuan terkait Selat Hormuz.

Pemerintah Pakistan berupaya membantu kedua negara mencari jalan keluar. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi akan membawa sejumlah usulan baru kepada para pemimpin Iran.

Kebuntuan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan dan distribusi energi dunia.

“Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi,” kata Lukman.

Investor Menunggu Inflasi AS

Investor juga memilih sikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS.

Baca Juga :  Emas Antam Tak Bergerak, Harga Tetap Rp 2,69 Juta

Pasar memperkirakan inflasi utama dan inflasi inti akan turun. Inflasi tahunan atau year on year (YoY) diprediksi turun dari 2,6% menjadi 2,5%.

Sementara itu, pasar memperkirakan inflasi inti YoY turun dari 3,5% menjadi 3,4%.

Investor mencermati data tersebut karena hasilnya dapat memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.

Jika inflasi terus melandai, pasar akan kembali memperhitungkan peluang perubahan suku bunga AS. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah.

Pasar Menanti Keputusan MSCI

Investor domestik juga mencermati keputusan MSCI terkait pasar saham Indonesia.

“Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, namun salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan,” ujar Lukman.

Ketidakpastian tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar keuangan.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Rupiah Melemah pada Perdagangan Selasa

Kemarin juga mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Rupiah turun 106 poin atau 0,60% ke level Rp17.861 per dolar AS.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.755 per dolar AS.

Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Kurs JISDOR naik ke level Rp17.824 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.795 per dolar AS.

Lukman menilai hubungan Iran dan AS menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah.

“Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk kembali membuka Selat Hormuz,” kata Lukman, dikutip dari Antara.

Baca Juga :  Harga Emas Pegadaian Hari Ini 4 Juni 2026

Harga Minyak Ikut Menekan Rupiah

Pasar juga mencermati kondisi di sekitar Selat Hormuz. Washington menyatakan jalur perairan tersebut tetap terbuka.

Sebaliknya, Teheran mengklaim telah menutup jalur tersebut dengan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.

Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco.

Houthi juga mengancam membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran. Kelompok tersebut berpotensi menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

“Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah,” ujar Lukman.

Kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, Indonesia masih membutuhkan impor energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sentimen Domestik Tahan Tekanan Rupiah

Sejumlah sentimen domestik membantu menahan tekanan terhadap rupiah. Pasar merespons penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo untuk memimpin Bank Indonesia.

Penunjukan tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor mengenai kesinambungan kepemimpinan bank sentral.

Namun, investor juga mencermati penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Data menunjukkan IKK turun dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026.

Penurunan tersebut menunjukkan berkurangnya optimisme konsumen. Kondisi itu turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Dengan berbagai sentimen tersebut, investor akan mencermati perkembangan geopolitik, data inflasi AS, dan keputusan MSCI untuk menentukan arah rupiah pada perdagangan berikutnya. (Ven*)

Berita Terkait

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi
Harga Emas Antam Turun, Cek Daftar Harga Terbaru
Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat Akibat Inflasi Amerika Serikat
Daftar Tarif Listrik PLN Oktober 2026 untuk Semua Golongan
Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Sinyal Bunga The Fed
Harga Emas Antam Turun, Buyback Merosot Lebih Dalam
Harga Emas Turun Saat Dolar AS Menguat dan Minyak Naik
Aplikasi Penghasil Uang 2026, Begini Cara Mengumpulkan Koin
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:00 WIB

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Antam Turun, Cek Daftar Harga Terbaru

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat Akibat Inflasi Amerika Serikat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Daftar Tarif Listrik PLN Oktober 2026 untuk Semua Golongan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Sinyal Bunga The Fed

Berita Terbaru

Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan meluas di Tahura Orang Kayo Hitam, Jambi.(Foto : Dok.Istimewa)

Jambi

Al Haris Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla di Jambi

Sabtu, 17 Okt 2026 - 03:00 WIB

Yamaha XSR900 2027 hadir dengan warna Neon White yang mengusung nuansa balap era 1990-an untuk pasar Eropa.(Foto : Paultan)

Teknologi

Yamaha XSR900 2027 Usung Warna Neon White Bergaya Retro

Sabtu, 17 Okt 2026 - 01:00 WIB

Yadea GT80 mengandalkan baterai ganda untuk mengejar jarak tempuh lebih dari 180 km dalam sekali pengisian daya.(Foto : Ist)

Teknologi

Yadea GT80 Diklaim Bisa Tempuh 190 Km, Ini Spesifikasinya

Jumat, 16 Okt 2026 - 23:00 WIB

Saham Bank Mandiri (BMRI) mengalami koreksi 8,54% seiring dengan anjloknya IHSG pada sesi pertama perdagangan Jumat (16/10/2026).(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi

Jumat, 16 Okt 2026 - 20:00 WIB

BMKG mendeteksi sebaran asap karhutla dari Kalimantan hingga wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.(Foto : detik.com)

Nasional

Asap Karhutla Capai Pulau Jawa, BMKG Pantau Kualitas Udara

Jumat, 16 Okt 2026 - 18:00 WIB