Jakarta, Britakini.com — Rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dan cenderung melemah ke kisaran Rp17.220–Rp17.260 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/4/2026).
Pergerakan Terakhir Rupiah
RTI Infokom mencatat rupiah menguat 0,33% atau naik 57 poin ke level Rp17.229 per dolar AS pada Jumat (24/4/2026). Di saat yang sama, indeks dolar AS ikut naik tipis 0,04% ke posisi 98,81.
Tekanan Sentimen Global
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat pasar masih menekan rupiah meski sempat menguat. Rupiah sempat turun hingga Rp17.300 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat saat penutupan.
Konflik antara AS dan Iran terus mendorong harga minyak dunia naik. Kenaikan ini membebani fiskal Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Dalam perkembangan terbaru, Iran memilih mundur dari rencana pembicaraan dengan AS yang difasilitasi Pakistan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran. Ia juga menyebut Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu. Namun, pasar belum merespons positif kabar tersebut.
Kondisi Domestik dan Fiskal
Di dalam negeri, pemerintah menghadapi tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi. Meski begitu, pemerintah tetap menjaga kepercayaan pasar dengan memastikan APBN tetap kuat.
Harga minyak dunia kini sudah menembus asumsi makro APBN 2026, yakni di atas US$100 per barel. Namun, pemerintah masih mampu menahan kenaikan harga BBM bersubsidi tanpa menguras anggaran.
Peran Saldo Anggaran Lebih (SAL)
Ibrahim menegaskan pemerintah belum menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp423 triliun untuk menutup subsidi energi. Kondisi ini menunjukkan ruang fiskal masih aman.
Proyeksi Rupiah
Dengan berbagai tekanan tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak naik-turun tetapi cenderung melemah hari ini.
Ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.220–Rp17.260 per dolar AS pada Senin (27/4). Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.180–Rp17.400 per dolar AS. (Ven*)









