Jakarta, Britakini.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam tetap stabil pada perdagangan Minggu (27/9/2026).
Mengutip laman resmi Logam Mulia, Antam menetapkan harga emas sebesar Rp2.613.000 per gram. Harga tersebut tidak berubah dari perdagangan Sabtu.
Antam juga mempertahankan harga buyback di level Rp2.438.000 per gram.
Saat melakukan buyback, Antam membayar pemilik emas sesuai harga beli kembali yang berlaku. Sementara itu, konsumen membayar harga jual ketika membeli emas dari Antam.
Antam sebelumnya sempat mencatat rekor harga tertinggi sepanjang sejarah. Pada Kamis (29/1/2026), harga emas mencapai Rp3.168.000 per gram.
Pada hari yang sama, harga buyback juga mencapai rekor Rp2.989.000 per gram.
Namun, harga emas dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahan tersebut mengikuti pergerakan harga emas dunia dan kondisi pasar.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Antam menawarkan emas dalam berbagai ukuran. Berikut rincian harga pada Minggu (27/9/2026):
- 0,5 gram: Rp1.356.500
- 1 gram: Rp2.613.000
- 2 gram: Rp5.176.000
- 3 gram: Rp7.746.000
- 5 gram: Rp12.880.000
- 10 gram: Rp25.680.000
- 25 gram: Rp64.035.000
- 50 gram: Rp127.905.000
- 100 gram: Rp255.660.000
- 250 gram: Rp638.840.000 (pre-order)
- 500 gram: Rp1.277.400.000 (pre-order)
- 1.000 gram: Rp2.553.600.000 (pre-order)
Harga Emas Dunia Melemah
Pasar global kembali menekan harga emas pada akhir pekan. Harga emas masih berusaha bertahan di sekitar US$4.300 per ons.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik hingga 5,20%. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam dua dekade.
Meski mendapat tekanan, sejumlah analis masih melihat daya tahan emas cukup kuat.
Kitco melaporkan pada Sabtu (26/9/2026) bahwa harga emas spot berada di sekitar US$4.292 per ons. Harga tersebut turun lebih dari 2% dibandingkan posisi pada Jumat pekan sebelumnya.
Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht mengatakan pasar mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan.
Kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut mendorong imbal hasil obligasi AS. Kondisi ini kemudian meningkatkan suku bunga riil.
Akibatnya, investor menghadapi biaya peluang yang lebih besar ketika menyimpan emas.
Meski begitu, Commerzbank melihat harga emas masih berada pada level tinggi. Dua bulan sebelumnya, harga emas masih berjuang mempertahankan posisi di sekitar US$4.000 per ons.
Saat itu, imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga masih berada pada level yang lebih rendah.
Investor Jangka Panjang Tetap Pegang Emas
Barbara Lambrecht juga melihat investor jangka panjang masih mempertahankan investasi emas melalui exchange-traded fund atau ETF.
Menurut Lambrecht, kondisi tersebut menunjukkan investor belum meninggalkan emas. Karena itu, Commerzbank memperkirakan koreksi harga emas masih memiliki ruang yang terbatas.
Neil Welsh, Kepala Logam Britannia Global Markets, juga melihat sejumlah faktor masih menopang harga emas.
Bank sentral terus melakukan pembelian emas dalam jumlah besar. Selain itu, ketegangan geopolitik masih memberikan dukungan terhadap permintaan emas.
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal juga ikut memengaruhi pasar. Situasi tersebut dapat mendorong investor mencari emas sebagai aset lindung nilai.
Pasar Saham Turut Memengaruhi Harga Emas
Joy Yang, Global Head of Index Product Management di MarketVector Indexes, melihat faktor lain yang mendukung permintaan emas.
Menurut Yang, rendahnya volatilitas pasar saham turut memberikan ruang bagi investor untuk menggunakan emas sebagai pelindung aset.
Indeks S&P 500 masih berada dekat rekor tertinggi. Indeks tersebut bahkan bertahan di atas 7.000 poin ketika inflasi dan imbal hasil obligasi meningkat.
Yang melihat sebagian investor saham masih mempertahankan posisinya meskipun risiko di pasar obligasi meningkat.
Di sisi lain, sebagian investor memilih emas sebagai instrumen lindung nilai. Mereka kini menunggu perkembangan inflasi sebelum menentukan langkah investasi selanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga emas masih akan menjadi perhatian pasar. Investor akan mencermati arah suku bunga AS, imbal hasil obligasi, inflasi, pembelian bank sentral, dan perkembangan geopolitik. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









