Cadangan Emas Bank Sentral Naik, Ini Strategi Investasinya

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cadangan emas menjadi bagian penting dalam strategi bank sentral menghadapi inflasi dan risiko geopolitik.(Foto : Ilustrasi emas. (Freepik)

Cadangan emas menjadi bagian penting dalam strategi bank sentral menghadapi inflasi dan risiko geopolitik.(Foto : Ilustrasi emas. (Freepik)

Jakarta, Britakini.com – Emas kembali menjadi bagian dari strategi pengelolaan cadangan bank sentral. Sejumlah bank sentral kini menggunakan emas bukan hanya sebagai aset investasi. Mereka juga memanfaatkan emas untuk menghadapi risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

Tren tersebut terlihat dari aktivitas pembelian emas sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang dikutip Minggu (6/9/2026), bank sentral mencatat pembelian bersih atau net buying emas sebesar 23 ton pada Juli 2026.

Hingga Juli 2026, bank sentral yang melaporkan aktivitasnya telah membeli sekitar 130 ton emas. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan pembelian sekitar 160 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, sejumlah bank sentral tetap aktif menambah cadangan emas. Beberapa negara berkembang bahkan terus meningkatkan kepemilikannya.

China Tambah 20 Ton Emas

China menjadi salah satu negara yang paling aktif membeli emas. People’s Bank of China (PBoC) membeli 20 ton emas pada Juli 2026.

Pembelian tersebut melanjutkan tren selama 21 bulan berturut-turut. Dengan tambahan itu, China telah membeli sekitar 60 ton emas sepanjang 2026.

Kini, China memiliki cadangan emas sekitar 2.366 ton. Jumlah tersebut mencapai sekitar 8 persen dari total cadangan negara.

Data global juga menempatkan China sebagai pemegang cadangan emas terbesar keenam di dunia.

Polandia mencatat pembelian emas yang lebih besar. National Bank of Poland membeli 8 ton emas pada Juli 2026.

Sepanjang 2026, bank sentral Polandia telah membeli 90 ton emas. Total kepemilikan emas Polandia kini mencapai 640 ton.

Jumlah tersebut semakin mendekati target 700 ton. Emas juga mencakup sekitar 28 persen dari total cadangan Polandia.

Korea Selatan Kembali Alokasikan Emas

Bank of Korea (BOK) mengambil langkah yang cukup mencolok. Setelah 13 tahun, bank sentral Korea Selatan kembali mengalokasikan dana untuk emas.

BOK menempatkan dana tersebut melalui exchange traded funds (ETF). Nilai alokasinya mencapai sekitar 250 juta dollar AS atau setara dengan sekitar 2 ton emas.

BOK juga menyiapkan langkah berikutnya. Bank sentral Korea Selatan berencana membeli emas yang dimurnikan di dalam negeri.

Menurut WGC, BOK mengambil langkah tersebut untuk mendiversifikasi cadangan. Bank sentral Korea Selatan juga ingin melindungi cadangan dari risiko inflasi dan geopolitik.

Keputusan BOK menunjukkan perubahan strategi dalam mengelola cadangan. Bank sentral kini tidak hanya memandang emas sebagai aset investasi.

Baca Juga :  Rupiah Hari Ini Menguat, Investor Pantau Harga Minyak

Mereka juga menggunakan emas untuk mengelola risiko ekonomi dan geopolitik.

WGC mencatat perkembangan positif tersebut dalam laporan aktivitas bank sentral sepanjang Juli 2026.

Namibia Tingkatkan Target Cadangan Emas

Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang meningkatkan perhatian terhadap emas.

Bank of Namibia juga menaikkan target kepemilikan emas. Bank tersebut ingin meningkatkan porsi emas dalam cadangan dari 1 persen menjadi 3 persen pada akhir Maret 2027.

Untuk mencapai target itu, Bank of Namibia menandatangani perjanjian pembelian emas pada Maret 2026.

Bank sentral Namibia bekerja sama dengan QKR Namibia Navachab, perusahaan pertambangan lokal, dalam rencana pembelian tersebut.

Geopolitik Ubah Strategi Penyimpanan Emas

Bank sentral kini tidak hanya memperhatikan jumlah emas yang mereka miliki. Mereka juga mulai memperhatikan lokasi penyimpanan emas.

WGC menemukan perubahan tersebut melalui survei 2026 terhadap 68 bank sentral. Survei itu melibatkan 16 bank sentral dari negara maju dan 52 bank sentral dari negara berkembang.

Hasil survei menunjukkan sejumlah bank sentral ingin menambah penyimpanan emas di dalam negeri. Sebagian lainnya ingin menyebarkan penyimpanan emas ke beberapa lokasi di luar negeri.

Mereka berencana melakukan perubahan tersebut dalam 12 bulan berikutnya.

Venezuela memberikan contoh nyata mengenai pentingnya lokasi penyimpanan emas.

Pemerintah Venezuela meminta repatriasi sekitar 4 miliar dollar AS cadangan emas dari Bank of England.

Venezuela mengajukan permintaan tersebut saat pemerintah membangun kembali infrastruktur setelah gempa bumi pada 2026.

Menurut WGC, Venezuela tidak dapat mengakses cadangan emasnya sejak 2018. Pemerintah Inggris menolak mengakui pemerintahan sosialis Venezuela.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil 2026 Central Banks Gold Reserves Survey dari WGC.

Survei tersebut menunjukkan semakin banyak bank sentral yang ingin menyimpan emas di dalam negeri. Mereka juga ingin mendiversifikasi lokasi penyimpanan di luar negeri.

Artinya, bank sentral kini tidak hanya menghitung jumlah emas dalam cadangan. Mereka juga mempertimbangkan lokasi penyimpanan dan akses terhadap aset tersebut.

Tidak Semua Bank Sentral Membeli Emas

Meski banyak bank sentral menambah emas, setiap negara memiliki strategi berbeda.

Rusia justru menjadi penjual bersih terbesar pada Juli 2026. Bank sentral Rusia menjual 6 ton emas pada bulan tersebut.

Sepanjang 2026, Rusia telah menjual sekitar 50 ton emas. Penjualan tersebut membuat total kepemilikan emas Rusia turun menjadi 2.277 ton.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Fluktuatif Sepanjang Sepekan

Turkiye juga menjual emas. Bank sentral Turkiye melepas 1 ton emas pada Juli 2026.

Sepanjang tahun ini, Turkiye telah menjual sekitar 85 ton emas.

Uzbekistan juga menjual 1 ton emas pada Juli 2026. Namun, secara kumulatif, negara tersebut masih membeli 40 ton emas sepanjang 2026.

Uzbekistan Simpan 87 Persen Cadangan dalam Emas

Uzbekistan memiliki porsi emas yang sangat besar dalam cadangan negaranya.

Total kepemilikan emas Uzbekistan mencapai sekitar 431 ton. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 87 persen dari total cadangan negara.

Gubernur Bank Sentral Uzbekistan Timur Ishmetov sebelumnya mengatakan emas mencatat kinerja investasi yang sangat baik.

Namun, bank sentral tetap mempertimbangkan penjualan sebagian emas. Mereka akan menjual emas ketika harga mencapai level yang menguntungkan.

Bank sentral akan memasukkan langkah tersebut ke dalam strategi pengelolaan cadangan secara keseluruhan.

“Emas ternyata menjadi investasi terbaik sejauh ini,” kata Ishmetov, sebagaimana dikutip WGC.

Ishmetov juga mengatakan bank sentral sedang mempertimbangkan penjualan emas pada harga yang menguntungkan.

Emas Jadi Pelindung dari Risiko Ekonomi

Perkembangan di Korea Selatan, China, Polandia, Namibia, dan Venezuela menunjukkan beragam strategi bank sentral dalam mengelola emas.

BOK menggunakan emas untuk mendiversifikasi cadangan. Bank sentral Korea Selatan juga memanfaatkan emas untuk menghadapi risiko inflasi dan geopolitik.

Venezuela menghadapi persoalan yang berbeda. Negara tersebut lebih fokus pada akses dan lokasi penyimpanan cadangan emas.

Sementara itu, Polandia dan China terus menambah kepemilikan emas.

Uzbekistan mengambil pendekatan berbeda. Negara tersebut memiliki porsi emas yang sangat besar dalam cadangan.

Karena itu, bank sentral Uzbekistan mempertimbangkan penjualan emas ketika harga mencapai level yang menguntungkan.

Secara keseluruhan, data WGC menunjukkan bank sentral masih menjadi pembeli bersih emas pada Juli 2026.

Bank sentral mencatat pembelian bersih sebesar 23 ton pada bulan tersebut. China dan Polandia menjadi pembeli terbesar.

Di sisi lain, Rusia dan Turkiye menjadi penjual besar sepanjang tahun.

Perbedaan tersebut menunjukkan setiap bank sentral memiliki strategi sendiri dalam mengelola cadangan emas.

Namun, tren global menunjukkan emas tetap memegang peran penting. Bank sentral memanfaatkan emas untuk menghadapi risiko inflasi, menjaga diversifikasi cadangan, dan menghadapi ketidakpastian geopolitik. (Ven*)

Penulis : Vendra

Editor : vendra

Sumber Berita: kompas.com

Berita Terkait

Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Sinyal Bunga The Fed
Harga Emas Antam Turun, Buyback Merosot Lebih Dalam
Harga Emas Turun Saat Dolar AS Menguat dan Minyak Naik
Aplikasi Penghasil Uang 2026, Begini Cara Mengumpulkan Koin
MotoGP Mandalika Jadi Peluang UMKM Lombok Perluas Pasar
Harga Emas Antam Minggu Ini Tetap, Buyback Rp2,4 Juta
Harga Emas Antam Menguat, Ini Rincian Pergerakan Sepekan
Industri Ritel Indonesia Perkuat Distribusi dan Kolaborasi UMKM
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Antam Turun, Buyback Merosot Lebih Dalam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Turun Saat Dolar AS Menguat dan Minyak Naik

Senin, 12 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Aplikasi Penghasil Uang 2026, Begini Cara Mengumpulkan Koin

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:00 WIB

MotoGP Mandalika Jadi Peluang UMKM Lombok Perluas Pasar

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Emas Antam Minggu Ini Tetap, Buyback Rp2,4 Juta

Berita Terbaru

DLH Kerinci mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Kerinci

Kualitas Udara Kerinci Memburuk, DLH Minta Warga Waspada

Selasa, 13 Okt 2026 - 23:00 WIB

Pemilik mengisi daya mobil listrik menggunakan perangkat pengisian daya di rumah.(Foto : Liputan6.com/Fery Pradolo)

Teknologi

Riset Ungkap Usia Pakai Baterai Mobil Listrik Terbaru

Selasa, 13 Okt 2026 - 21:00 WIB

Mitsubishi New Xforce ICE menawarkan mesin 1.5L MIVEC, transmisi CVT, serta fitur keselamatan dan kenyamanan untuk menunjang aktivitas harian. (Foto : Liputan6.com/Septian Pamungkas)

Teknologi

Mitsubishi New Xforce ICE Cocok untuk SUV Pertama

Selasa, 13 Okt 2026 - 19:00 WIB

Prabowo meninjau kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). (Liputan6.com/Lizsa Egeham).

Nasional

Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel untuk Padamkan Karhutla

Selasa, 13 Okt 2026 - 17:00 WIB

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera Selatan menyisakan titik panas serta memicu sebaran asap yang mengancam kualitas udara. (Foto : MUDA SAGALA/AFP)

Nasional

Karhutla Sumsel dan Kalimantan Meluas, Asap Ancam Kesehatan

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:00 WIB