Jakarta, Britakini.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026). Tekanan dari bursa saham Asia Pasifik turut menyeret pergerakan IHSG ke zona merah. Bahkan, seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan pelemahan pada awal perdagangan.
Mengutip data RTI, IHSG membuka perdagangan dengan penurunan 0,35% ke level 5.039,53. Tekanan jual kemudian semakin meningkat. Pada pukul 09.06 WIB, IHSG terkoreksi 0,90% ke posisi 5.009.
Selanjutnya, pada pukul 09.17 WIB, IHSG kembali melemah 1% ke level 5.006. Indeks saham LQ45 juga mengalami penurunan 0,50% menjadi 512,37. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual turut memengaruhi mayoritas indeks saham.
Pada awal sesi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.044,54. Namun, aksi jual investor kemudian membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah 4.961,51.
Data perdagangan menunjukkan bahwa mayoritas saham bergerak di zona merah. Sebanyak 443 saham mengalami penurunan harga. Sebaliknya, hanya 127 saham yang berhasil menguat, sedangkan 116 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Pelaku pasar mencatat frekuensi perdagangan sebanyak 146.182 kali. Sementara itu, volume transaksi mencapai 3,6 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp 1,2 triliun.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat bergerak di kisaran Rp 18.138.
Seluruh Sektor Saham Kompak Melemah
Tekanan jual menyentuh seluruh sektor saham pada perdagangan awal pekan. Sektor barang baku atau basic mencatatkan pelemahan terbesar, yakni 2,44%.
Selanjutnya, sektor energi turun 2,35%. Sektor industri juga mengalami penurunan sebesar 2,30%. Sementara itu, sektor kesehatan terkoreksi 2,1%.
Tekanan juga melanda sektor transportasi yang melemah 1,78%. Kemudian, sektor properti turun 1,58% dan sektor konsumer siklikal terkoreksi 1,45%.
Selain itu, sektor infrastruktur mencatatkan penurunan 1,24%. Sektor teknologi menyusul dengan pelemahan 1,23%.
Adapun sektor konsumer nonsiklikal turun 0,66%. Sementara itu, sektor keuangan melemah 0,67%.
Saham BRIS, CDIA, dan BRPT Melemah, BBCA Menguat
Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham mencatatkan pergerakan yang berbeda. Saham BRIS, CDIA, dan BRPT mengalami pelemahan. Sebaliknya, saham BBCA berhasil mempertahankan penguatan pada awal perdagangan.
Saham BRIS Turun 0,50%
Saham BRIS mengakhiri pergerakan awal perdagangan dengan pelemahan 0,50% ke harga Rp 1.000 per saham. Sebelumnya, saham ini sempat membuka perdagangan dengan kenaikan 15 poin ke level Rp 1.020 per saham.
Selama sesi perdagangan, BRIS mencatatkan harga tertinggi Rp 1.020 dan harga terendah Rp 990 per saham.
Aktivitas transaksi saham BRIS mencapai 1.490 kali. Investor memperdagangkan sebanyak 71.081 saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,1 miliar.
Saham CDIA Terkoreksi 2,37%
Saham CDIA juga mengalami tekanan jual. Harga saham ini turun 2,37% menjadi Rp 330 per saham.
Pada pembukaan perdagangan, CDIA berada di level Rp 316 per saham. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang mencapai Rp 338 per saham.
Sepanjang perdagangan, saham CDIA sempat menyentuh harga tertinggi Rp 332 dan harga terendah Rp 316 per saham.
Investor melakukan transaksi saham CDIA sebanyak 984 kali. Volume perdagangan mencapai 114.701 saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,7 miliar.
Saham BRPT Melemah 3,27%
Saham BRPT mencatatkan pelemahan sebesar 3,27% ke level Rp 1.035 per saham. Pada awal perdagangan, saham ini langsung turun 70 poin ke harga Rp 1.000 per saham.
Selanjutnya, BRPT bergerak dalam rentang harga Rp 1.000 hingga Rp 1.045 per saham.
Pelaku pasar mencatat frekuensi transaksi saham BRPT sebanyak 2.900 kali. Volume perdagangan mencapai 273.781 saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 27,7 miliar.
Saham BBCA Menguat 0,40%
Berbeda dengan BRIS, CDIA, dan BRPT, saham BBCA justru berhasil menguat 0,40% menjadi Rp 5.000 per saham.
Pada pembukaan perdagangan, BBCA sempat naik ke level Rp 5.025 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 4.980 per saham.
Selama perdagangan, saham BBCA mencatatkan harga tertinggi Rp 5.025 dan harga terendah Rp 4.970 per saham.
Aktivitas perdagangan BBCA mencapai 6.841 kali transaksi. Investor memperdagangkan sebanyak 312.604 saham dengan total nilai transaksi Rp 156,5 miliar.
Pergerakan pasar pada awal pekan ini memperlihatkan kuatnya tekanan jual terhadap saham di Bursa Efek Indonesia. Meskipun demikian, beberapa saham masih mampu bertahan di zona hijau. BBCA menjadi salah satu saham yang mencatatkan penguatan ketika IHSG dan seluruh sektor saham bergerak melemah. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









