Jakarta, Britakini.com – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada perdagangan Senin (2/11/2026). Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga emas Antam dan penguatan harga perak di pasar internasional.
Mengutip laman Logam Mulia, Antam menaikkan harga perak sebesar Rp 450 menjadi Rp 34.100 per gram. Sebelumnya, Antam menjual logam putih tersebut dengan harga Rp 33.650 per gram.
Antam menawarkan dua pilihan ukuran perak batangan kepada konsumen. Produk pertama memiliki berat 250 gram dengan harga Rp 8.925.000. Sementara itu, Antam membanderol ukuran 500 gram sebesar Rp 17.050.000.
Harga Perak Dunia Mendekati US$ 50
Pasar internasional juga mencatat penguatan harga perak. Mengutip Trading Economics, harga perak dunia naik 2,13% menjadi US$ 49,93 per ons pada Senin.
Penguatan tersebut membawa harga perak semakin dekat dengan level US$ 50 per ons. Sebelumnya, tekanan jual sempat menyeret harga logam putih ini ke posisi terendah dalam hampir satu tahun.
Namun, pelemahan harga minyak memberikan dorongan positif bagi perak. Penurunan tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap lonjakan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.
Selain itu, perkembangan hubungan AS dan Iran turut memengaruhi sentimen pasar. Upaya diplomatik kedua negara memberikan harapan bagi investor untuk menghindari konflik militer baru.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Menanggapi ancaman tersebut, Teheran memperingatkan kemungkinan melakukan serangan balasan dengan cakupan lebih luas.
Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, investor juga mengamati kondisi ekonomi AS. Mereka menunggu laporan ketenagakerjaan yang akan terbit pada pekan ini.
Data tersebut dapat membantu investor memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Selain itu, laporan ketenagakerjaan juga memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 75%.
Ekspektasi tersebut sebelumnya memberikan tekanan besar terhadap harga perak. Pekan lalu, investor melepas logam mulia karena kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi.
Kondisi itu sekaligus memperkuat perkiraan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
Tekanan juga datang dari pasar saham global. Kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu aksi jual saham.
Akibatnya, sebagian investor menjual kepemilikan perak untuk menutup kerugian dari investasi pada aset lain.
Analis Mulai Pesimistis terhadap Harga Emas
Sementara itu, prospek harga emas pada pekan ini menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan.
Survei Emas Mingguan Kitco News mencatat penurunan optimisme di kalangan analis Wall Street. Mereka mulai mengubah pandangan setelah harga emas jatuh di bawah US$ 3.900 per ons.
Berbeda dengan analis profesional, investor ritel masih mempertahankan harapan terhadap kenaikan harga emas.
Kitco melaporkan hasil survei tersebut pada Senin (2/11/2026). Sebanyak 16 analis mengikuti jajak pendapat mingguan untuk memperkirakan arah pergerakan emas.
Hasil survei memperlihatkan hanya satu analis atau 6% yang memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan ini.
Sebaliknya, 10 analis atau 63% memperkirakan harga emas kembali melemah. Lima analis lainnya atau 31% memilih sikap netral dan memperkirakan harga emas bergerak mendatar.
Namun, investor ritel justru memperlihatkan sentimen yang lebih positif.
Kitco mengumpulkan 184 suara dalam jajak pendapat tersebut. Sebanyak 98 investor atau 53% memperkirakan harga emas akan mengalami kenaikan.
Sementara itu, 56 investor atau 30% memprediksi harga emas kembali turun. Sebanyak 30 investor lainnya atau 16% memperkirakan harga logam mulia tersebut bergerak stabil.
Harga Emas Berpotensi Turun ke US$ 3.750
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menilai daya tarik emas mulai berkurang. Ia mengingatkan bahwa harga logam kuning tersebut sempat mendekati US$ 4.700 pada akhir Agustus lalu.
Chandler juga memperhatikan perkembangan indikator teknikal emas. Menurutnya, harga emas sudah menembus batas bawah Bollinger Bands.
Indikator tersebut menunjukkan posisi harga dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan 20 hari.
Meski demikian, Chandler belum melihat tanda-tanda aksi jual besar-besaran di pasar emas.
Ia memperkirakan harga emas berpotensi turun ke kisaran US$ 3.750 hingga US$ 3.850. Namun, penurunan tersebut bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan level harga saat ini.
Jika tekanan jual terus meningkat dan emas mencetak rekor terendah baru sepanjang tahun, risiko penurunan akan semakin besar.
Pemilu AS dan Konflik Iran Tekan Harga Emas
Pandangan negatif terhadap harga emas juga datang dari Head of Currency Strategy InvestingLive, Adam Button.
Ia memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan pada pekan ini. Menurutnya, pemilihan paruh waktu AS dan potensi peningkatan konflik dengan Iran menjadi dua faktor penting yang perlu investor perhatikan.
Button juga mengkhawatirkan kemungkinan Trump mengambil keputusan keras terhadap Iran.
Jika ketegangan meningkat, pasar keuangan berpotensi menghadapi sentimen penghindaran risiko atau risk aversion yang lebih kuat.
Selain Button, Chief Market Strategist SIA Wealth Management turut menyampaikan pandangan pesimistis terhadap prospek emas.
Ia menilai penembusan harga emas ke bawah level US$ 4.000 memberikan sinyal teknikal yang cukup kuat bagi pasar.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, investor perlu mencermati sejumlah faktor yang memengaruhi pasar logam mulia.
Pergerakan harga minyak, kebijakan suku bunga The Fed, laporan ketenagakerjaan AS, serta ketegangan geopolitik berpotensi menentukan arah harga emas dan perak dalam sepekan ke depan. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









