Kurs Rupiah Tertekan, Ini Faktor yang Mempengaruhinya

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kurs rupiah terhadap dollar AS di tengah tekanan pasar global.(Foto : PIXABAY/DARNO BEGE/kompas.com)

Ilustrasi kurs rupiah terhadap dollar AS di tengah tekanan pasar global.(Foto : PIXABAY/DARNO BEGE/kompas.com)

Jakarta, Britakini.comNilai tukar rupiah masih mendapat tekanan dari kondisi global dan domestik. Dalam jangka pendek, rupiah masih bertahan meski menghadapi sejumlah sentimen negatif.

Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, menjadi salah satu sumber tekanan. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen.

Kenaikan tersebut menjadi kenaikan pertama The Fed sejak Juli 2023.

Imbal Hasil US Treasury Tekan Rupiah

Pengamat pasar komoditas sekaligus Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menekan rupiah.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun mencapai sekitar 5 persen. Kondisi tersebut membuat aset negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik bagi investor.

Indeks dollar AS (DXY) juga berada di level tertinggi dalam sebulan.

“Selisih imbal hasil yang menyempit membuat aset emerging market, termasuk Indonesia, kehilangan daya tarik relatif,” kata Sutopo kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026).

Ekonomi Domestik Belum Kuat

Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi belum memberikan dukungan kuat bagi rupiah. Aktivitas manufaktur masih lemah. Konsumsi rumah tangga juga belum menunjukkan penguatan.

Pertumbuhan penjualan ritel pun melambat. Kondisi ini membuat Indonesia sulit mengandalkan arus masuk dana asing untuk menopang rupiah.

“Sehingga arus masuk portofolio sulit diandalkan sebagai bantalan,” ujar Sutopo.

Harga minyak yang masih berada di atas 100 dollar AS per barel juga menambah tekanan terhadap rupiah.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan impor migas Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

Baca Juga :  Kode Redeem FF Aktif Hari Ini 15 April 2026

Berbagai faktor tersebut membuat rupiah masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Namun, pasar sudah mengantisipasi sebagian besar dampak kenaikan suku bunga AS. Karena itu, investor kini menunggu sinyal kebijakan The Fed berikutnya.

Investor Menunggu Sinyal The Fed

Sutopo mengatakan investor tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga The Fed. Mereka juga akan mencermati dot plot dan pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.

Jika proyeksi The Fed lebih lunak dari perkiraan pasar, dollar AS berpotensi melemah. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat.

Saat ini, pasar memperhitungkan sekitar 56 basis poin (bps) pengetatan dalam tiga pertemuan The Fed berikutnya.

“Perlu dikonfirmasi pula bahwa level 17.700 yang disebut masih di sisi lemah tetapi belum menembus titik terendah,” ungkap Sutopo.

Kurs pasar pada pekan ini berada di sekitar level 17.630. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata 50 hari yang mencapai 17.821.

Dalam satu tahun terakhir, rupiah bergerak dalam rentang 16.370 hingga 18.180 per dollar AS.

Empat Faktor Pengaruhi Rupiah

Sutopo menyebut sedikitnya empat faktor yang akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka menengah.

Pertama, kebijakan The Fed.

Pasar akan melihat durasi dan besaran siklus pengetatan suku bunga The Fed. Jika kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran terus mendorong inflasi AS, dollar AS berpotensi tetap mendapat dukungan.

Kedua, harga minyak mentah.

Perubahan harga minyak memberikan dampak langsung terhadap rupiah. Harga minyak yang tinggi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.

Baca Juga :  Hobi Bisa Jadi Bisnis Menguntungkan, Ini Caranya

Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan beban anggaran subsidi energi pemerintah.

Ketiga, kebijakan Bank Indonesia.

Arah rupiah juga akan bergantung pada kebijakan Bank Indonesia (BI). BI akan menggelar rapat pada pekan depan setelah mempertahankan suku bunga selama dua bulan berturut-turut.

Sutopo menilai BI menghadapi dilema dalam menentukan kebijakan. BI perlu menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang lebih ketat.

Namun, kondisi permintaan domestik yang lemah membutuhkan kebijakan yang lebih longgar.

Karena itu, BI kemungkinan mengandalkan kombinasi kebijakan. BI dapat menggunakan intervensi pasar secara terukur, instrumen penarik devisa, dan pendalaman pasar valuta asing.

Keempat, kebijakan fiskal pemerintah.

Investor juga akan mencermati kredibilitas kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara.

Investor asing akan memperhatikan disiplin anggaran, kualitas pembiayaan utang, dan konsistensi komunikasi pemerintah.

“Karena di tengah imbal hasil global yang tinggi, premi risiko negara yang menentukan apakah modal bertahan atau pergi,” tutup Sutopo.

Rupiah Melemah pada 16 September

Sebagai informasi, rupiah melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026).

Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.696 per dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen dari penutupan sebelumnya.

Pada Selasa (15/9/2026), rupiah berada di level Rp17.694 per dollar AS.

Sementara itu, indeks dollar AS atau DXY melemah 0,05 persen ke level 99,564 pada pukul 15.00 WIB.

DXY sempat menguat pada awal perdagangan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,12 persen ke level 99,730.

Namun, indeks tersebut kemudian berbalik melemah hingga perdagangan sore. (Ven*)

Penulis : Vendra

Editor : Vendra

Sumber Berita: kompas.com

Berita Terkait

Harga Emas Antam dan Pegadaian Naik, Cek Harganya
Harga Emas Pegadaian 17 September 2026, Cek Lengkap
Mantan PMI Indonesia Raup Omzet Jutaan dari Bubur Cirebon
Harga Emas Antam Hari Ini Menguat, Cek Rinciannya
Rupiah Melemah ke Rp17.730 Jelang Keputusan The Fed
25 Beras Fortifikasi Bermasalah, Harga Capai Rp57.600
Harga Emas 24 Karat Hari Ini Turun, Cek Lengkap
Harga Emas Antam Turun, Buyback Jadi Rp2.437.000
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 17:00 WIB

Harga Emas Antam dan Pegadaian Naik, Cek Harganya

Kamis, 17 September 2026 - 09:33 WIB

Harga Emas Pegadaian 17 September 2026, Cek Lengkap

Rabu, 16 September 2026 - 23:00 WIB

Mantan PMI Indonesia Raup Omzet Jutaan dari Bubur Cirebon

Rabu, 16 September 2026 - 15:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Menguat, Cek Rinciannya

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.730 Jelang Keputusan The Fed

Berita Terbaru

BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 18-24 September 2026.(Foto : Ilustrasi Hujan.Nasmoco Dok/kompas.com)

Nasional

Potensi Hujan Lebat, BMKG Minta Warga Waspada

Sabtu, 19 Sep 2026 - 21:00 WIB

Bupati Kerinci Monadi membuka Festival Kopi Kerinci Tanah Surga 2026 di Lapangan M10 Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Sabtu (19/9/2026).

Kerinci

Festival Kopi Kerinci 2026 Dorong Ekonomi Masyarakat

Sabtu, 19 Sep 2026 - 21:00 WIB

Wali Kota Sungai Penuh Alfin menghadiri pembukaan Festival Kopi Kerinci Tanah Surga 2026 di Kayu Aro.(Foto : Diskominfosta Sungai Penuh)

Kerinci

Wali Kota Alfin Dukung Festival Kopi Kerinci 2026

Sabtu, 19 Sep 2026 - 17:00 WIB

Harga emas 24 karat di Antam, Pegadaian, dan Hartadinata Abadi mengalami kenaikan pada Sabtu, 19 September 2026.(Foto : Gambar by AI/liputan6.com)

Ekonomi

Harga Emas Antam dan Pegadaian Naik, Cek Harganya

Sabtu, 19 Sep 2026 - 17:00 WIB

Ketua DPRD Hutri Randa menyambut Pangdam XX/TIB di Makodim 0417/Kerinci.

Sungai Penuh

Hutri Randa Sambut Kunjungan Pangdam XX TIB Kerinci

Kamis, 17 Sep 2026 - 19:00 WIB