Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 16 September 2026. Pasar kini menunggu keputusan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Antara, rupiah turun 36 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.730 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.694 per dolar AS.
Rupiah Tertekan Jelang Keputusan The Fed
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, melihat tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pelaku pasar kini mencermati hasil pertemuan kebijakan The Fed di Amerika Serikat.
Rully memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points menjadi 4 persen.
“Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points menjadi 4 persen,” ujar Rully Nova, dikutip dari Antara.
Selain kebijakan The Fed, harga minyak juga memberikan tekanan terhadap rupiah. Harga minyak masih berada di sekitar US$105 per barel.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi eksternal Indonesia. Pasar juga mencermati dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
Pasar Menanti Hasil Pertemuan FOMC
Mengutip Kantor Berita China Xinhua, Federal Open Market Committee (FOMC) memulai pertemuan kebijakan September pada Selasa, 15 September 2026. FOMC dijadwalkan mengakhiri pertemuan tersebut pada Rabu, 16 September 2026.
Pelaku pasar memberikan perhatian besar terhadap hasil pertemuan tersebut. Data inflasi AS yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir ikut mendorong ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Keputusan The Fed selanjutnya dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Tekanan Eksternal Membayangi Rupiah
Dari dalam negeri, Bank Indonesia juga menghadapi sejumlah tekanan menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan depan.
Sikap The Fed, tren inflasi, dan kenaikan harga minyak menjadi beberapa faktor yang perlu dicermati Bank Indonesia.
Pemerintah juga menghadapi ruang fiskal yang semakin terbatas. Kondisi tersebut berkaitan dengan kenaikan harga minyak dunia yang berada di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Asumsi harga minyak dalam APBN berada di sekitar US$70 per barel. Sementara itu, harga minyak dunia berada di sekitar US$105 per barel.
Dengan berbagai sentimen tersebut, analis memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Rupiah Melemah pada Perdagangan 15 September
Rupiah juga melemah pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Ketidakpastian geopolitik di kawasan Asia Barat ikut memengaruhi sentimen pasar.
Mengutip Antara, rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.694 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.669 per dolar AS.
Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). JISDOR turun ke level Rp17.687 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.635 per dolar AS.
Konflik Asia Barat Tekan Sentimen Pasar
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan konflik geopolitik di Asia Barat turut menekan rupiah.
Ibrahim menyebut kelompok Houthi atau Ansarullah di Yaman kembali menyerang Arab Saudi pada Senin, 14 September 2026. Kelompok tersebut juga memperkuat posisi di sejumlah titik strategis sepanjang Laut Merah.
Menurut Ibrahim, posisi tersebut dapat membuka peluang bagi kelompok Houthi untuk meningkatkan serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab.
Situasi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran pasokan minyak di kawasan. Gangguan pasokan kemudian dapat memengaruhi harga minyak dunia.
Pada pekan sebelumnya, Ansarullah Yaman juga mengganggu operasional pipa minyak lintas negara milik Riyadh.
Sejumlah analis memperkirakan gangguan tersebut dapat memengaruhi sekitar 4 hingga 5 persen pasokan minyak global.
Pembicaraan Selat Hormuz Mengalami Penundaan
Pasar juga mencermati penundaan pembicaraan mengenai Selat Hormuz antara Iran dan AS.
Pertemuan antara Oman, Iran, dan sejumlah negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz juga mengalami penundaan.
Ibrahim mengatakan Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan klaim bahwa Iran sedang berupaya mencapai kesepakatan damai pada Senin, 14 September 2026.
Namun, Teheran membantah klaim tersebut. Iran menyatakan belum akan melakukan pembicaraan sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi.
Salah satu tuntutan Iran berkaitan dengan kepatuhan AS terhadap ketentuan gencatan senjata pada Juni yang kini sudah tidak berlaku.
Inflasi AS Perkuat Ekspektasi Suku Bunga
Selain faktor geopolitik, data Consumer Price Index (CPI) AS pada Agustus 2026 turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Kenaikan CPI membuat pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 59,4 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 89 persen.
Perkembangan inflasi AS dan keputusan The Fed selanjutnya akan menjadi perhatian pasar. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan rupiah. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









