Pesona Budaya dan Alam Desa Wae Rebo Flores

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rumah adat Mbaru Niang di Desa Wae Rebo, Flores. (Foto: Pexels)

Rumah adat Mbaru Niang di Desa Wae Rebo, Flores. (Foto: Pexels)

Jakarta, Britakini.com   — Indonesia menawarkan lebih dari sekadar panorama alam yang memukau. Di berbagai daerah, masyarakat juga menjaga kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat, sejumlah desa adat tetap mempertahankan tradisi lama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah Desa Wae Rebo, sebuah desa adat yang berdiri tenang di kawasan pegunungan di Flores.

Masyarakat Manggarai membangun desa ini jauh dari keramaian kota. Karena itu, mereka mampu menjaga keaslian budaya serta pola hidup tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Banyak wisatawan yang datang ke Labuan Bajo kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo untuk merasakan suasana desa adat yang masih alami. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat menjalani kehidupan tradisional mereka.

Desa yang Berdiri di Ketinggian Pegunungan

Masyarakat Manggarai mendirikan Desa Wae Rebo di ketinggian sekitar 1.088 meter di atas permukaan laut. Mereka memilih lokasi di tengah perbukitan hijau yang dikelilingi hutan lebat. Lingkungan tersebut membuat udara di desa terasa sejuk sepanjang hari.

Pada pagi hari, kabut tipis sering turun dan menyelimuti kawasan desa. Ketika matahari mulai muncul dari balik pegunungan, kabut perlahan terbuka dan memperlihatkan deretan rumah adat yang berdiri di tengah lapangan desa. Pemandangan ini menghadirkan suasana yang tenang sekaligus memukau sehingga banyak orang menyebut Wae Rebo sebagai negeri di atas awan.

Tujuh Rumah Adat yang Menjadi Pusat Kehidupan

Penduduk desa mempertahankan tujuh rumah adat utama yang mereka sebut Mbaru Niang. Mereka membangun rumah-rumah ini dengan bentuk kerucut tinggi serta menggunakan daun lontar dan serat ijuk sebagai bahan atap.

Rumah tradisional tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Warga memanfaatkan setiap tingkat rumah untuk kebutuhan yang berbeda. Mereka menggunakan lantai pertama sebagai ruang berkumpul dan tempat tinggal keluarga. Sementara itu, mereka memanfaatkan tingkat-tingkat di atasnya untuk menyimpan bahan makanan, benih tanaman, serta benda-benda penting yang berkaitan dengan tradisi adat.

Baca Juga :  Danau Duo Kerinci, Danau Unik Terbelah di Ketinggian

Melalui rumah Mbaru Niang, masyarakat Wae Rebo mempertahankan identitas budaya sekaligus menjaga pola hidup komunal yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Perjalanan yang Menjadi Bagian dari Pengalaman

Banyak wisatawan memulai perjalanan menuju desa ini dari Labuan Bajo. Mereka menempuh perjalanan darat sekitar lima jam hingga mencapai Desa Denge.

Setelah tiba di desa tersebut, para pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalur perbukitan selama kurang lebih tiga jam. Jalur trekking ini menanjak dan melintasi kawasan hutan yang masih alami. Walaupun perjalanan terasa cukup melelahkan, para wisatawan tetap menikmati pemandangan alam Flores yang terbentang sepanjang jalur perjalanan.

Ketika mereka akhirnya tiba di Wae Rebo, rasa lelah biasanya langsung berubah menjadi rasa kagum saat melihat desa adat yang berdiri di tengah pegunungan.

Tradisi Penyambutan bagi Para Tamu

Setiap tamu yang datang tidak langsung menjelajahi desa. Masyarakat terlebih dahulu mengajak mereka menuju rumah adat utama yang mereka sebut Niang Gendang.

Di rumah tersebut, tetua adat memimpin ritual yang dikenal sebagai Waelu’u. Melalui ritual ini, masyarakat meminta izin kepada para leluhur agar para tamu dapat berada di desa dengan aman serta menghormati aturan adat yang berlaku.

Setelah ritual selesai, warga desa biasanya menyuguhkan kopi Flores kepada para tamu. Suasana pun berubah menjadi hangat karena para pengunjung mulai berbincang dengan masyarakat setempat dan mendengarkan cerita tentang kehidupan desa.

Kisah Leluhur yang Datang dari Tanah Jauh

Masyarakat Wae Rebo juga mewariskan kisah tentang asal-usul leluhur mereka. Menurut cerita turun-temurun, nenek moyang mereka berasal dari wilayah Sumatra Barat.

Baca Juga :  TNI Selamatkan 18 Karyawan Freeport di Papua

Dalam cerita tersebut, masyarakat sering menyebut nama Empo Maro sebagai tokoh yang melakukan perjalanan panjang hingga akhirnya menetap di Flores. Setelah menetap di wilayah ini, keturunannya membangun kehidupan bersama masyarakat Manggarai dan membentuk komunitas yang kemudian berkembang menjadi Desa Wae Rebo.

Kisah perjalanan leluhur tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat desa.

Upacara Penti sebagai Ungkapan Syukur

Selain menjaga arsitektur tradisional, masyarakat desa juga mempertahankan berbagai ritual adat. Salah satu tradisi terpenting yang mereka jalankan adalah Upacara Penti.

Setiap tahun, masyarakat mengadakan upacara ini sebagai tanda pergantian tahun adat Manggarai. Melalui upacara tersebut, mereka menyampaikan rasa syukur atas hasil panen yang telah mereka terima serta memohon perlindungan bagi kehidupan masyarakat pada tahun berikutnya.

Pengakuan dari Dunia Internasional

Keunikan budaya dan arsitektur desa ini akhirnya menarik perhatian dunia. Pada tahun 2012, UNESCO memberikan apresiasi atas upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya mereka.

Selain itu, arsitektur rumah adat Mbaru Niang juga meraih penghargaan dari Aga Khan Award for Architecture. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa nilai budaya yang dijaga oleh masyarakat Wae Rebo memiliki arti penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Kini, Desa Wae Rebo dikenal luas sebagai destinasi wisata budaya yang unik. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo kemudian menyempatkan diri untuk datang ke desa ini.

Melalui perjalanan tersebut, mereka tidak hanya menikmati keindahan alam Flores, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Wae Rebo menjaga tradisi leluhur mereka hingga hari ini.

(eny)

Penulis : Vendra

Editor : vendra

Sumber Berita: indonesia.travel

Berita Terkait

Ide Usaha Pinggir Jalan Kampung Masih Menjanjikan
Perjalanan Ubud Bali Dari Sepi Jadi Destinasi Dunia
Pariwisata Global Utamakan Pengalaman Bermakna dan Personal
Wisata Ayi Tafsut Kerinci Tawarkan Alam dan Edukasi
Kepadatan Kendaraan dan Wisatawan di Pantai Padang
Picos de Europa Dinobatkan Tempat Terindah Dunia 2026
Danau Duo Kerinci, Danau Unik Terbelah di Ketinggian
Manuskrip Al-Qur’an 170 Tahun Warisan Ulama Mojokerto
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:02 WIB

Ide Usaha Pinggir Jalan Kampung Masih Menjanjikan

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:00 WIB

Perjalanan Ubud Bali Dari Sepi Jadi Destinasi Dunia

Kamis, 30 April 2026 - 23:59 WIB

Pariwisata Global Utamakan Pengalaman Bermakna dan Personal

Selasa, 31 Maret 2026 - 02:00 WIB

Wisata Ayi Tafsut Kerinci Tawarkan Alam dan Edukasi

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:00 WIB

Kepadatan Kendaraan dan Wisatawan di Pantai Padang

Berita Terbaru

Harga emas Antam hari ini naik tipis menjadi Rp2.733.000 per gram pada 17 Juni 2026.(Foto: Robert Lens/Pexels


Baca artikel detikfinance,

Ekonomi

Harga Emas Antam Naik Tipis Hari Ini, Tembus Rp2,73 Juta

Rabu, 17 Jun 2026 - 13:00 WIB

Suplemen minyak ikan mengandung omega-3 yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, otak, dan mengontrol kolesterol.( Foto : https://www.naturalfarm.id)

Kesehatan

Panduan Minum Minyak Ikan Dewasa yang Benar

Senin, 15 Jun 2026 - 21:00 WIB

Sebuah kendaraan listrik melakukan pengisian daya di stasiun charging, mencerminkan tren peningkatan penggunaan EV(Foto :carnewschina.com)

Teknologi

EV Dominasi Pasar China Mei 2026, Penjualan ICE Anjlok

Kamis, 11 Jun 2026 - 16:00 WIB

Ilustrasi emas batangan Antam. Harga emas hari ini turun ke level Rp2,6 juta per gram.(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Turun, Saatnya Investasi

Kamis, 11 Jun 2026 - 15:00 WIB

Hobi seperti desain, fotografi, menulis, dan memasak dapat berkembang menjadi peluang bisnis yang menguntungkan jika dikelola dengan tepat.( Foto : Pengadaian.co.id)

Ekonomi

Hobi Bisa Jadi Bisnis Menguntungkan, Ini Caranya

Senin, 8 Jun 2026 - 19:00 WIB