Manuskrip Al-Qur’an 170 Tahun Warisan Ulama Mojokerto

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 9 Maret 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan Kiai Sholeh Ilyas berusia sekitar 170 tahun yang tersimpan di Ponpes As Sholichiyah, Kota Mojokerto.

Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan Kiai Sholeh Ilyas berusia sekitar 170 tahun yang tersimpan di Ponpes As Sholichiyah, Kota Mojokerto.

Mojokerto, Britakini.com — Di Pondok Pesantren As Sholichiyah, Mojokerto, tersimpan sebuah manuskrip Al-Qur’an yang berusia sekitar 170 tahun. Ulama bernama Kiai Sholeh Ilyas menulis mushaf tersebut dengan tangannya sendiri.

Pengasuh Ponpes As Sholichiyah, Mochammad Ilyasin (28), menjelaskan bahwa Kiai Sholeh lahir di Kesesi, Pekalongan, Jawa Tengah sekitar tahun 1810–1820 M. Sejak kecil ia telah menjadi yatim. Keluarganya kemudian mengirimnya untuk belajar agama kepada Kiai Asror di Cirebon, Jawa Barat.

Mengembara Menuntut Ilmu

Setelah menyelesaikan pendidikan di Cirebon, Kiai Sholeh melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ia pernah belajar di Pesantren Tegalsari di Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Selain itu, ia juga menimba ilmu di Japanan, Pasuruan, serta di Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Kiai Sholeh memutuskan hijrah ke Mojokerto. Seorang tokoh agama Mojokerto saat itu, Kiai Rofi’i, kemudian mengambilnya sebagai menantu. Saat ini masyarakat memakamkan Kiai Rofi’i di belakang Masjid Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Perjuangan Mendirikan Pesantren

Sebelum mendirikan pesantren di lokasi sekarang, Kiai Sholeh beberapa kali berpindah tempat untuk berdakwah. Ia pernah berdakwah di Sinoman dan Prajurit Kulon.

Namun, upaya dakwahnya di beberapa tempat tersebut belum berhasil. Saat itu, sebagian masyarakat masih sulit menerima ajaran agama.

Akhirnya, mertuanya memberikan sebidang tanah di Penarip Gang 2. Di tempat itulah Kiai Sholeh mendirikan pesantren.

Baca Juga :  Panduan Minum Minyak Ikan Dewasa yang Benar

Berdasarkan cerita para alumni dan berbagai tulisan tentang dirinya, pesantren tersebut sudah berdiri sekitar tahun 1880-an.

Melahirkan Banyak Ulama Mojokerto

Pada masa itu, banyak santri Kiai Sholeh yang kemudian menjadi kiai dan mendirikan pesantren sendiri di Mojokerto.

Beberapa di antaranya yaitu KH Ahmad Tamyiz, pendiri Ponpes Hidayatul Muwaffiq di Desa Penompo, Kecamatan Jetis. Ada juga KH Achyat Chalimi, pendiri Ponpes Sabilul Muttaqin di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Mojokerto.

Selain itu, terdapat KH Yahdi Matlab yang mengasuh Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo. Kemudian KH Qusyairi Manshur yang mendirikan Pesantren Darul Hikmah di Sawahan, Kecamatan Mojosari, serta KH Umar Syahid dari Pacitan yang dikenal sebagai Mbah Umar Tumbu.

Menurut Gus Ilyasin, banyak pendiri pesantren di Mojokerto pernah menimba ilmu di pesantren Kiai Sholeh. Karena itu, sebagian orang menyebut pesantren ini sebagai salah satu yang tertua di Mojokerto.

Menulis Al-Qur’an dengan Tangan Sendiri

Selain berdakwah, Kiai Sholeh juga dikenal sebagai penulis manuskrip Al-Qur’an. Ia menulis mushaf tersebut sekitar tahun 1850–1860 M ketika masih belajar di Pesantren Tegalsari.

Kiai Sholeh menulis mushaf itu secara manual menggunakan pena celup dan tinta berbahan dasar air. Ia menggunakan kertas yang terbuat dari serat kayu.

Proses penulisan dari Surah Al-Fatihah hingga An-Nas memakan waktu sekitar dua tahun. Mushaf tersebut memiliki panjang 32 cm dan lebar 20 cm.

Baca Juga :  Wali Kota Alfin Ikuti Rapat DPR Bahas PPPK ASN

Upah Dua Ekor Sapi

Berdasarkan cerita turun-temurun, Kiai Sholeh sering menerima pesanan untuk menulis Al-Qur’an.

Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari bangsawan, pesantren, hingga pemerintah. Karena proses penulisannya sangat panjang, pemesan biasanya memberikan upah yang cukup besar.

Pada masa itu, penulisan satu mushaf Al-Qur’an biasanya dihargai sekitar dua ekor sapi.

Warisan Pesantren Hingga Kini

Kiai Sholeh wafat pada tahun 1941. Keluarganya memakamkannya di kompleks makam Muasis Ponpes As Sholichiyah.

Setelah itu, putranya Kiai Ismail melanjutkan kepemimpinan pesantren. Kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut kepada cucunya, Kiai Rofi’i Ismail. Saat ini, pesantren diasuh oleh Gus Ilyasin sebagai generasi keempat.

Nama As Sholichiyah sendiri diambil dari nama Kiai Sholeh. Pesantren ini mulai menggunakan nama tersebut sekitar tahun 1970.

Mengembangkan Pendidikan

Saat ini Ponpes As Sholichiyah memiliki sekitar 25 santri yang tinggal di asrama. Selain mengelola pesantren, yayasan juga menyelenggarakan pendidikan nonformal berupa Madrasah Diniyah Ula, Wustho, dan TPQ.

Untuk pendidikan formal, yayasan mengelola lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Lembaga tersebut meliputi MI Ismailiyah Paradigma Baru (Mipaba), MTs Pesantren Terpadu Al Ismailiyah, serta MA Al Ismailiyah yang masih dalam proses perizinan operasional.

Gus Ilyasin menegaskan bahwa pesantren terus melanjutkan cita-cita para pendirinya. Pesantren ingin terus menyebarkan dakwah Islam, menyediakan pendidikan yang layak, serta membekali generasi muda dengan ilmu agama agar mampu menghadapi perkembangan zaman.

(Ven*)

Berita Terkait

Kunjungan Wisman Meningkat, Pariwisata Indonesia Stabil
Ide Usaha Pinggir Jalan Kampung Masih Menjanjikan
Perjalanan Ubud Bali Dari Sepi Jadi Destinasi Dunia
Pariwisata Global Utamakan Pengalaman Bermakna dan Personal
Wisata Ayi Tafsut Kerinci Tawarkan Alam dan Edukasi
Kepadatan Kendaraan dan Wisatawan di Pantai Padang
Picos de Europa Dinobatkan Tempat Terindah Dunia 2026
Danau Duo Kerinci, Danau Unik Terbelah di Ketinggian
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:00 WIB

Kunjungan Wisman Meningkat, Pariwisata Indonesia Stabil

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:02 WIB

Ide Usaha Pinggir Jalan Kampung Masih Menjanjikan

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:00 WIB

Perjalanan Ubud Bali Dari Sepi Jadi Destinasi Dunia

Kamis, 30 April 2026 - 23:59 WIB

Pariwisata Global Utamakan Pengalaman Bermakna dan Personal

Selasa, 31 Maret 2026 - 02:00 WIB

Wisata Ayi Tafsut Kerinci Tawarkan Alam dan Edukasi

Berita Terbaru

Harga emas Pegadaian hari ini terpantau stabil untuk produk Antam, UBS, dan Galeri 24(Foto : Dok Pegadaian)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Terbaru Hari Ini, Antam UBS Stabil

Jumat, 17 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teh chamomile hangat menjadi salah satu minuman alami yang membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.(Foto : Pixabay/Полина Андреева)

Kesehatan

Minuman Sebelum Tidur Ampuh Atasi Insomnia Secara Alami

Kamis, 16 Jul 2026 - 03:00 WIB

Perwakilan PT TASPEN menyerahkan santunan JKK kepada ahli waris PPPK Nurijah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.(Foto : Arsp Foto Taspen)

Ekonomi

Manfaat JKK TASPEN Rp832 Juta Meski Kepesertaan Singkat

Kamis, 16 Jul 2026 - 01:00 WIB

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana (kanan) bersama jajaran saat konferensi pers memaparkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara di Jakarta, 2026.(Foto : Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Wisata

Kunjungan Wisman Meningkat, Pariwisata Indonesia Stabil

Rabu, 15 Jul 2026 - 23:00 WIB

Nissan Tekton tampil dengan desain SUV tangguh dan modern, resmi meluncur di India dengan harga mulai Rp 199 jutaan.(Foto: Dok. Nissan)

Teknologi

Harga Nissan Tekton SUV Baru Irit Fitur Lengkap

Rabu, 15 Jul 2026 - 21:00 WIB