Jakarta, Britakini.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan indeks baru bernama IDX Commodity 20 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Peluncuran indeks ini membuka peluang bagi saham-saham sektor komoditas untuk menarik perhatian lebih besar dari investor.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai kehadiran IDX Commodity 20 dapat memberikan sentimen positif bagi emiten komoditas. Menurutnya, indeks tersebut membantu investor memantau kinerja saham sektor komoditas melalui acuan yang lebih spesifik.
“Menurut saya, IDX Commodity 20 bisa menjadi sentimen positif bagi saham-saham komoditas karena memberikan acuan khusus bagi investor untuk melihat kinerja sektor ini,” kata Elandry kepada Liputan6.com, Jumat, 30 Oktober 2026.
Elandry juga menilai indeks baru ini dapat meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap saham-saham komoditas. Terlebih lagi, investor berpotensi melirik sektor tersebut ketika harga komoditas global menunjukkan tren kenaikan atau bullish.
Namun, Elandry mengingatkan bahwa kehadiran indeks baru tidak serta-merta meningkatkan aktivitas perdagangan saham. Menurutnya, pasar tetap membutuhkan aliran dana baru untuk mendorong transaksi dan permintaan terhadap saham-saham komoditas.
“Namun, peningkatan transaksi tidak terjadi otomatis. Perlu ada aliran dana baru yang masuk ke saham-saham tersebut,” ujarnya.
Manfaat IDX Commodity 20 bagi Investor
Elandry menjelaskan bahwa IDX Commodity 20 membantu investor memahami arah pergerakan sektor komoditas. Investor juga bisa menggunakan indeks tersebut untuk membandingkan kinerja satu emiten dengan emiten lainnya.
Selain itu, indeks ini menyediakan tolok ukur atau benchmark yang dapat mendukung investor ketika menyusun strategi investasi.
Investor dapat memanfaatkan acuan tersebut untuk menentukan momentum pembelian saham, menjalankan rotasi sektoral, serta mengatur diversifikasi portofolio.
“Jadi, investor punya benchmark untuk menentukan momentum masuk, melakukan rotasi sektoral, sekaligus mengatur diversifikasi portofolio,” ujarnya.
Apa Itu Indeks IDX Commodity 20?
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI pada Jumat, 30 Oktober 2026, IDX Commodity 20 merupakan indeks yang mengukur kinerja harga 20 saham perusahaan penghasil komoditas dan perusahaan yang bergerak dalam rantai pasok industri komoditas.
BEI memilih 20 perusahaan tersebut dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar yang besar serta likuiditas transaksi yang baik.
Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari A., menjelaskan bahwa BEI menerapkan metode capped adjusted free float market capitalization weighted dalam menghitung IDX Commodity 20.
Metode ini menggunakan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik atau free float. BEI kemudian membatasi bobot setiap saham maksimal sebesar 15 persen saat melakukan evaluasi indeks.
BEI juga menetapkan 1 September 2021 sebagai tanggal dasar penghitungan IDX Commodity 20. Pada tanggal tersebut, indeks memiliki nilai dasar sebesar 100.
Jadwal Evaluasi IDX Commodity 20
BEI membagi evaluasi IDX Commodity 20 menjadi dua jenis, yakni evaluasi mayor dan evaluasi minor. Kedua evaluasi ini membantu BEI meninjau serta menyesuaikan komposisi saham dalam indeks.
BEI menjalankan evaluasi mayor setiap Februari dan Agustus. Hasil evaluasi tersebut mulai berlaku pada hari bursa pertama Maret dan September.
Sementara itu, BEI melaksanakan evaluasi minor setiap Mei dan November. Hasil evaluasi ini mulai berlaku pada hari bursa pertama Juni dan Desember.
Daftar 20 Saham dalam IDX Commodity 20
BEI telah menetapkan 20 saham sebagai konstituen awal IDX Commodity 20. Bursa juga menentukan jumlah saham yang menjadi dasar penghitungan indeks tersebut.
Berikut daftar lengkap 20 emiten beserta rasio free float masing-masing:
- AADI – Adaro Andalan Indonesia Tbk. Rasio free float 18,17%.
- ADMR – Alamtri Minerals Indonesia Tbk. Rasio free float 11,89%.
- ADRO – Alamtri Resources Indonesia Tbk. Rasio free float 26,79%.
- AMMN – Amman Mineral Internasional Tbk. Rasio free float 22,75%.
- ANTM – ANTAM (Persero) Tbk. Rasio free float 34,84%.
- ARCI – Archi Indonesia Tbk. Rasio free float 15,81%.
- BIPI – Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. Rasio free float 44,75%.
- BRMS – Bumi Resources Minerals Tbk. Rasio free float 51,03%.
- BRPT – Barito Pacific Tbk. Rasio free float 26,96%.
- BUMI – Bumi Resources Tbk. Rasio free float 43,28%.
- DEWA – Darma Henwa Tbk. Rasio free float 49,70%.
- ENRG – Energi Mega Persada Tbk. Rasio free float 41,17%.
- INCO – Vale Indonesia Tbk. Rasio free float 20,38%.
- MBMA – Merdeka Battery Materials Tbk. Rasio free float 26,80%.
- MDKA – Merdeka Copper Gold Tbk. Rasio free float 47,72%.
- MEDC – Medco Energi Internasional Tbk. Rasio free float 21,86%.
- PTRO – Petrosea Tbk. Rasio free float 27,71%.
- RAJA – Rukun Raharja Tbk. Rasio free float 22,79%.
- TINS – TIMAH (Persero) Tbk. Rasio free float 34,96%.
- TPIA – Chandra Asri Pacific Tbk. Rasio free float 25,38%.
IDX Commodity 20 Jadi Acuan Baru Investor
Peluncuran IDX Commodity 20 menambah pilihan acuan bagi investor dalam memantau perkembangan saham sektor komoditas di pasar modal Indonesia.
Melalui indeks ini, investor dapat melihat pergerakan 20 saham pilihan sekaligus membandingkan kinerja emiten dalam industri komoditas.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan kondisi pasar, perkembangan harga komoditas global, serta aliran dana sebelum mengambil keputusan investasi. Kehadiran indeks baru tidak menjamin kenaikan harga saham maupun peningkatan transaksi secara langsung. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









