Jakarta, Britakini.com – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan mengurangi minat investor terhadap logam mulia. Selain itu, pelaku pasar mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve Amerika Serikat (AS), Kevin Warsh, setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan.
Mengutip CNBC, Kamis (29/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,5 persen menjadi US$ 4.039,39 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,6 persen ke US$ 4.051,60 per ons.
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%-4%. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar.
Bank sentral AS memilih menunggu data inflasi terbaru sebelum mengubah kebijakan suku bunga. Selain itu, para pejabat The Fed juga memantau perkembangan setelah pemilihan paruh waktu AS pada pekan berikutnya.
Harga emas sempat menguat setelah Warsh menyampaikan pernyataan terkait kebijakan tersebut. Namun, harga logam mulia kembali turun ketika pelaku pasar mencerna penjelasannya.
Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan harga emas. Kedua faktor tersebut mengurangi daya tarik emas karena investor tidak memperoleh bunga dari kepemilikan logam mulia ini.
Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Harga Emas
Pedagang logam independen Tai Wong menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat membatasi penguatan harga emas.
“Imbal hasil Treasury tenor panjang bergerak naik karena pasar belum sepenuhnya puas dengan penjelasan Warsh mengenai keputusan mempertahankan suku bunga hari ini. Suku bunga yang lebih tinggi akan terus menekan harga emas. Saya tidak berpikir logam mulia akan mengalami aksi jual besar-besaran, tetapi ruang kenaikannya mungkin terbatas,” kata Wong.
The Fed meningkatkan penilaiannya terhadap kondisi ekonomi AS. Meski demikian, bank sentral tetap mengakui bahwa inflasi masih tinggi.
Dalam konferensi pers, Warsh menegaskan bahwa The Fed siap mengambil tindakan sesuai dengan perkembangan ekonomi.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4,11 basis poin menjadi 5,034 persen.
Perangkat FedWatch milik CME mencatat bahwa pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 86%. Angka tersebut turun dari 88% sebelum pengumuman kebijakan.
Kini, investor menantikan data belanja konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Data yang dijadwalkan rilis pada Kamis tersebut dapat membantu investor memperkirakan arah kebijakan moneter berikutnya.
Harga Minyak Naik, Perak dan Platinum Melemah
Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 1% setelah serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Konflik di Timur Tengah juga meningkatkan risiko gangguan distribusi energi.
Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi. Jika tekanan inflasi terus meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut dapat mengurangi minat investor terhadap emas. Pasalnya, emas tidak memberikan bunga seperti sejumlah instrumen investasi berbasis suku bunga.
Dalam jajak pendapat terbaru, para analis menurunkan proyeksi harga logam mulia untuk 2026. Mereka mempertimbangkan pelemahan permintaan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan penguatan dolar.
Meski menghadapi tekanan, para analis masih melihat peluang pemulihan harga seluruh logam mulia pada 2027.
Dari Asia, impor bersih emas China melalui Hong Kong meningkat lebih dari 28% pada September dibandingkan Agustus. Kenaikan tersebut membawa impor ke level tertinggi dalam lima bulan.
Pelaku pasar meningkatkan persediaan emas menjelang libur Golden Week. Selain itu, permintaan investor turut mendorong kenaikan impor dari China melalui Hong Kong.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,4% menjadi US$ 53,58 per ons. Sementara itu, harga platinum melemah 0,4% ke US$ 1.534,50 per ons.
Harga paladium juga turun 1,1% menjadi US$ 1.014,50 per ons. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









