Jakarta, Britakini.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada perdagangan sesi kedua, Selasa (27/10/2026). Menjelang satu jam penutupan pasar, IHSG turun hingga meninggalkan level 5.300 akibat tekanan jual yang kuat.
Berdasarkan data RTI, IHSG melemah 3,03% ke level 5.210 pada pukul 15.02 WIB. Sementara itu, indeks saham LQ45 turun 3,06% ke level 525. Seluruh indeks saham acuan bergerak di zona merah.
Analis Ungkap Penyebab IHSG Anjlok
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG dalam jangka pendek telah mencapai target teknikal yang sebelumnya ia sampaikan.
Selain faktor teknikal, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut menekan pergerakan pasar saham. Investor juga menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mencermati arah kebijakan moneter AS.
Herditya juga menyoroti tekanan jual pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Menurutnya, sejumlah saham dari kelompok tersebut hampir menyentuh batas penurunan harga harian atau auto rejection bawah (ARB).
Pada saat yang sama, mayoritas saham perbankan berkapitalisasi besar turut mengalami penurunan.
“Dari pasar sendiri, nampak emiten-emiten mid-small caps terpantau hampir auto rejection bawah/ARB dengan pergerakan emiten bank bigcaps yang mayoritas terkoreksi,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
642 Saham Melemah, Transaksi Capai Rp11,1 Triliun
IHSG bergerak dalam rentang 5.203,81 hingga 5.418,13 pada sesi kedua perdagangan saham.
Tekanan jual mendominasi pasar. Sebanyak 642 saham mencatatkan penurunan, sedangkan 86 saham menguat. Sementara itu, 61 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Pelaku pasar melakukan 1.576.731 kali transaksi dengan volume mencapai 26,8 miliar saham. Total nilai transaksi saham pada hari itu mencapai Rp11,1 triliun.
Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak di kisaran Rp18.143 terhadap rupiah.
Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah
Tekanan jual melanda seluruh sektor saham pada perdagangan Selasa. Sektor barang baku atau basic materials mencatatkan penurunan terdalam, yakni 3,84%.
Sektor infrastruktur menyusul dengan koreksi 3,83%. Sementara itu, sektor energi turun 3,67% dan sektor teknologi melemah 3,1%.
Di kelompok lainnya, sektor barang konsumen siklikal turun 2,76%, sedangkan sektor transportasi terkoreksi 2,73%. Sektor keuangan melemah 2% dan sektor properti turun sekitar 2,15%.
Selanjutnya, sektor kesehatan turun 1,6%, sementara sektor barang konsumen nonsiklikal melemah 1,38%. Adapun sektor industri mencatatkan penurunan paling kecil, yakni 0,29%.
Saham WIFI, BIPI, dan KETR Ikut Terkoreksi
Sejumlah saham mengalami tekanan jual pada sesi kedua. Saham WIFI, BIPI, dan KETR termasuk di antara saham yang mencatatkan penurunan harga cukup besar.
Harga Saham WIFI Anjlok 6,73%
Saham WIFI turun 6,73% ke level Rp970 per saham. Pada awal perdagangan, saham ini dibuka di level Rp1.040 per saham, sama dengan harga penutupan sebelumnya.
Selama perdagangan, WIFI sempat menyentuh level tertinggi Rp1.045 sebelum turun ke level terendah Rp970 per saham.
Investor melakukan 8.343 kali transaksi saham WIFI dengan volume mencapai 624.429 saham. Total nilai transaksinya mencapai Rp61,8 miliar.
Saham BIPI Turun 6,52%
Saham BIPI melemah 6,52% ke level Rp86 per saham. Saham ini membuka perdagangan pada harga Rp92 per saham, sama dengan harga penutupan sebelumnya.
Sepanjang sesi perdagangan, BIPI sempat menyentuh level tertinggi Rp95 dan kemudian turun hingga Rp86 per saham.
Pelaku pasar mencatatkan 7.282 kali transaksi saham BIPI dengan volume mencapai 3.019.520 saham. Nilai transaksi harian saham ini mencapai Rp26,8 miliar.
Saham KETR Merosot 6,84%
Saham KETR mencatatkan penurunan sebesar 6,84% ke level Rp545 per saham. Persentase koreksi ini menjadi yang terbesar di antara saham WIFI, BIPI, dan KETR.
Pada pembukaan perdagangan, KETR turun 10 poin ke level Rp575 per saham. Setelah itu, saham ini bergerak dalam rentang Rp545 hingga Rp585 per saham.
Investor memperdagangkan saham KETR sebanyak 5.320 kali dengan volume mencapai 617.396 saham. Total nilai transaksinya mencapai Rp34 miliar. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









