Mengurai Fobia Daring di Balik Momentum Hardiknas 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang siswa mengikuti pembelajaran daring dari rumah dengan perangkat digital sebagai bagian dari sistem Belajar dari Rumah (BDR)

Seorang siswa mengikuti pembelajaran daring dari rumah dengan perangkat digital sebagai bagian dari sistem Belajar dari Rumah (BDR)

Jakarta, Britakini.comPeringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menghadirkan anomali yang perlu kita renungkan. Beberapa waktu lalu, pemerintah mewacanakan kembalinya skema Belajar dari Rumah (BDR) untuk menekan konsumsi energi akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz yang mengancam pasokan bahan bakar global. Namun, wacana itu cepat meredup. Gelombang penolakan dari berbagai pihak mendorong pemerintah tetap menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM).

Fobia terhadap Pembelajaran Daring

Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa kita masih takut pada pembelajaran daring?

Penolakan tersebut memperlihatkan bahwa investasi besar pemerintah dalam digitalisasi pendidikan belum mengubah budaya belajar. Pemerintah telah mendistribusikan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah dan mengembangkan ekosistem digital seperti portal serta aplikasi “Rumah Pendidikan”. Namun, banyak pihak masih memposisikan fasilitas ini sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi utama pembelajaran. Ketika krisis menuntut peralihan ke sistem digital, kita justru gagap dan kembali mengandalkan PTM sebagai zona nyaman.

Trauma Pandemi dan Stigma Learning Loss

Masyarakat, termasuk sebagian pendidik, masih menganggap pembelajaran daring menurunkan kualitas belajar (learning loss). Pengalaman selama pandemi memperkuat anggapan ini. Saat itu, banyak sekolah hanya memindahkan tugas ke grup WhatsApp tanpa strategi pembelajaran yang jelas. Kondisi tersebut membentuk persepsi negatif terhadap pembelajaran daring.

Baca Juga :  STIE SAK Kerinci Sukses Wisuda Ratusan Sarjana Tahun 2025

Padahal, anggapan bahwa semua pembelajaran daring tidak efektif jelas keliru. Sejumlah institusi membuktikan bahwa sistem daring dapat berjalan optimal. Universitas Terbuka (UT), misalnya, menghasilkan lulusan yang kompetitif melalui pembelajaran jarak jauh. Mereka menerapkan desain instruksional yang matang, menyediakan modul belajar mandiri yang terstruktur, dan menjalankan sistem evaluasi yang ketat. Pendekatan ini membuktikan bahwa pembelajaran daring dapat berhasil jika dirancang dengan tepat.

Masalah Utama: Bukan Teknologi, Melainkan Manajemen

Penolakan terhadap BDR tidak bersumber dari keterbatasan teknologi, melainkan dari lemahnya manajemen sistem.

Pemerintah perlu mengambil langkah tegas. Saat merancang pembelajaran jarak jauh atau hybrid—baik untuk efisiensi energi, mitigasi bencana, maupun adaptasi teknologi—pemerintah harus menyusun Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang jelas, rinci, dan terukur.

Pemerintah tidak cukup hanya membuat aturan administratif. Mereka harus merancang Standar Operasional Prosedur (SOP) pedagogis yang konkret. Guru perlu panduan jelas untuk menjalankan pembelajaran sinkronus dan asinkronus. Sekolah perlu mengintegrasikan penggunaan IFP dengan perangkat siswa di rumah. Sistem pendidikan juga harus mampu melakukan asesmen kompetensi secara objektif tanpa tatap muka langsung. Tanpa panduan mutu yang jelas, orang tua dan masyarakat akan terus meragukan sistem ini. Mereka tidak ingin anak-anak kembali menjadi objek uji coba kebijakan yang belum siap.

Baca Juga :  Equity and Access in Indonesian Education: Addressing Disparities

Momentum Hardiknas: Bangun Sistem yang Tangguh

Hardiknas 2026 harus menjadi momentum evaluasi ketahanan sistem pendidikan. Pemerintah tidak boleh berhenti pada pengadaan perangkat digital. Mereka harus membangun kerangka jaminan mutu pembelajaran daring berskala nasional.

Pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan yang berkelanjutan. Dengan langkah ini, ekosistem “Rumah Pendidikan” dapat berfungsi optimal, bukan sekadar menjadi proyek mahal yang jarang digunakan saat krisis.

Pendidikan berkualitas tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas fisik. Kita bisa memastikan proses belajar tetap berjalan dengan mutu yang sama dalam berbagai kondisi. Inilah makna kebebasan belajar yang sesungguhnya: memberi akses ilmu pengetahuan tanpa batas ruang dan situasi. (Ven*)

Berita Terkait

Pemerintah Tegaskan Guru Honorer Tetap Boleh Mengajar
ParagonCorp Buka Pendaftaran ILP 2026 untuk Dosen Indonesia
Tips Sederhana Menanam Bunga Indah di Dalam Rumah
Rahasia Pemangkasan Kelengkeng agar Buah Cepat dan Lebat
Cara Efektif Membuat Pohon Alpukat Cepat Berbuah Lebat
Panduan Lengkap Doa Yasin untuk Orang Tua Wafat
Astronom Saksikan Tabrakan Dua Planet di Bintang Jauh
Tips Sederhana Menjaga Sepatu Tetap Kering dan Segar
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 18:00 WIB

Pemerintah Tegaskan Guru Honorer Tetap Boleh Mengajar

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:00 WIB

ParagonCorp Buka Pendaftaran ILP 2026 untuk Dosen Indonesia

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:00 WIB

Mengurai Fobia Daring di Balik Momentum Hardiknas 2026

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:00 WIB

Tips Sederhana Menanam Bunga Indah di Dalam Rumah

Minggu, 19 April 2026 - 21:00 WIB

Rahasia Pemangkasan Kelengkeng agar Buah Cepat dan Lebat

Berita Terbaru

Grace Natalie menyampaikan klarifikasi soal unggahan video ceramah Jusuf Kalla dalam konferensi pers di Jakarta.

Nasional

Grace Natalie Tegaskan Video JK Bukan Atas Nama PSI

Senin, 11 Mei 2026 - 21:00 WIB

Kirmanto, anak petani asal Pemalang, kini bekerja di PT Nestlé Indonesia setelah lulus cumlaude dari UNU Yogyakarta.

Nasional

Anak Petani Pemalang Tembus Nestlé, Kisah Kirmanto

Senin, 11 Mei 2026 - 20:00 WIB

Layar menampilkan pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan terbaru

Ekonomi

Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah ke Rp17.405

Senin, 11 Mei 2026 - 19:00 WIB

Ilustrasi emas batangan Antam. Harga emas Antam hari ini turun menjadi Rp2.819.000 per gram.

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu

Senin, 11 Mei 2026 - 18:00 WIB