Jakarta, Britakini.com — Saat berpuasa, banyak orang melihat warna urine mereka berubah menjadi lebih gelap atau pekat. Perubahan ini sering membuat orang khawatir karena mereka kerap mengaitkannya dengan penyakit ginjal. Namun, urine pekat saat puasa tidak selalu berarti ada gangguan ginjal.
Selama puasa, tubuh tidak menerima cairan selama belasan jam. Jika seseorang tidak minum cukup saat sahur dan berbuka, tubuh akan mengalami dehidrasi ringan. Kondisi ini membuat warna urine menjadi lebih gelap dari biasanya.
Menurut Healthline, pada awal puasa tubuh melepaskan lebih banyak air dan garam melalui urine. Tubuh melakukan proses ini secara alami dan menyebutnya diuresis saat puasa. Jika seseorang tidak segera mengganti cairan yang hilang, tubuh akan semakin kekurangan cairan.
Seseorang dapat mengecek kondisi hidrasi dengan melihat warna urine. Urine yang sehat biasanya berwarna kuning pucat seperti limun encer. Jika warnanya berubah menjadi kuning tua atau lebih pekat, tubuh kemungkinan besar kekurangan cairan.
Dehidrasi tidak hanya mengubah warna urine. Kondisi ini juga bisa memicu sakit kepala, tubuh terasa lemas, dan menurunkan konsentrasi.
Apakah urine pekat menandakan penyakit ginjal?
Menurut EMC Healthcare, urine pekat tidak selalu menandakan kerusakan ginjal. Pada orang yang sehat, kondisi ini biasanya hanya menunjukkan kurangnya asupan cairan. Setelah seseorang minum cukup, warna urine umumnya kembali jernih.
Meski begitu, orang yang memiliki riwayat penyakit ginjal perlu lebih berhati-hati saat berpuasa. Dehidrasi dapat mengurangi aliran darah ke ginjal. Jika kondisi ini berlangsung lama, risiko terbentuknya batu ginjal akibat urine yang terlalu pekat bisa meningkat.
Seseorang harus segera waspada jika urine pekat muncul bersama gejala lain, seperti nyeri pinggang hebat, mual, muntah, pembengkakan tubuh, atau jumlah urine yang sangat sedikit.
Keton dalam urine saat puasa
Puasa juga mendorong tubuh memproduksi keton. Menurut Cleveland Clinic, tubuh menghasilkan keton ketika menggunakan lemak sebagai sumber energi pengganti glukosa. Dalam jumlah kecil, kemunculan keton dalam urine masih tergolong normal, terutama saat puasa atau menjalani pola makan rendah karbohidrat.
Namun, kadar keton yang tinggi dapat membahayakan, terutama bagi penderita diabetes. Kondisi ini bisa memicu ketoasidosis diabetik, yaitu komplikasi serius akibat penumpukan keton dalam tubuh.
Tenaga medis biasanya membagi kadar keton menjadi kategori kecil, sedang, atau besar. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar tinggi dan muncul gejala seperti mual, napas berbau manis, atau gula darah meningkat, seseorang harus segera mencari pertolongan medis.
Cara menjaga ginjal tetap sehat saat puasa
Seseorang dapat menjaga fungsi ginjal selama puasa dengan langkah sederhana berikut:
-
Memenuhi kebutuhan cairan dari berbuka hingga sahur
-
Mengurangi konsumsi garam berlebihan
-
Membatasi asupan protein tinggi
-
Menghindari minuman berkafein secara berlebihan
-
Mengonsumsi buah dan sayur yang membantu menjaga keseimbangan cairan
Secara umum, urine pekat saat puasa lebih sering terjadi karena dehidrasi ringan, bukan karena penyakit ginjal. Karena itu, setiap orang perlu menjaga asupan cairan dan memperhatikan tanda-tanda yang tidak biasa.
Dengan pola makan seimbang dan asupan cairan yang cukup, seseorang dapat menjalani puasa dengan nyaman tanpa mengganggu kesehatan ginjal.









