Jakarta, Britakini.com – Seorang ahli diet menjalani rutinitas sarapan yang sangat sederhana. Hampir setiap hari, Karen Ansel, RDN, mengonsumsi dua butir telur, baik direbus, diorak-arik, maupun setengah matang. Ia kerap memadukannya dengan sayur dan buah.
Tantangan Sarapan Putih Telur Selama Dua Minggu
Suatu hari, Ansel menerima tantangan untuk sarapan hanya dengan putih telur setiap hari selama dua minggu. Ia pun langsung menyanggupi tantangan tersebut.
“Tidak masalah. Saya bisa melakukannya,” ujar Ansel saat memulai eksperimen, seperti dikutip dari Women’s Health.
Alasan Memilih Putih Telur
Ansel memilih putih telur karena kandungan gizinya cukup menarik. Putih telur mengandung kalori, lemak, dan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan telur utuh, tetapi tetap menyediakan protein dalam jumlah tinggi.
“Setiap butir putih telur mengandung sekitar 3,5 gram protein berkualitas tinggi. Kandungan ini membantu mengontrol nafsu makan dan membangun otot,” jelas Ansel.
Pengalaman yang Dirasakan Karen Ansel
1. Putih Telur Membuat Kenyang Lebih Lama
Pada awalnya, Ansel meragukan kemampuan putih telur untuk membuatnya kenyang. Namun, kenyataannya berbeda.
Ia mengonsumsi putih telur dari dua hingga tiga butir telur setiap pagi. Menu tersebut mampu membuatnya kenyang hingga waktu makan siang.
Ansel sering mencampurkan putih telur dengan sayuran seperti daun bawang atau bayam, lalu menambahkan satu porsi buah. Selama dua minggu, ia tidak pernah merasa lapar di tengah pagi.
2. Energi Lebih Stabil Saat Olahraga
Sebelum berolahraga pagi, Ansel biasanya memilih makanan ringan agar perut tidak terasa berat. Telur orak-arik dalam porsi besar sering membuatnya kurang nyaman. Sebaliknya, dua putih telur rebus terasa pas.
Ia merasakan energi yang lebih stabil selama latihan. Ansel juga tidak mengalami rasa lemas yang sering muncul setelah mengonsumsi karbohidrat seperti pisang atau roti panggang. Selain itu, perutnya tetap terasa ringan tanpa kembung.
3. Rasa Bosan Muncul Lebih Cepat
Ansel mengaku mampu mengonsumsi telur utuh setiap hari tanpa jenuh. Namun, hal itu tidak berlaku untuk putih telur.
Ia mencoba berbagai cara agar tidak bosan, termasuk membuat oatmeal tanpa oat dari campuran putih telur, pisang, susu, dan kayu manis. Sayangnya, hasilnya tidak memuaskan.
Tekstur putih telur sering berubah terlalu kenyal. Saat dibuat omelet, rasanya bahkan ia samakan dengan plastik.
4. Kehilangan Kenikmatan dan Nutrisi Kuning Telur
Selama eksperimen berlangsung, Ansel paling merindukan kuning telur yang lembut dan cair. Dari segi rasa, tekstur, hingga warna, kuning telur membuat sarapan terasa jauh lebih nikmat.
Selain itu, ia menyadari banyak nutrisi penting yang hilang.
“Kuning telur mengandung hampir semua nutrisi utama, seperti vitamin B, vitamin E, vitamin D, zat besi, seng, dan kolin,” kata Ansel.
Ia menambahkan bahwa meskipun putih telur mengandung sebagian besar protein, tubuh akan mendapatkan manfaat maksimal jika mengonsumsi telur utuh.
“Kuning telur juga menyediakan hampir lima gram lemak yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama,” jelasnya.
5. Masalah Pemborosan Makanan
Selama dua minggu, Ansel harus memisahkan sendiri putih dan kuning telur. Ia mengaku banyak kuning telur terbuang, meski sudah mencoba menyimpannya untuk resep lain.
Pengalaman tersebut membuatnya berpikir ulang. Jika suatu hari ia kembali menjalani pola makan serupa, ia akan memilih putih telur kemasan agar tidak membuang makanan.
Kembali ke Telur Utuh, Tapi Tetap Ambil Pelajaran
Setelah dua minggu, Ansel akhirnya kembali mengonsumsi telur utuh untuk sarapan. Meski begitu, ia tetap mempertahankan satu kebiasaan baru, yaitu mengonsumsi putih telur rebus sebelum olahraga karena terbukti membantu performa latihannya.
(VVR*)









