Jakarta, Britakini.com – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan setelah mencatat penguatan pada pekan lalu. Kali ini, gejolak tidak hanya menyerang pasar saham. Tekanan juga menjalar ke pasar valuta asing dan obligasi pemerintah.
Ashmore Asset Management Indonesia mencatat rupiah sempat menyentuh Rp 18.175 per dolar AS pada Rabu pekan ini. Level tersebut menjadi rekor terendah baru. Menjelang akhir pekan, rupiah bergerak di kisaran Rp 18.127 per dolar AS.
Pada saat yang sama, pasar obligasi pemerintah juga menghadapi tekanan. Yield atau imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak menjadi 7,71%. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Mei 2020.
Permintaan Obligasi Pemerintah Terus Menurun
Pasar obligasi pemerintah menjadi perhatian setelah investor mengurangi minat dalam lelang pada Selasa. Nilai penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 31,1 triliun.
Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan lelang dua pekan sebelumnya yang mencatat penawaran Rp 64,9 triliun.
Pemerintah kemudian menyerap obligasi senilai Rp 20,65 triliun. Nilai tersebut masih jauh dari target awal sebesar Rp 30 triliun.
Penurunan permintaan mendorong investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi. Yield lelang obligasi tenor 10 tahun mencapai 7,54%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2022.
Tekanan juga berlanjut di pasar sekunder. Sepanjang pekan, investor terus meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah Indonesia.
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi beberapa faktor yang menekan nilai tukar rupiah. Salah satunya berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$ 115 per barel.
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia menghadapi risiko fiskal yang lebih besar ketika harga energi meningkat. Kondisi tersebut turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Selain itu, pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut mendorong investor mengalihkan sebagian dananya dari pasar negara berkembang atau emerging markets.
Investor juga mencermati rencana peninjauan MSCI terhadap saham-saham Indonesia. Kekhawatiran tersebut menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI terus mengintervensi pasar valuta asing. Bank sentral juga membeli obligasi pemerintah guna menjaga stabilitas pasar surat utang.
Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah masih mengikuti tren sejumlah mata uang negara lain di kawasan regional.
Sementara itu, obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun mencatat yield 4,94% pada akhir pekan.
Di tengah kondisi tersebut, selisih imbal hasil atau yield spread antara obligasi pemerintah Indonesia dan AS melebar menjadi sekitar 2,8 poin persentase. Sebelum konflik berlangsung, selisih tersebut masih berada di kisaran 2,5 poin persentase.
Investor Asing Masih Mempertahankan Obligasi Indonesia
Di tengah tekanan pasar, investor asing masih mempertahankan kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia. Hingga 28 Oktober, nilai kepemilikan mereka mencapai sekitar Rp 916 triliun.
Namun, perbankan domestik justru mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah sekitar Rp 10 triliun. Sebaliknya, Bank Indonesia menambah kepemilikannya sekitar Rp 13 triliun.
Ashmore menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar obligasi lebih banyak berasal dari melemahnya permintaan domestik dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi Indonesia.
Dengan kata lain, investor asing bukan menjadi sumber utama tekanan karena mereka masih mempertahankan kepemilikan obligasi pemerintah.
Ashmore juga memandang stabilnya kepemilikan investor asing sebagai sinyal positif di tengah gejolak pasar keuangan.
Bagi investor, kenaikan yield memang berpotensi menurunkan harga obligasi dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi investor baru untuk mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi daripada inflasi.
The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Cermati Peluang Kenaikan
Dari pasar global, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%.
Meski mengambil keputusan tersebut, sejumlah pejabat bank sentral AS masih mempertimbangkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Dua pejabat The Fed, yaitu Gubernur Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, bahkan menginginkan kenaikan suku bunga dalam keputusan terbaru.
Sikap tersebut membuat investor semakin mencermati arah kebijakan moneter AS. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai sekitar 74%.
Di sisi lain, perekonomian AS masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 3,4% pada kuartal ketiga.
Namun, sejumlah perusahaan teknologi besar mencatatkan kinerja yang beragam. Kondisi ini membuat investor kembali mempertanyakan potensi keuntungan dari investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kekhawatiran tersebut ikut menekan pasar saham global. Investor mulai mengevaluasi prospek keuntungan perusahaan teknologi yang menggelontorkan dana besar untuk mengembangkan AI.
Selain perkembangan ekonomi AS, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk membuat harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Ketegangan Iran dan AS Dorong Harga Minyak Tetap Tinggi
Ketegangan di kawasan Teluk masih membayangi pasar energi global. Militer Iran menyatakan tetap menutup Selat Hormuz bagi kapal komersial yang tidak mematuhi aturan mereka.
Iran juga meminta pihak terkait memenuhi sejumlah persyaratan sebelum membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Situasi semakin memanas setelah sebuah kapal tanker terkena ranjau di sebelah timur Selat Hormuz.
Sementara itu, sejumlah negara terus mengupayakan jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan. Namun, berbagai pembicaraan belum menghasilkan kemajuan berarti.
Seorang pejabat Iran bahkan menolak gagasan dalam draf kesepakatan yang disusun Qatar. Ia menilai usulan tersebut tidak dapat diterima.
Pertemuan di Teheran yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga belum menghasilkan kesepakatan.
Di sisi lain, sejumlah laporan memperkirakan AS tidak akan melancarkan operasi militer besar-besaran sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November.
Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Pada akhir pekan, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 117 per barel.
Harga tersebut mencapai level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir. Jika ketegangan terus berlanjut, pasar energi berpotensi menghadapi tekanan tambahan.
Investor Perlu Mencermati Peluang dan Risiko Pasar
Ashmore melihat tekanan pasar keuangan Indonesia mulai bergeser. Setelah sebelumnya menghantam pasar saham, gejolak kini menjalar ke pasar mata uang dan obligasi pemerintah.
Perkembangan tersebut menarik perhatian karena yield obligasi global justru menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi Indonesia.
Bagi investor obligasi, kenaikan yield membuka peluang memperoleh pendapatan investasi yang lebih menarik. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan risiko penurunan harga obligasi akibat perubahan kondisi pasar.
Sementara itu, investor saham perlu menerapkan strategi yang lebih selektif. Ashmore menyarankan investor mengutamakan perusahaan dengan likuiditas tinggi dan fundamental bisnis yang kuat.
Investor juga perlu menyebarkan investasinya ke berbagai wilayah dan kelas aset. Diversifikasi dapat membantu mengurangi risiko ketika pasar keuangan menghadapi gejolak.
Lima Agenda Ekonomi yang Perlu Investor Pantau
Ke depan, investor perlu mencermati sejumlah agenda ekonomi dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan Indonesia maupun global.
Berikut lima faktor penting yang perlu mendapat perhatian:
-
- Pemilu paruh waktu AS: Pemilihan umum pada 3 November berpotensi memengaruhi arah kebijakan politik dan ekonomi Amerika Serikat.
-
- Inflasi Indonesia: Data inflasi Oktober akan memberikan gambaran mengenai perkembangan harga barang dan jasa serta arah kebijakan moneter BI.
-
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia: Rilis data PDB kuartal ketiga pada awal November akan menunjukkan kekuatan ekonomi nasional.
-
- Hubungan AS dan Iran: Investor perlu mengikuti perkembangan diplomasi kedua negara karena ketegangan di kawasan Teluk dapat memengaruhi harga minyak dunia.
-
- Rapat Bank Indonesia: Pertemuan BI pada 17–18 November akan menjadi perhatian pasar, terutama terkait arah suku bunga dan upaya menjaga stabilitas rupiah.
Berbagai perkembangan tersebut akan menentukan arah pasar keuangan dalam beberapa pekan mendatang. Karena itu, investor perlu terus memantau kebijakan bank sentral, perkembangan ekonomi, dan risiko geopolitik.
Dengan strategi investasi yang terukur, pemilihan instrumen yang tepat, serta diversifikasi portofolio, investor dapat mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang di tengah ketidakpastian pasar. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









