Jakarta, Britakini.com – Harga emas Antam hari ini turun Rp 10.000 per gram pada Selasa (20/10/2026). Penurunan tersebut membuat harga emas batangan Antam berada di level Rp 2.564.000 per gram.
Berdasarkan situs resmi Logam Mulia, Antam menjual emas seharga Rp 2.564.000 per gram. Sehari sebelumnya, Senin (19/10/2026), harga emas Antam masih mencapai Rp 2.574.000 per gram.
Selain menurunkan harga jual, Antam juga memangkas harga pembelian kembali atau buyback sebesar Rp 10.000 per gram. Kini, pemilik emas menerima Rp 2.379.000 per gram ketika menjual kembali emas batangan mereka kepada Antam.
Antam menyesuaikan harga emas berdasarkan perkembangan pasar dan tren harga emas dunia. Sebagai perbandingan, harga emas Antam pernah mencapai rekor tertinggi Rp 3.168.000 per gram pada Kamis (29/1/2026). Pada periode tersebut, harga buyback juga menyentuh rekor Rp 2.989.000 per gram.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Antam menyediakan emas batangan dalam berbagai ukuran. Berikut daftar harga emas Antam pada Selasa (20/10/2026).
- 0,5 gram: Rp 1.332.000
- 1 gram: Rp 2.564.000
- 2 gram: Rp 5.078.000
- 3 gram: Rp 7.599.000
- 5 gram: Rp 12.635.000
- 10 gram: Rp 25.190.000
- 25 gram: Rp 62.810.000
- 50 gram: Rp 125.455.000
- 100 gram: Rp 250.760.000
- 250 gram: Rp 626.590.000
- 500 gram: Rp 1.252.900.000
- 1.000 gram: Rp 2.504.600.000
Ketentuan Pajak Pembelian dan Buyback Emas
Masyarakat perlu memahami ketentuan pajak sebelum membeli atau menjual emas Antam. Pemerintah menetapkan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% dari harga dasar untuk pembelian emas batangan.
Sementara itu, transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10.000.000 dikenai PPh Pasal 22 sebesar 1,5%. Antam langsung memotong pajak tersebut dari nilai transaksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Harga Emas Dunia Ikut Melemah
Harga emas dunia turut melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026) atau Selasa pagi waktu Jakarta. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan pergerakan logam mulia tersebut.
CNBC melaporkan pada Selasa (20/10/2026) bahwa harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi US$ 4.143,91 per ons. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,4% menjadi US$ 4.163,30 per ons.
Penguatan dolar AS membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, kondisi tersebut dapat mengurangi minat beli di pasar global.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,6%. Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap harga emas karena investor mulai membandingkan potensi keuntungan dari obligasi dengan aset yang tidak memberikan bunga.
Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com, menilai kekhawatiran terhadap inflasi mendorong pasar memperkirakan pengetatan kebijakan moneter. Ekspektasi tersebut turut meningkatkan imbal hasil obligasi dan memengaruhi minat investor terhadap emas.
Investor Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed
Investor kini menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada pekan depan. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Pada September 2026, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,25%. Langkah tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sepanjang tahun ini.
Razaqzada menegaskan bahwa arah kebijakan The Fed akan memengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek. Menurutnya, pernyataan hawkish atau sinyal pengetatan moneter dapat menekan harga emas lebih lanjut.
Data FedWatch milik CME menunjukkan peluang sebesar 82,8% bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada Oktober. Sebaliknya, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 90%.
Suku bunga tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan bunga. Sebaliknya, investor bisa memperoleh imbal hasil dari obligasi ketika mereka menempatkan dana pada instrumen tersebut.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada pekan depan. Bank sentral AS menggunakan indikator inflasi tersebut untuk membantu menentukan arah kebijakan moneternya.
Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mereda
Di pasar energi, harga minyak turun setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lima bulan. Keputusan Presiden AS Donald Trump memberikan pengecualian terhadap sanksi dan tarif Rusia berpotensi mendorong peningkatan ekspor bahan bakar dari negara tersebut.
Penurunan harga minyak sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Sebelumnya, data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang kuat pada pekan lalu meningkatkan perhatian investor terhadap tekanan harga.
Ole Hansen, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, menempatkan US$ 4.235 per ons sebagai level resistensi utama emas. Sementara itu, ia melihat area di bawah US$ 4.100 per ons sebagai level dukungan atau support.
Harga Perak, Platinum, dan Paladium Menguat
Berbeda dengan emas, sejumlah logam mulia lainnya mencatat kenaikan pada perdagangan terbaru.
Harga perak di pasar spot naik 0,4% menjadi US$ 57,24 per ons. Sementara itu, platinum menguat 1% menjadi US$ 1.646 per ons.
Paladium juga mencatat kenaikan sebesar 0,8% ke level US$ 1.121,14 per ons.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar logam mulia menghadapi sentimen yang beragam. Investor terus mencermati kebijakan suku bunga AS, perkembangan inflasi, pergerakan dolar, dan prospek permintaan global sebelum menentukan strategi investasi. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









