Britakini.com, Jambi — E. Wiryadi, aparatur sipil negara (ASN) dari Bappeda Kota Sungai Penuh, menimba pengalaman berharga saat mengikuti pelatihan internasional di Tiongkok.
Ia lolos dalam program “Seminar on Rural Development and Poverty Reduction for Officials from Developing Countries” yang berlangsung pada 14–27 Oktober 2025 di Beijing dan Provinsi Yunnan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Poverty Reduction Center in China (IPRCC) bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM).
Pemerintah Tiongkok menanggung seluruh biaya pelatihan bagi peserta dari lebih dari sepuluh negara berkembang di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.
Belajar Langsung dari Ahli Pembangunan Dunia
Selama pelatihan, Wiryadi menunjukkan semangat belajar tinggi dan mencatat banyak ide yang bisa ia terapkan di Kota Sungai Penuh.
Ia menilai Tiongkok berhasil mengentaskan kemiskinan karena menggunakan sistem berbasis data, melibatkan banyak pihak, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Dalam program itu, ia belajar langsung dari para ahli pembangunan di IPRCC, Kementerian Pertanian Tiongkok, UNDP, dan World Bank.
Ia mempelajari berbagai kebijakan unggulan seperti Targeted Poverty Alleviation, Industrial Village Development, Employment-First Policy, dan Health Poverty Alleviation.
Setelah menyelesaikan sesi teori di Beijing, ia melakukan kunjungan lapangan ke Pu’er, Lancang, dan Menglian di Provinsi Yunnan.
Di sana, ia menyaksikan bagaimana kebijakan diterapkan secara nyata di tingkat desa.
“Di Lancang, masyarakat mengembangkan teh dan kopi melalui sistem kemitraan. Pemerintah menyiapkan infrastruktur, koperasi mengatur produksi, dan perusahaan membantu pemasaran. Semua pihak saling melengkapi,” ujar Wiryadi (5/10).
Ia juga melihat perubahan pola pikir masyarakat desa. Warga tidak lagi menunggu bantuan, melainkan aktif mengelola potensi lokal. Akibatnya, ekonomi desa tumbuh dan taraf hidup meningkat.
Empat Pelajaran Penting untuk Sungai Penuh
Dari pengalaman tersebut, Wiryadi menyimpulkan empat pelajaran utama yang bisa diterapkan di daerahnya.
-
Six Precisions
Pemerintah Tiongkok membangun sistem data yang rinci untuk menentukan siapa yang miskin, penyebabnya, dan cara menanganinya.
Data akurat membuat bantuan tepat sasaran dan transparan. Ketika keluarga sudah mandiri, bantuan dihentikan. Sistem ini menjadikan kebijakan efisien dan terukur. -
Industrial Village Model
Setiap desa mengembangkan satu komoditas unggulan sebagai sumber ekonomi bersama.
Pemerintah menyediakan infrastruktur, sedangkan koperasi dan sektor swasta mengatur produksi dan pemasaran.
Model ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat identitas ekonomi desa. -
Employment First Policy
Pemerintah menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai prioritas utama.
Sekolah vokasi menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri agar lulusan langsung terserap kerja.“Satu anggota keluarga yang bekerja bisa memperbaiki ekonomi keluarga. Prinsip sederhana ini memberi dampak besar,” kata Wiryadi.
-
Health Poverty Alleviation
Pemerintah memperluas layanan kesehatan digital agar seluruh warga mendapat perlindungan.
Klinik desa terhubung dengan rumah sakit kota sehingga masyarakat tidak lagi kehilangan penghasilan akibat biaya pengobatan tinggi.
Gagasan untuk Kota Sungai Penuh
Sepulang dari Tiongkok, Wiryadi menyusun rencana konkret untuk diterapkan di daerah asalnya.
Ia bertekad membangun sistem data keluarga rentan berbasis desa, memperkuat pendidikan vokasi, dan mengembangkan klaster industri lokal untuk komoditas seperti kopi, kayu manis, dan madu.
Ia juga berencana mempercepat digitalisasi layanan publik di bidang kesehatan dan administrasi desa.
Menurutnya, langkah ini akan memperkuat perencanaan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pengalaman ini memberi arah baru. Saya belajar bahwa keberhasilan berawal dari data yang baik, kerja sama yang kuat, dan niat tulus untuk memberdayakan masyarakat,” ujarnya dengan nada reflektif.
Belajar untuk Membangun Daerah
Bagi Wiryadi, kesempatan belajar ke luar negeri bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi tanggung jawab moral untuk membawa pulang pengetahuan baru dan menerapkannya di tanah kelahiran.
“Kita tidak perlu meniru negara lain, tapi kita bisa belajar dari praktik baik mereka. ASN harus terus belajar, beradaptasi, dan menerjemahkan ilmu menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia bertekad menjadikan ilmu yang diperoleh pondasi nyata dalam perencanaan pembangunan di Kota Sungai Penuh.
Ia juga akan memperkuat koordinasi antarperangkat daerah, mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal.
“Pembangunan tidak cukup dengan proyek fisik. Kita harus membangun sistem, kepercayaan, dan manusia,” tegasnya.
Menurut Wiryadi, ASN harus terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan. Dunia bergerak cepat, dan aparatur negara wajib menjadi pembelajar sepanjang hayat.
(VVR*)









