Teheran, Britakini.com – Badan intelijen Israel, Mossad, secara terbuka menyerukan para demonstran Iran untuk melanjutkan aksi protes menentang memburuknya kondisi ekonomi. Mossad menyampaikan seruan tersebut melalui media sosial X dengan menggunakan bahasa Farsi.
Dalam pernyataannya, Mossad mengajak masyarakat Iran untuk turun ke jalan dan bersatu. Mossad juga menegaskan dukungannya terhadap aksi unjuk rasa itu dan mengklaim berada bersama para demonstran, baik melalui pernyataan publik maupun langsung di lapangan.
Protes Meluas dari Pedagang hingga Mahasiswa
Aksi protes bermula pada Minggu (28/12), ketika para pemilik toko dan pedagang di Teheran turun ke jalan memprotes tekanan ekonomi yang semakin berat. Dalam waktu singkat, demonstrasi tersebut menyebar ke berbagai kota lain di Iran.
Seiring meluasnya aksi, para mahasiswa ikut bergabung dan memperkuat gelombang protes. Mereka menyuarakan kekecewaan terhadap kondisi ekonomi, tingginya harga barang, serta melemahnya daya beli masyarakat.
Pelemahan nilai tukar mata uang Rial Iran terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang global lainnya memicu lonjakan harga impor. Kondisi ini menekan pedagang ritel dan memperparah kesulitan ekonomi warga.
Ketegangan Iran–Israel dan Peran AS
Seruan Mossad muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Usai pertemuan itu, Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan pengembangan program nuklir dan rudal balistik. Ia mengancam akan melancarkan serangan baru jika Iran mengabaikan peringatan tersebut.
Israel dan Iran, yang selama ini bermusuhan, terlibat perang selama 12 hari pada pertengahan Juni lalu. Israel melancarkan serangan besar-besaran ke fasilitas nuklir Iran dan kawasan permukiman dengan tujuan melumpuhkan riset nuklir serta kemampuan rudal balistik Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke berbagai target di Israel.
Amerika Serikat kemudian turut terlibat dengan mengebom sejumlah situs nuklir Iran sebelum kedua pihak menyepakati gencatan senjata.
Poros Perlawanan
Iran tidak mengakui Israel dan sejak lama menuduh Tel Aviv melakukan sabotase serta pembunuhan ilmuwan nuklirnya. Iran juga mendukung kelompok-kelompok militan dalam “poros perlawanan”, termasuk Hizbullah dan Hamas. Pada Juli 2024, serangan yang dikaitkan dengan Israel menewaskan mantan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran. (Tim*)









