Lampung Selatan, Britakini.com — Aktivitas Pelabuhan Bakauheni yang padat setiap hari tidak membuat sosok Pujiati (45) luput dari perhatian. Para pegawai pelabuhan hingga pedagang asongan mengenalnya dengan baik. Mereka memanggilnya Bude Puji.
Bude Puji bukan pejabat. Ia hanya penjual nasi. Namun, ia rutin membagikan makanan gratis kepada siapa pun yang membutuhkan. Ia membantu pegawai, pedagang yang belum mendapat penglaris, hingga penumpang yang kehabisan ongkos.
Berjualan dengan Niat Mencari Berkah
Selama lima tahun berjualan di Pelabuhan Bakauheni, Bude Puji mengubah tujuan usahanya. Ia tidak lagi mengejar keuntungan semata. Ia memilih mencari keberkahan dari setiap piring nasi yang ia sajikan.
“Berapa pun uang yang kita dapat, kita harus bersyukur. Niatkan usaha karena rida Allah, insyaallah berkah. Dulu saya berdagang, tapi tidak pernah berbagi. Uang banyak pun terasa tidak berarti. Sekarang uang sedikit, tapi terasa bermakna,” kata Bude Puji, Jumat (27/3/2026).
=Titik Terendah yang Mengubah Hidup
Bude Puji mengubah prinsip hidupnya setelah mengalami masa sulit pada 2020. Saat itu, ia menjalankan usaha di Lampung Timur. Namun, ia terjebak investasi bodong dan kehilangan hampir satu miliar rupiah.
“Saya tertipu trading hampir satu miliar. Lalu saya membaca buku tentang kesalahan fatal pengusaha dalam mengembangkan bisnis dengan utang. Dari situ saya belajar dan bergabung dengan komunitas. Setelah itu, saya memutuskan hijrah ke Bakauheni,” jelasnya.
Pengalaman itu mendorongnya memperbaiki cara pandang terhadap usaha dan kehidupan. Kini, ia rutin berbagi makanan gratis setiap hari Jumat. Ia juga sering melakukannya di hari biasa.
Tidak Pernah Menolak yang Membutuhkan
Bude Puji tidak pernah menolak siapa pun yang meminta makan. Ia tetap memberi meski orang tersebut tidak memiliki uang.
“Kalau ada yang minta nasi, saya suruh karyawan membungkuskan. Saya juga minta kasih lauk yang enak, seperti ayam atau telur. Mau orang itu pura-pura atau tidak, saya tidak masalah. Niat saya hanya karena Allah. Pernah ada yang cuma punya Rp10.000, tetap saya kasih,” ujarnya.
Menjaga Harga Tetap Terjangkau
Bude Puji juga menjaga harga makanannya tetap terjangkau. Ia tidak memanfaatkan momen ramai, termasuk saat musim mudik Lebaran, untuk menaikkan harga.
Ia menetapkan harga yang wajar agar tetap dipercaya pelanggan sekaligus menjaga keberkahan usaha.
“Saya tetap pakai harga biasa. Nasi ayam Rp20.000 untuk warga sekitar, Rp25.000 untuk penumpang. Nasi telur dengan sayur Rp15.000. Paling mahal bebek Rp35.000,” tuturnya.
Hidup Lebih Tenang dan Berkecukupan
Meski tidak lagi memperoleh penghasilan besar seperti dulu, Bude Puji justru merasakan hidup yang lebih tenang. Ia mampu memenuhi kebutuhan hidup dari hasil berjualan nasi.
Ia membayar karyawan, menyekolahkan anak di pondok pesantren, hingga menebus sawah yang sempat ia gadaikan.
“Saya memang tidak pernah dapat Rp10 juta sehari. Tapi alhamdulillah semuanya tercukupi. Sawah sudah bisa saya tebus. Dulu motor satu, sekarang sudah tiga,” katanya.
Tetap Setia Berbagi di Bakauheni
Bude Puji terus berjualan di Pelabuhan Bakauheni hingga sekarang. Banyak kru kapal, pedagang, dan penumpang mengenalnya sebagai sosok yang dermawan.
Ia tetap membagikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia menjalankan usahanya dengan sederhana, tetapi penuh makna. (Ven*)









