Kerinci, Britakini.com – Festival Kerinci Balik Kudahin kembali digelar di tepi Danau Kerinci, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh nostalgia bagi masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci. Tradisi adat ini membuat warga seolah kembali ke masa sebelum pemekaran 2008, saat kedua wilayah masih satu. Setiap hentakan langkah dan irama gandang membangkitkan kenangan kolektif yang terus hidup.
Kehadiran Walikota Sungai Penuh, Alfin, dan Bupati Kerinci, Monadi, membuat festival semakin berkesan. Keduanya tampil berdampingan, menyapa warga, dan mengikuti seluruh prosesi. Momen ini menegaskan bahwa meski pemekaran mengubah struktur administratif, ikatan budaya dan sejarah tetap menyatukan kedua daerah. Keharmonisan dua pemimpin ini menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat.
Warga kerap menyebut hubungan Kerinci dan Sungai Penuh seperti anak dan orang tua: anak boleh memilih rumah baru, tetapi tetap membawa darah dan identitas yang sama. Tradisi Balik Kudahin membuktikan bahwa akar budaya kedua wilayah ini tetap hidup dan diperkuat dari generasi ke generasi.
Festival ini juga mendorong optimisme. Interaksi hangat antara Alfin dan Monadi dianggap warga sebagai modal penting untuk mempercepat pembangunan dan memperkuat koordinasi lintas wilayah. Kehadiran mereka memberikan rasa stabilitas, kehangatan, dan produktivitas yang lebih terasa di masyarakat.
Balik Kudahin bukan sekadar ritual lama. Festival ini mengingatkan bahwa Kerinci dan Sungai Penuh memiliki akar budaya yang sama, yang tidak bisa dipisahkan oleh batas administratif. Selama kedua wilayah menjaga harmoni, mereka akan tetap bersatu dalam sejarah, jiwa, dan rasa—meski kini berbeda pemerintahan, ikatan budaya tetap kuat dan hidup.
(VVR*)









