Jakarta, Britakini.com – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026). Investor menanti data cadangan devisa (cadev) Indonesia dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Mengutip Antara, rupiah naik 33 poin atau 0,18% menjadi Rp17.866 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda berada di level Rp17.899 per dolar AS.
Analis memperkirakan penguatan rupiah masih terbatas. Investor pun memilih bersikap hati-hati sambil menunggu sejumlah data ekonomi penting.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan FOMC malam ini,” ujar analis.
Investor Menunggu Risalah FOMC
Selain data domestik, pelaku pasar menunggu risalah rapat Federal Reserve atau The Fed yang berlangsung pada September 2026. Mereka ingin mengetahui pertimbangan para pembuat kebijakan dalam menentukan arah suku bunga.
Dokumen tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai pandangan The Fed terhadap risiko inflasi. Informasi itu menjadi salah satu acuan investor dalam memperkirakan kebijakan moneter berikutnya.
Mengutip Anadolu, risalah FOMC dapat membantu pasar membaca arah kebijakan The Fed.
Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Xinhua, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kini hanya sekitar 24%. Sepekan sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang tersebut mencapai 71%.
Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi mendukung rupiah. Kondisi itu membuat pasar melihat peluang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Cadangan Devisa Indonesia Jadi Perhatian
Investor juga mencermati data cadangan devisa Indonesia. Pasar memperkirakan cadangan devisa turun dari US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 menjadi sekitar US$144 miliar.
Analis Lukman mengatakan penguatan euro turut menekan indeks dolar AS. Pergerakan tersebut ikut membuka ruang bagi rupiah untuk menguat.
Melihat kondisi tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Rupiah Menguat pada Perdagangan Selasa
Pada perdagangan Selasa (6/10/2026), rupiah juga menguat terhadap dolar AS. Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10% menjadi Rp17.899 per dolar AS.
Sehari sebelumnya, kurs rupiah berada di level Rp17.917 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pasar merespons positif semakin kecilnya peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan.
“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah telah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang,” kata Ibrahim seperti dikutip Antara, Selasa (6/10/2026).
Data Ekonomi AS Mulai Melemah
Sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut ikut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Pertama, inflasi PCE. Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index mencatat inflasi tahunan sebesar 3,4% pada Agustus 2026. Angka itu berada di bawah perkiraan pasar sebesar 3,7%.
Kedua, pertumbuhan lapangan kerja. Amerika Serikat hanya menambah 29 ribu pekerjaan nonpertanian pada September 2026. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan penambahan 133 ribu pekerjaan pada Agustus.
Para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja sekitar 84 ribu hingga 90 ribu. Hasil September pun berada jauh di bawah proyeksi tersebut.
Ketiga, pemerintah AS merevisi data tenaga kerja. Revisi terhadap data dua bulan sebelumnya mengurangi jumlah pekerjaan hingga 60 ribu.
Untuk Juli, data awal mencatat penambahan 21 ribu pekerjaan. Setelah pemerintah melakukan revisi, angka tersebut berubah menjadi pengurangan 10 ribu pekerjaan.
Sementara itu, data Agustus juga mengalami perubahan. Jumlah pekerjaan pada bulan tersebut turun dari 162 ribu menjadi 133 ribu setelah revisi.
Keempat, tingkat pengangguran meningkat. Angka pengangguran AS mencapai 4,2% pada September 2026, naik dari 4,1% pada bulan sebelumnya.
Pasar Melihat Peluang The Fed Menahan Suku Bunga
Pelemahan sejumlah indikator ekonomi AS membuat pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober. Peluang tersebut kini mencapai lebih dari 80%.
Untuk Desember, pelaku pasar justru memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 95%.
Ibrahim mengatakan investor kini menunggu dua agenda ekonomi penting.
Pertama, The Fed akan merilis risalah rapat FOMC September pada Rabu (7/10/2026). Selanjutnya, pasar akan mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis (8/10/2026).
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia
Dari dalam negeri, rupiah mendapat sentimen positif setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2%.
Menurut Ibrahim, peningkatan proyeksi itu mencerminkan pertumbuhan konsumsi masyarakat dan kenaikan belanja pemerintah.
Momentum Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal ikut mendorong aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, pemerintah mempercepat pencairan THR dan gaji ke-13.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berjalan lebih cepat. Percepatan program tersebut ikut mendorong pengeluaran pemerintah pada awal tahun.
Sejumlah Risiko Ekonomi Masih Ada
Meskipun mendapat sentimen positif, pasar tetap memperhatikan sejumlah risiko ekonomi domestik.
Sektor manufaktur menunjukkan tanda pelemahan. PMI Manufaktur Agustus turun menjadi 49,3.
Pada sektor konsumen, Indeks Kepercayaan Konsumen Juli turun menjadi 116,8. Penurunan ini menjadi salah satu indikator yang turut diperhatikan pasar.
Indonesia juga menghadapi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan. Pasar memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2026 mencapai 1,5% dari produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, inflasi diperkirakan bergerak mendekati batas atas sasaran pemerintah dan Bank Indonesia. Target inflasi tersebut berada pada level 2,5% ± 1%.
JISDOR Ikut Menguat
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mencatat penguatan.
Pada perdagangan sebelumnya, JISDOR menguat ke level Rp17.910 per dolar AS dari posisi Rp17.917 per dolar AS.
Selanjutnya, investor akan mencermati kebijakan The Fed, data cadangan devisa Indonesia, serta perkembangan ekonomi domestik.
Berbagai faktor tersebut akan memengaruhi pergerakan rupiah. Untuk sementara, mata uang Garuda berpeluang bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









