Rupiah Menguat, Investor Pantau The Fed dan Cadev

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ilustrasi rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jakarta, Britakini.com – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026). Investor menanti data cadangan devisa (cadev) Indonesia dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Mengutip Antara, rupiah naik 33 poin atau 0,18% menjadi Rp17.866 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda berada di level Rp17.899 per dolar AS.

Analis memperkirakan penguatan rupiah masih terbatas. Investor pun memilih bersikap hati-hati sambil menunggu sejumlah data ekonomi penting.

“Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan FOMC malam ini,” ujar analis.

Investor Menunggu Risalah FOMC

Selain data domestik, pelaku pasar menunggu risalah rapat Federal Reserve atau The Fed yang berlangsung pada September 2026. Mereka ingin mengetahui pertimbangan para pembuat kebijakan dalam menentukan arah suku bunga.

Dokumen tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai pandangan The Fed terhadap risiko inflasi. Informasi itu menjadi salah satu acuan investor dalam memperkirakan kebijakan moneter berikutnya.

Mengutip Anadolu, risalah FOMC dapat membantu pasar membaca arah kebijakan The Fed.

Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Xinhua, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kini hanya sekitar 24%. Sepekan sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang tersebut mencapai 71%.

Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi mendukung rupiah. Kondisi itu membuat pasar melihat peluang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Cadangan Devisa Indonesia Jadi Perhatian

Investor juga mencermati data cadangan devisa Indonesia. Pasar memperkirakan cadangan devisa turun dari US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 menjadi sekitar US$144 miliar.

Analis Lukman mengatakan penguatan euro turut menekan indeks dolar AS. Pergerakan tersebut ikut membuka ruang bagi rupiah untuk menguat.

Melihat kondisi tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Rupiah Menguat pada Perdagangan Selasa

Pada perdagangan Selasa (6/10/2026), rupiah juga menguat terhadap dolar AS. Mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10% menjadi Rp17.899 per dolar AS.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun, Ini Daftar Terbarunya di Pegadaian

Sehari sebelumnya, kurs rupiah berada di level Rp17.917 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pasar merespons positif semakin kecilnya peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan.

“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah telah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang,” kata Ibrahim seperti dikutip Antara, Selasa (6/10/2026).

Data Ekonomi AS Mulai Melemah

Sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut ikut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

Pertama, inflasi PCE. Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index mencatat inflasi tahunan sebesar 3,4% pada Agustus 2026. Angka itu berada di bawah perkiraan pasar sebesar 3,7%.

Kedua, pertumbuhan lapangan kerja. Amerika Serikat hanya menambah 29 ribu pekerjaan nonpertanian pada September 2026. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan penambahan 133 ribu pekerjaan pada Agustus.

Para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja sekitar 84 ribu hingga 90 ribu. Hasil September pun berada jauh di bawah proyeksi tersebut.

Ketiga, pemerintah AS merevisi data tenaga kerja. Revisi terhadap data dua bulan sebelumnya mengurangi jumlah pekerjaan hingga 60 ribu.

Untuk Juli, data awal mencatat penambahan 21 ribu pekerjaan. Setelah pemerintah melakukan revisi, angka tersebut berubah menjadi pengurangan 10 ribu pekerjaan.

Sementara itu, data Agustus juga mengalami perubahan. Jumlah pekerjaan pada bulan tersebut turun dari 162 ribu menjadi 133 ribu setelah revisi.

Keempat, tingkat pengangguran meningkat. Angka pengangguran AS mencapai 4,2% pada September 2026, naik dari 4,1% pada bulan sebelumnya.

Pasar Melihat Peluang The Fed Menahan Suku Bunga

Pelemahan sejumlah indikator ekonomi AS membuat pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober. Peluang tersebut kini mencapai lebih dari 80%.

Untuk Desember, pelaku pasar justru memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 95%.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.962 Tertekan Sentimen Global

Ibrahim mengatakan investor kini menunggu dua agenda ekonomi penting.

Pertama, The Fed akan merilis risalah rapat FOMC September pada Rabu (7/10/2026). Selanjutnya, pasar akan mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis (8/10/2026).

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia

Dari dalam negeri, rupiah mendapat sentimen positif setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.

Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2%.

Menurut Ibrahim, peningkatan proyeksi itu mencerminkan pertumbuhan konsumsi masyarakat dan kenaikan belanja pemerintah.

Momentum Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal ikut mendorong aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, pemerintah mempercepat pencairan THR dan gaji ke-13.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berjalan lebih cepat. Percepatan program tersebut ikut mendorong pengeluaran pemerintah pada awal tahun.

Sejumlah Risiko Ekonomi Masih Ada

Meskipun mendapat sentimen positif, pasar tetap memperhatikan sejumlah risiko ekonomi domestik.

Sektor manufaktur menunjukkan tanda pelemahan. PMI Manufaktur Agustus turun menjadi 49,3.

Pada sektor konsumen, Indeks Kepercayaan Konsumen Juli turun menjadi 116,8. Penurunan ini menjadi salah satu indikator yang turut diperhatikan pasar.

Indonesia juga menghadapi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan. Pasar memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2026 mencapai 1,5% dari produk domestik bruto (PDB).

Di sisi lain, inflasi diperkirakan bergerak mendekati batas atas sasaran pemerintah dan Bank Indonesia. Target inflasi tersebut berada pada level 2,5% ± 1%.

JISDOR Ikut Menguat

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mencatat penguatan.

Pada perdagangan sebelumnya, JISDOR menguat ke level Rp17.910 per dolar AS dari posisi Rp17.917 per dolar AS.

Selanjutnya, investor akan mencermati kebijakan The Fed, data cadangan devisa Indonesia, serta perkembangan ekonomi domestik.

Berbagai faktor tersebut akan memengaruhi pergerakan rupiah. Untuk sementara, mata uang Garuda berpeluang bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. (Ven*)

Penulis : Vendra

Editor : Vendra

Sumber Berita: Liputan6.com

Berita Terkait

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi
Harga Emas Antam Turun, Cek Daftar Harga Terbaru
Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat Akibat Inflasi Amerika Serikat
Daftar Tarif Listrik PLN Oktober 2026 untuk Semua Golongan
Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Sinyal Bunga The Fed
Harga Emas Antam Turun, Buyback Merosot Lebih Dalam
Harga Emas Turun Saat Dolar AS Menguat dan Minyak Naik
Aplikasi Penghasil Uang 2026, Begini Cara Mengumpulkan Koin
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:00 WIB

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Antam Turun, Cek Daftar Harga Terbaru

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat Akibat Inflasi Amerika Serikat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Daftar Tarif Listrik PLN Oktober 2026 untuk Semua Golongan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Sinyal Bunga The Fed

Berita Terbaru

Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan meluas di Tahura Orang Kayo Hitam, Jambi.(Foto : Dok.Istimewa)

Jambi

Al Haris Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla di Jambi

Sabtu, 17 Okt 2026 - 03:00 WIB

Yamaha XSR900 2027 hadir dengan warna Neon White yang mengusung nuansa balap era 1990-an untuk pasar Eropa.(Foto : Paultan)

Teknologi

Yamaha XSR900 2027 Usung Warna Neon White Bergaya Retro

Sabtu, 17 Okt 2026 - 01:00 WIB

Yadea GT80 mengandalkan baterai ganda untuk mengejar jarak tempuh lebih dari 180 km dalam sekali pengisian daya.(Foto : Ist)

Teknologi

Yadea GT80 Diklaim Bisa Tempuh 190 Km, Ini Spesifikasinya

Jumat, 16 Okt 2026 - 23:00 WIB

Saham Bank Mandiri (BMRI) mengalami koreksi 8,54% seiring dengan anjloknya IHSG pada sesi pertama perdagangan Jumat (16/10/2026).(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi

Jumat, 16 Okt 2026 - 20:00 WIB

BMKG mendeteksi sebaran asap karhutla dari Kalimantan hingga wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.(Foto : detik.com)

Nasional

Asap Karhutla Capai Pulau Jawa, BMKG Pantau Kualitas Udara

Jumat, 16 Okt 2026 - 18:00 WIB