Rupiah Menguat 13 Poin, Pasar Masih Cermati Konflik Timur Tengah
Jakarta, Britakini.com – Nilai tukar rupiah menguat pada akhir perdagangan Jumat (25/9/2026). Rupiah menguat 13 poin setelah pasar sempat menekan mata uang Garuda sepanjang perdagangan.
Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global. Mereka memperhatikan perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Rupiah Menguat 13 Poin
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah menguat 13 poin pada perdagangan Jumat.
Rupiah menutup perdagangan di level Rp17.903 per dolar AS. Sebelumnya, tekanan pasar sempat membuat rupiah melemah hingga 30 poin.
“Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup menguat 13 poin. Sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp17.903 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.916,” ujar Ibrahim, Jumat (25/9/2026).
Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Negosiator AS dan Iran kini menjajaki jalan keluar secara bertahap.
Kedua negara juga membahas kemungkinan membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, mereka membahas pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran.
Arab Saudi juga mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi dari Yaman. Kelompok tersebut mendapat dukungan dari Iran.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar. Pasalnya, kawasan Timur Tengah memiliki peran penting dalam perdagangan dan pasokan energi dunia.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Data ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pasar keuangan. S&P Global mencatat PMI Komposit AS mencapai 58,4 pada September.
Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam lima tahun.
Selain itu, jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September. Angka tersebut juga berada di bawah perkiraan pasar sebesar 201.000.
Data ekonomi AS yang kuat membuat pasar kembali mencermati kebijakan The Fed.
Sejumlah pejabat The Fed juga membuka peluang kenaikan suku bunga. Mereka mempertimbangkan langkah tersebut jika inflasi masih berada di atas target.
Pemerintah Redam Tekanan Rupiah
Dari dalam negeri, pemerintah terus mencermati kenaikan harga minyak dunia. Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Pemerintah menggunakan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut sekaligus bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertama, pemerintah mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah memadukan kebijakan fiskal dan moneter untuk menopang perekonomian nasional.
Kedua, pemerintah memperkuat sektor eksternal. Langkah ini bertujuan menjaga perdagangan dan aliran modal asing dari dampak gejolak global.
Ketiga, pemerintah mengelola likuiditas perekonomian. Pemerintah memastikan pasar uang, perbankan, dan sektor riil memiliki likuiditas yang cukup.
Pemerintah juga merespons persaingan dalam perebutan dana. Persaingan tersebut dapat meningkatkan biaya dana atau cost of fund.
Pemerintah Perkuat Pengendalian Inflasi
Pemerintah juga memperkuat pengendalian inflasi. Meningkatkan koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Selain itu, pemerintah terus memperdalam pasar keuangan. Langkah tersebut bertujuan memperlancar transmisi kebijakan.
Pemerintah juga ingin memperluas sumber pembiayaan bagi perekonomian nasional.
Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (28/9/2026).
Ia memperkirakan rupiah akan melemah dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900 – Rp17.950. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan di range Rp17.800 – Rp18.100,” jelas Ibrahim.
Dengan demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan global dan kebijakan ekonomi dalam negeri. Pergerakan harga minyak, konflik Timur Tengah, serta kebijakan The Fed dapat memengaruhi arah rupiah pada perdagangan berikutnya. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: tribunnews.com









