Jakarta, Britakini.com – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Nilai tukar rupiah turun 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp18.035 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup pada level Rp18.027 per dolar AS.
Sejumlah faktor domestik dan global menekan pergerakan rupiah. Dari dalam negeri, investor menyoroti kondisi pasar modal Indonesia. Sementara itu, konflik geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan harga minyak dunia.
Meski demikian, pemerintah dan otoritas keuangan memiliki sejumlah langkah untuk menjaga kepercayaan pasar. Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan mampu memperbaiki sentimen investor.
Analis Prediksi Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Ia menilai sentimen domestik dan global akan memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia.
“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta hearing BEI (Bursa Efek Indonesia) mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar,” ujar Lukman, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Lukman, langkah OJK dan BEI dapat membantu memulihkan kepercayaan investor. Namun, otoritas terkait perlu menunjukkan langkah pengawasan yang efektif agar pelaku pasar kembali yakin terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.
Usulan MSCI Membayangi Pasar Modal Indonesia
Selain faktor nilai tukar, investor juga mencermati laporan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penyedia indeks global tersebut mengusulkan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar mandiri.
MSCI memberi kesempatan kepada pelaku pasar untuk menyampaikan masukan hingga 30 April 2027. Setelah itu, MSCI menargetkan penetapan keputusan final sebelum 30 Juni 2027.
Dalam laporan tersebut, MSCI menilai pasar saham Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang cukup dan konsisten. Lembaga itu menyampaikan penilaian tersebut berdasarkan masukan dari para pelaku pasar.
MSCI juga menyoroti dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan lemahnya bukti penegakan aturan. Kedua persoalan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.
Kondisi ini dapat memengaruhi keputusan investor. Pasalnya, investor membutuhkan informasi yang transparan dan aturan yang konsisten sebelum menanamkan modalnya.
Jika ketidakpastian terus berlanjut, sebagian investor mungkin mengurangi investasinya pada aset keuangan Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Konflik Geopolitik Picu Kekhawatiran Harga Minyak
Di pasar global, investor turut memantau konflik di Timur Tengah atau Asia Barat serta perang Rusia-Ukraina. Ketegangan di kedua kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Lukman menyoroti perkembangan konflik yang melibatkan Iran, Rusia, dan Ukraina. Ia menilai serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta fasilitas minyak dapat memengaruhi sentimen pasar energi.
“Di Timteng tentunya serangan Iran pada kapal-kapal di Selat Hormuz dan di Eropa, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak,” kata Lukman.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Untuk membayar impor tersebut, pelaku usaha membutuhkan dolar AS. Karena itu, peningkatan kebutuhan dolar berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, konflik geopolitik dapat mendorong investor beralih ke aset yang mereka anggap lebih aman. Dolar AS sering menjadi salah satu pilihan ketika ketidakpastian global meningkat.
Peralihan investasi tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar AS. Jika permintaan terus menguat, rupiah berpotensi menghadapi tekanan tambahan.
Analis Prediksi Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.100
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan potensi fluktuasi nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar.
Ke depan, investor perlu memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan kebijakan OJK serta BEI. Selain itu, situasi geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia juga dapat memengaruhi arah rupiah.
Jika otoritas berhasil memperkuat kepercayaan pasar, sentimen terhadap aset keuangan Indonesia berpotensi membaik. Sebaliknya, jika konflik global meningkat dan ketidakpastian pasar modal berlanjut, rupiah dapat kembali menghadapi tekanan.
Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan faktor domestik dan global sebelum mengambil keputusan investasi. (ven*)
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









