Komdigi Soroti Live Streaming Demo, Waspada Informasi Viral

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (tengah) di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Senin (3/8/2026).(Foto : KOMPAS.com/Nawir Arsyad Akbar)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (tengah) di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Senin (3/8/2026).(Foto : KOMPAS.com/Nawir Arsyad Akbar)

Jakarta, Britakini.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti sejumlah siaran langsung atau live streaming yang menayangkan aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI.

Komdigi menemukan sejumlah siaran langsung yang lebih mengutamakan jumlah penonton, viralitas, dan keuntungan finansial. Beberapa kreator bahkan memanfaatkan fitur pemberian hadiah atau gift untuk memperoleh penghasilan dari konten tersebut.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan temuan tersebut setelah Komdigi memantau ruang digital selama aksi penyampaian aspirasi masyarakat berlangsung.

“Dari hasil pemantauan, terdapat sejumlah siaran langsung yang terlihat lebih berorientasi pada viralitas dan monetisasi, termasuk melalui fitur pemberian hadiah atau gift,” kata Meutya dalam keterangan pers, Kamis (27/8/2026).

Komdigi Minta Masyarakat Periksa Informasi

Meutya mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan jumlah penonton dan popularitas sebagai patokan untuk menilai kebenaran sebuah informasi.

Menurut Meutya, konten dengan jumlah penonton tinggi belum tentu menyampaikan informasi yang benar. Masyarakat juga perlu mewaspadai potongan video, narasi yang tidak utuh, serta konten yang tidak mencantumkan sumber secara jelas.

Baca Juga :  15 Penerbangan Terdampak Kabut Asap di Palembang

Karena itu, Komdigi meminta masyarakat memeriksa informasi terlebih dahulu sebelum mempercayai atau menyebarkannya melalui media sosial.

Meutya juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati karena informasi digital dapat menyebar dengan sangat cepat.

Satu Unggahan Bisa Menjangkau Jutaan Orang

Meutya mengatakan satu unggahan dapat menjangkau ribuan hingga jutaan orang dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mempertimbangkan dampak sebelum membagikan sebuah konten.

“Dalam situasi seperti ini, satu unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Karena itu, jangan sampai ruang digital justru menjadi ruang untuk memperkeruh suasana,” ujar Meutya.

Ia meminta masyarakat menahan diri dan tidak langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi.

Masyarakat juga perlu memeriksa sumber, memahami konteks informasi, serta memastikan konten tersebut tidak mengandung unsur provokasi.

Baca Juga :  Ini Penggunaan Uang Pajak Kendaraan Setiap Tahun

Komdigi Jaga Ruang Digital Tetap Kondusif

Komdigi tidak hanya mengingatkan masyarakat, tetapi juga memantau pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan situasi demonstrasi untuk memecah belah masyarakat.

Meutya menegaskan bahwa masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan suara dan aspirasi secara aman. Namun, masyarakat juga perlu menjaga ruang publik agar tidak berubah menjadi tempat penyebaran hasutan, kebencian, dan informasi palsu.

“Kami ingin masyarakat tetap dapat menyampaikan suara dan aspirasinya dengan aman. Pada saat yang sama, kami memastikan ruang digital tidak digunakan untuk menghasut, menyebarkan kebencian, ataupun menyebarkan informasi palsu yang dapat merugikan masyarakat,” kata Meutya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat harus menjalankan kebebasan berpendapat dengan penuh tanggung jawab.

Dengan sikap tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan ruang digital untuk menyampaikan aspirasi tanpa memperkeruh situasi. (Ven*)

Penulis : Vendra

Editor : vendra

Sumber Berita: kompas.com

Berita Terkait

Prabowo Didesak Buka Data 52 Perusahaan Karhutla
Asap Karhutla Capai Pulau Jawa, BMKG Pantau Kualitas Udara
Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel untuk Padamkan Karhutla
Karhutla Sumsel dan Kalimantan Meluas, Asap Ancam Kesehatan
Cuaca Besok Senin, BMKG Tetapkan Status Siaga Hujan Lebat
Syarat Guru PPPK Menjadi PNS Mulai 2027 Terungkap
Dewan Pers Minta ASEAN Lindungi Karya Jurnalistik
15 Penerbangan Terdampak Kabut Asap di Palembang
Berita ini 18 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Prabowo Didesak Buka Data 52 Perusahaan Karhutla

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Asap Karhutla Capai Pulau Jawa, BMKG Pantau Kualitas Udara

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel untuk Padamkan Karhutla

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Karhutla Sumsel dan Kalimantan Meluas, Asap Ancam Kesehatan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Cuaca Besok Senin, BMKG Tetapkan Status Siaga Hujan Lebat

Berita Terbaru

Singapura menyoroti tujuh perusahaan Indonesia terkait karhutla dan kabut asap lintas batas, sementara DPR mendesak pemerintah membuka data 52 perusahaan yang diduga terkait kebakaran hutan.(Foto : tribunnews.com/HO)

Nasional

Prabowo Didesak Buka Data 52 Perusahaan Karhutla

Minggu, 18 Okt 2026 - 02:00 WIB

Harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 menunjukkan perbedaan berdasarkan merek dan berat.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Hari Ini: Antam, UBS, Galeri24, Mana Termurah?

Sabtu, 17 Okt 2026 - 15:00 WIB

Harga emas batangan Antam naik Rp7.000 menjadi Rp2.572.000 per gram pada Sabtu, 17 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Johan Tallo)

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000

Sabtu, 17 Okt 2026 - 13:00 WIB