Harga Perak Antam Naik, Perak Dunia Malah Turun
Jakarta, Britakini.com – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Antam menaikkan harga perak seiring dengan penguatan harga emas.
Berbeda dengan Antam, harga perak dunia justru turun pada perdagangan yang sama.
Harga Perak Antam Naik Rp300
Mengutip laman Logam Mulia, Antam menaikkan harga perak Rp300 menjadi Rp41.200 per gram pada Rabu (7/10/2026).
Sehari sebelumnya, Antam menjual perak dengan harga Rp40.900 per gram. Kenaikan tersebut membuat harga perak Antam kembali menguat.
Untuk memenuhi kebutuhan investor, Antam menawarkan perak batangan dalam ukuran 250 gram dan 500 gram. Perusahaan juga menyediakan perak butiran dengan tingkat kemurnian mencapai 99,95 persen.
Harga perak batangan 250 gram mencapai Rp10.825.000. Sementara itu, pembeli harus membayar Rp20.725.000 untuk perak batangan 500 gram.
Harga Perak Dunia Justru Turun
Pergerakan harga perak Antam berlawanan dengan harga perak dunia. Mengutip Trading Economics, harga perak dunia turun 0,75 persen menjadi US$60,87 per ons pada Rabu (7/10/2026).
Level tersebut menempatkan harga perak kembali di bawah US$61 per ons. Pada perdagangan sebelumnya, komoditas tersebut sempat mencatat penguatan.
Kondisi pasar minyak turut menekan harga perak. Investor mencermati risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran tersebut ikut meningkatkan perhatian pasar terhadap inflasi. Investor juga mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga bank sentral.
Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, pasukan Arab Saudi terus menghadapi kelompok Houthi dalam sejumlah bentrokan.
Perkembangan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Imbal Hasil Treasury AS Masih Tinggi
Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury juga menjadi perhatian investor.
Level imbal hasil Treasury masih mendekati posisi tertinggi dalam beberapa dekade. Investor mengkhawatirkan inflasi yang bertahan dan risiko fiskal yang semakin besar.
Tingginya penerbitan utang untuk membiayai perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menambah perhatian pasar.
Situasi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam memilih aset investasi.
Pasar memperkirakan Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Data pasar menunjukkan peluang tersebut mencapai hampir 80 persen.
Perkiraan itu muncul setelah pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat pada September berada di bawah ekspektasi.
Kini, investor menunggu risalah rapat terbaru The Fed. Mereka akan mencermati dokumen tersebut untuk mengetahui arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Harga Emas Dunia Ikut Menguat
Di tengah penurunan harga perak dunia, harga emas justru bergerak menguat.
Pada perdagangan Selasa (6/10/2026) atau Rabu pagi waktu Jakarta, harga emas mendapat dorongan dari penurunan imbal hasil Treasury dan pelemahan dolar AS.
Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot naik 0,7 persen menjadi US$4.168,33 per ons pada perdagangan Selasa.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turut menguat 0,7 persen. Kontrak tersebut kemudian ditutup pada level US$4.187,10 per ons.
Analis American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai investor kembali mencari emas sebagai aset safe haven. Gejolak pasar obligasi Prancis dan kekhawatiran terhadap pasar obligasi AS mendorong minat tersebut.
Dolar AS Melemah, Harga Emas Menguat
Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun tipis setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin.
Pada waktu yang sama, dolar AS melemah dari level tertinggi dalam satu tahun.
Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Investor juga mencermati peningkatan utang pemerintah dan pelebaran defisit anggaran di sejumlah negara zona euro.
Prancis menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian pasar. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut ikut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
Investor Menunggu Risalah Rapat The Fed
Investor kini menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September. The Fed akan merilis risalah tersebut pada Rabu (7/10/2026).
Dokumen tersebut akan membantu investor melihat kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Data ketenagakerjaan September yang lebih lemah dari perkiraan menjadi salah satu penyebabnya.
Menurut data FedWatch Tool dari CME, pedagang melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 22 persen.
Namun, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 84 persen.
Lingkungan suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas. Investor dapat mengalihkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi.
Prospek Harga Emas Tetap Positif
Di sisi lain, pembelian exchange-traded fund (ETF) masih memberikan dukungan terhadap harga emas.
Pergerakan harga minyak juga terus menjadi perhatian pasar. Kuatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara G7 membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
Analis TD Securities masih melihat prospek harga emas secara positif dalam jangka panjang.
Mereka memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$5.000 per ons pada 2027. Namun, sejumlah tekanan masih dapat memengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









