Jakarta, Britakini.com – Harga emas dunia kembali menguat pada Jumat, 9 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat (AS). Pada Sabtu pagi, 10 Oktober 2026, waktu Jakarta, harga emas mencapai level tertinggi dalam sepekan.
Aksi beli saat harga rendah mendorong kenaikan harga emas. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada awal pekan ini.
Di sisi lain, pelaku pasar terus memantau kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Mereka juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Mengutip CNBC pada Sabtu, 10 Oktober 2026, harga emas spot naik 1,6% menjadi US$4.189,99 per ons. Angka tersebut tercatat pada pukul 15.13 waktu setempat.
Sebelumnya, penguatan dolar AS menekan harga emas. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperbesar tekanan tersebut. Akibatnya, harga emas menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember mencatat kenaikan 1,43%. Kontrak tersebut ditutup pada level US$4.216,30 per ons.
Secara mingguan, harga emas juga mencatat kenaikan sebesar 1,3%. Penguatan ini menunjukkan pemulihan setelah tekanan harga pada awal pekan.
Aksi Beli Mendorong Penguatan Harga Emas
Analis StoneX, Rhona O’Connell, melihat aksi beli saat harga rendah sebagai pendorong utama penguatan emas. Investor memanfaatkan penurunan harga untuk kembali membeli logam mulia tersebut.
“Harga emas menguat karena adanya aksi beli di harga rendah, mengingat terbentuknya batas bawah (floor) di kisaran level US$4.000,” ujar Rhona.
Rhona menambahkan, pelaku pasar kemungkinan telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, pasar juga memperhitungkan kemungkinan berlanjutnya pembelian bersih emas oleh bank sentral.
Menurut Rhona, harga emas masih sulit menembus level yang jauh lebih tinggi secara meyakinkan. Ia menilai pasar membutuhkan peristiwa besar yang dapat mengubah kondisi secara drastis.
Peristiwa tak terduga seperti itu dikenal sebagai black swan event. Tanpa pemicu tersebut, Rhona belum melihat alasan kuat bagi harga emas untuk melonjak jauh lebih tinggi.
Imbal Hasil Obligasi AS Mulai Turun
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mulai menurun. Sebelumnya, indikator tersebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Presiden The Fed wilayah St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pandangannya pada Kamis, 8 Oktober 2026. Ia menilai bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga.
Musalem menyebut langkah tersebut penting untuk mengembalikan inflasi ke target 2%. Pernyataan itu memperkuat perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.
Perangkat FedWatch milik CME mencatat peluang kenaikan suku bunga sebesar 19% pada Oktober 2026. Pedagang juga memperkirakan peluang sebesar 84% untuk setidaknya satu kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember 2026.
Data Inflasi AS Bisa Menggerakkan Harga Emas
Suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas. Investor cenderung mempertimbangkan obligasi karena instrumen tersebut menawarkan imbal hasil.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS. Mereka menggunakan data tersebut untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai data indeks harga konsumen (CPI) AS pekan depan dapat memicu pergerakan besar. Data inflasi tersebut berpotensi menentukan arah harga emas berikutnya.
“Inflasi yang masih membandel, yang mendorong The Fed untuk melakukan siklus kenaikan suku bunga yang lebih agresif, dapat memaksa harga emas spot untuk kembali menguji level support psikologis di angka US$4.000,” ujar Han.
Permintaan Emas di India Melemah
Kenaikan harga emas kembali menekan permintaan di India pada pekan ini. Konsumen cenderung mengurangi pembelian ketika harga logam mulia meningkat.
Sementara itu, aktivitas perdagangan emas di China melambat selama periode libur. Periode perdagangan yang lebih singkat turut membatasi aktivitas pasar di negara konsumen utama tersebut.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot juga mencatat penguatan. Harganya naik 2,7% menjadi US$60,93 per ons.(**)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









