Jakarta, Britakini.com – Harga emas kembali melemah pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, atau Sabtu pagi waktu Jakarta. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan harga emas di pasar global.
Tekanan tersebut membuat emas kembali menuju penurunan mingguan. Investor kini mencermati pergerakan dolar AS dan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,8 persen menjadi US$4.145,68 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS turun 0,7 persen menjadi US$4.173,50 per ons.
Dolar AS Tekan Harga Emas
Dolar AS sempat melemah tipis pada perdagangan Jumat. Namun, mata uang tersebut tetap berada di jalur penguatan dalam sepekan.
Kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut memberikan tekanan kepada emas. Yield obligasi AS tenor 10 tahun dan 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2002 pada Kamis (1/10/2026).
Kondisi tersebut membuat sebagian investor melihat aset berbasis bunga sebagai pilihan alternatif. Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan imbal hasil secara langsung.
Data Tenaga Kerja AS Pengaruhi Harga Emas
Harga emas sempat melonjak lebih dari 1 persen pada awal perdagangan Jumat. Investor merespons data tenaga kerja AS yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja pada September.
Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Harga emas kemudian berbalik melemah.
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat penggajian non-pertanian atau non-farm payrolls hanya bertambah 29.000 pada September.
Pemerintah AS juga merevisi data Agustus. Jumlah tenaga kerja pada bulan tersebut kini tercatat bertambah 133.000, turun dari laporan sebelumnya yang mencapai 162.000.
Angka September tersebut berada jauh di bawah perkiraan ekonom. Survei Reuters sebelumnya memperkirakan pertumbuhan tenaga kerja mencapai 90.000.
Investor Menunggu Kebijakan The Fed
Analis pasar utama Bybit, Han Tan, mengatakan investor emas masih memilih bersikap hati-hati.
Menurut Han Tan, pelaku pasar melihat The Fed masih mempertahankan sikap ketat atau hawkish terhadap kebijakan moneter.
“Para investor emas tampaknya belum ingin terburu-buru mengambil risiko, menyadari bahwa Bank Sentral AS (The Fed) masih cenderung mempertahankan sikap ketat (hawkish),” kata Han Tan.
Ia memperkirakan kebijakan The Fed akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan emas dalam beberapa bulan ke depan.
Selain kebijakan suku bunga, investor juga akan mencermati kondisi pasar tenaga kerja dan perkembangan inflasi AS.
Harga Emas Turun Lebih dari 20 Persen
Harga emas telah turun lebih dari 20 persen sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.
Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Investor menilai tekanan inflasi dapat membuat suku bunga AS bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.
Namun, data inflasi terbaru memberikan gambaran berbeda. Angka inflasi tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar.
Dua pejabat tinggi The Fed juga menolak kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober. Pernyataan tersebut mendorong sebagian investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada akhir bulan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Menurun
Perubahan ekspektasi investor terlihat dari CME FedWatch.
Data tersebut menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober sekitar 22 persen.
Angka itu turun dari sekitar 70 persen pada awal pekan.
Meski ekspektasi kenaikan suku bunga menurun, investor tetap menghadapi ketidakpastian. The Fed masih akan mempertimbangkan berbagai data ekonomi sebelum mengambil keputusan.
Analis Marex, Edward Meir, mengatakan prospek teknis harga emas masih belum jelas.
“Prospek teknis pada grafik masih terlihat cukup buram, dan harga emas bisa merosot lebih dalam jika siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut,” ujar Edward Meir.
Harga Perak dan Paladium Ikut Turun
Tekanan pasar juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.
Harga perak spot turun 1,1 persen menjadi US$60,17 per ons. Harga platina juga melemah 1,9 persen menjadi US$1.692 per ons.
Sementara itu, harga paladium turun 0,4 persen menjadi US$1.166,25 per ons.
Ketiga logam tersebut juga berpotensi mencatatkan penurunan dalam sepekan.
Ke depan, investor akan mencermati pergerakan dolar AS, yield obligasi pemerintah AS, data ekonomi, inflasi, serta kebijakan suku bunga The Fed. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi arah harga emas di pasar global. (Ven*)
Penulis : Vendra
Editor : Vendra
Sumber Berita: Liputan6.com









