Jakarta, Britakini.comh – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Investor kembali memburu logam mulia setelah harganya mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir. Aksi bargain hunting atau membeli saat harga melemah turut mendorong penguatan tersebut.
Harga emas di pasar spot ditutup pada level US$ 4.144,6 per troy ons. Berdasarkan data perdagangan, harga tersebut naik 0,82 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Meski demikian, harga emas masih mencatatkan pelemahan dalam periode yang lebih panjang. Pada Rabu (7/10/2026), harganya terkoreksi lebih dari 1 persen. Dalam sepekan, harga emas turun 0,85 persen. Sementara itu, selama sebulan terakhir, harganya merosot 5,81 persen.
Koreksi tersebut membuka peluang bagi investor untuk membeli emas dengan harga lebih rendah. Karena itu, sebagian pelaku pasar kembali mengakumulasi logam mulia sambil menunggu peluang kenaikan berikutnya.
Kabar AS dan Iran Dorong Harga Emas
Selain aksi beli investor, perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memengaruhi pasar emas. Kabar mengenai peluang dialog antara kedua negara menjadi salah satu perhatian pelaku pasar.
Bloomberg News melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif. Trump juga membantah kabar mengenai rencana serangan AS terhadap Iran sebelum Pemilu Sela.
Dalam unggahannya di media sosial, Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum Pemilu Sela pada 3 November 2026.
Jika kedua negara berhasil meredakan ketegangan, pasar berpeluang menghadapi situasi geopolitik yang lebih stabil. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
Harga minyak yang lebih terkendali berpotensi meredakan tekanan inflasi global. Dengan begitu, bank sentral mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Perubahan ekspektasi suku bunga ini dapat mendukung harga emas. Pasalnya, emas tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil rutin seperti sejumlah instrumen investasi lainnya.
Ketika suku bunga naik, investor cenderung mempertimbangkan aset yang memberikan imbal hasil. Sebaliknya, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan daya tarik emas.
Bank Sentral China Borong Emas
Permintaan bank sentral juga menopang harga emas dunia. Sejumlah negara terus menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset dan diversifikasi cadangan devisa.
Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBoC) menjadi salah satu pembeli utama. PBoC menambah sekitar 23 ton emas pada bulan sebelumnya. Jumlah tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar sejak 2023.
Langkah China menunjukkan bahwa bank sentral masih menaruh minat terhadap logam mulia. Permintaan dari lembaga keuangan tersebut berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global. Kebijakan suku bunga, pergerakan dolar AS, dan situasi geopolitik juga dapat memengaruhi arah harga emas.
Analisis Harga Emas Hari Ini
Lalu, bagaimana prospek harga emas pada Jumat (9/10/2026)? Apakah harga akan melanjutkan penguatan atau kembali melemah?
Analisis teknikal pada grafik harian menunjukkan bahwa harga emas masih berada dalam zona bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) periode 14 hari berada di level 40.
RSI di bawah 50 menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Sementara itu, indikator Stochastic RSI periode 14 hari berada di level 33.
Kedua indikator tersebut mengisyaratkan bahwa harga emas masih menghadapi tekanan teknikal. Meski begitu, investor tetap dapat mencermati peluang pemulihan setelah harga mengalami koreksi.
Target Kenaikan Harga Emas
Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), harga emas berpeluang melanjutkan penguatan. Jika pembeli mampu mempertahankan momentum, harga dapat menguji Moving Average (MA) 10 pada level US$ 4.162 per troy ons.
Jika harga berhasil menembus level tersebut, emas berpeluang naik menuju area US$ 4.179–4.217 per troy ons. Selanjutnya, harga berpotensi mencapai US$ 4.268 per troy ons dalam skenario yang lebih optimistis.
Namun, investor perlu mencermati setiap level resistensi. Jika harga gagal menembus area tersebut, tekanan jual dapat kembali membatasi kenaikannya.
Waspadai Risiko Penurunan Harga Emas
Di sisi lain, harga emas berisiko kembali melemah jika penjual mengambil alih kendali pasar. Investor dapat mencermati pivot point di US$ 4.115 per troy ons sebagai level penting.
Jika harga turun menembus level tersebut, emas berpotensi menguji rentang US$ 4.096–4.011 per troy ons. Tekanan jual yang semakin kuat juga dapat membawa harga menuju target berikutnya di US$ 3.952 per troy ons.
Oleh karena itu, investor perlu memantau pergerakan harga serta indikator teknikal sebelum mengambil keputusan. Aksi beli saat harga melemah memang membuka peluang pemulihan. Namun, tren bearish masih membayangi pasar emas pada perdagangan hari ini. (Ven*)









