Valuasi Saham Bank Murah, BBCA BBRI Layak Dibeli?

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pergerakan saham Asia di tengah koreksi pasar.(Foto : ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Ilustrasi pergerakan saham Asia di tengah koreksi pasar.(Foto : ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta, Britakini.com – Investor memborong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) saat harga saham perbankan melemah tajam pada Senin, 19 Oktober 2026. Meski kedua saham menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), nilai pembelian bersih atau net buy mencapai ratusan miliar rupiah.

Data Stockbit Sekuritas mencatat net buy BBCA sebesar Rp994,2 miliar. Investor membeli saham tersebut dengan harga rata-rata Rp4.823 per saham.

Sementara itu, net buy BBRI mencapai Rp887,9 miliar. Investor mencatat harga pembelian rata-rata sebesar Rp2.468 per saham.

Namun, aksi beli tersebut belum mampu mengangkat harga kedua saham. Pada sesi II, sekitar pukul 14.10 WIB, harga BBCA turun 6,86 persen menjadi Rp4.820 per saham. Pada waktu yang sama, harga BBRI merosot 6,82 persen menjadi Rp2.460 per saham.

Kedua saham tersebut menyentuh batas ARB di tengah tekanan jual yang kuat. Meski demikian, investor tetap aktif memperdagangkan saham perbankan besar itu.

Nilai transaksi BBCA mencapai Rp1,47 triliun. Sementara itu, nilai transaksi BBRI menembus Rp1,49 triliun.

Investor Asing Lepas Saham BBCA dan BBRI

Investor asing justru melepas saham BBCA dan BBRI saat aktivitas pembelian secara keseluruhan meningkat.

Hingga jeda siang, investor asing mencatat net sell BBCA sebesar Rp670,83 miliar. Pada periode yang sama, net sell BBRI mencapai Rp515,17 miliar.

Data Stockbit Sekuritas menunjukkan net buy keseluruhan yang besar pada kedua saham tersebut. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa transaksi beli dari pihak lain menyerap sebagian tekanan jual di pasar.

Namun, investor tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa pembeli tersebut merupakan investor domestik. Data net buy keseluruhan tidak menunjukkan identitas pembeli secara spesifik.

Untuk memastikan asal investor, pelaku pasar perlu melihat data transaksi berdasarkan kategori investor. Dengan demikian, investor dapat membedakan aktivitas pembelian domestik dan asing secara lebih akurat.

Besarnya nilai transaksi juga menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan BBCA dan BBRI. Di tengah koreksi tajam, sebagian pelaku pasar mulai mencermati peluang dari penurunan valuasi saham perbankan.

Valuasi Saham Bank Mendekati Level Krisis

Kekhawatiran mengenai perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia turut menekan saham perbankan. Perhatian investor tertuju pada rencana konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar tersendiri.

MSCI menerima masukan hingga 30 April 2027. Lembaga tersebut juga menjadwalkan keputusan akhir paling lambat pada 30 Juni 2027.

Wacana perubahan status ini memicu kekhawatiran mengenai potensi arus keluar modal asing. Investor khawatir perubahan klasifikasi tersebut dapat memengaruhi aliran dana ke pasar saham Indonesia.

Baca Juga :  Kemendag Perketat Impor Pangan untuk Jaga Swasembada

Tekanan pasar terlihat jelas pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pada hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,6 persen ke level 5.185.

Saham perbankan besar juga mengalami koreksi tajam. Harga BBCA, BBRI, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masing-masing merosot sekitar 15 persen. Sementara itu, harga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 13 persen.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia, menilai kekhawatiran mengenai perubahan klasifikasi pasar lebih menekan saham perbankan daripada pelemahan fundamental industri.

“Saat ini, valuasi saham bank setara dengan saat masa krisis,” tulis Victor dan Nataniella dalam riset pada Senin, 19 Oktober 2026.

PBV BBCA Turun di Bawah Level Pandemi

Proyeksi 2026 menunjukkan penurunan valuasi sejumlah saham perbankan. Rasio price to book value (PBV) BBCA berada di level 2,1 kali.

Angka tersebut lebih rendah daripada titik terendah saat pandemi Covid-19, yakni 2,9 kali. Kondisi ini menunjukkan perubahan valuasi BBCA dibandingkan periode krisis sebelumnya.

Sementara itu, proyeksi PBV BBRI mencapai 1,2 kali. BMRI mencatat PBV sebesar 1 kali, sedangkan BBNI berada di level 0,6 kali.

Ketiga bank tersebut mendekati titik terendah saat pandemi. Pada periode tersebut, PBV BBRI mencapai 1,1 kali, BMRI sebesar 0,9 kali, dan BBNI sebesar 0,5 kali.

Selain PBV, analis juga mencermati rasio price to earnings (PER). Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat PER saham perbankan berada pada kisaran 5,3–10,5 kali.

Adapun tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) berkisar 11,8–20,8 persen. Sementara itu, imbal hasil dividen berada di rentang 6,8–13,1 persen.

Meski valuasi menurun, investor tetap perlu memperhatikan risiko arus keluar modal asing. Kepemilikan asing pada sejumlah bank besar mencapai 53–69 persen.

Jika perubahan klasifikasi MSCI mendorong investor asing mengurangi kepemilikannya, tekanan jual berpotensi berlanjut. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan risiko tersebut sebelum membeli saham perbankan.

BTPS Jadi Pilihan Utama BRI Danareksa Sekuritas

Di tengah tekanan pasar, BRI Danareksa Sekuritas tetap memberikan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan. Rekomendasi ini mencerminkan pandangan positif terhadap sektor tersebut secara keseluruhan.

Namun, investor tetap perlu membandingkan fundamental dan risiko setiap emiten. Tidak semua saham perbankan menawarkan profil investasi yang sama.

Dalam riset terbarunya, BRI Danareksa Sekuritas memilih PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) sebagai saham unggulan atau top pick.

Analis menilai BTPS memiliki sejumlah indikator valuasi yang menarik. Saham ini mencatat PER sebesar 5 kali dan PBV sebesar 0,6 kali.

BTPS juga membukukan ROE sebesar 13,2 persen. Sementara itu, imbal hasil dividennya mencapai 12 persen.

Dari sisi struktur keuangan, BTPS mencatat rasio leverage sebesar 2,3 kali. Kepemilikan asingnya juga relatif rendah, yakni sekitar 15 persen.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.962 Tertekan Sentimen Global

Selain itu, perusahaan telah mengantongi persetujuan pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp1 triliun.

Kepemilikan asing yang relatif rendah dapat menjadi salah satu pertimbangan saat investor menilai risiko arus keluar modal. Namun, faktor tersebut tidak menjamin harga saham BTPS akan bertahan ketika pasar mengalami tekanan.

Investor tetap perlu menilai kinerja keuangan, prospek bisnis, dan risiko perusahaan sebelum mengambil keputusan.

Daftar Rekomendasi dan Target Harga Saham Bank

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk sejumlah saham perbankan. Berikut daftar target harga yang tercantum dalam riset tersebut:

  • BBCA (Bank Central Asia): rekomendasi buy, target harga Rp8.600.
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia): berstatus non-rated karena keterkaitan afiliasi langsung.
  • BMRI (Bank Mandiri): rekomendasi buy, target harga Rp6.200.
  • BBNI (Bank Negara Indonesia): rekomendasi buy, target harga Rp4.800.
  • BRIS (Bank Syariah Indonesia): rekomendasi buy, target harga Rp3.100.
  • BBTN (Bank Tabungan Negara): rekomendasi buy, target harga Rp1.500.
  • BTPS (BTPN Syariah): rekomendasi buy, target harga Rp1.400.
  • BNGA (Bank CIMB Niaga): rekomendasi buy, target harga Rp2.100.

Status non-rated berarti BRI Danareksa Sekuritas tidak memberikan rekomendasi maupun target harga untuk BBRI dalam daftar tersebut.

Perbedaan rekomendasi dan target harga menunjukkan bahwa analis menilai setiap bank berdasarkan pertimbangan yang berbeda. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan penurunan harga saat memilih saham.

Investor Perlu Mencermati Risiko Saham Perbankan

Penurunan harga saham memang dapat membuka peluang investasi. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan risiko yang menyertai koreksi pasar.

Salah satu risiko utama berasal dari potensi penurunan kualitas aset perbankan. Jika kualitas kredit memburuk, bank dapat menghadapi peningkatan beban pencadangan.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan di luar perkiraan dapat memengaruhi biaya dana dan permintaan kredit. Inflasi yang lebih tinggi daripada proyeksi juga berpotensi menekan kondisi ekonomi dan kemampuan membayar debitur.

Di sisi lain, perubahan klasifikasi MSCI dapat memengaruhi keputusan investor asing. Jika investor global mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia, tekanan jual berpotensi meningkat.

Aksi beli BBCA dan BBRI saat harga anjlok menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar tetap aktif mengambil posisi. Namun, net buy yang besar tidak otomatis menjamin pemulihan harga saham dalam waktu dekat.

Investor perlu membandingkan valuasi, fundamental, prospek dividen, dan risiko setiap emiten. Dengan analisis yang menyeluruh, investor dapat menilai peluang investasi secara lebih rasional di tengah gejolak pasar saham. (ven*)

Editor : Vendra

Sumber Berita: https://www.viva.co.id

Berita Terkait

Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat
Rupiah Melemah ke Rp18.035, Harga Minyak Jadi Sorotan
Harga Emas Antam Tertinggi, Simak Prediksi Emas Sepekan
OJK Perkuat Reformasi dan Transparansi Pasar Modal Indonesia
Harga Emas Antam Stabil, Simak Daftar Harga Terbaru
IHSG Anjlok 11,57 Persen, MSCI Evaluasi Status Pasar Indonesia
Harga Emas Hari Ini: Antam, UBS, Galeri24, Mana Termurah?
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Valuasi Saham Bank Murah, BBCA BBRI Layak Dibeli?

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Antam Tertinggi, Simak Prediksi Emas Sepekan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:00 WIB

OJK Perkuat Reformasi dan Transparansi Pasar Modal Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Antam Stabil, Simak Daftar Harga Terbaru

Berita Terbaru

Daihatsu Gran Max menjadi kontributor terbesar penjualan Daihatsu hingga September 2026.(Foto : Dok. Liputan6.com)

Teknologi

Daihatsu Perkuat Pasar Otomotif, Gran Max Penjualan Fantastis

Selasa, 20 Okt 2026 - 01:00 WIB

Ilustrasi pergerakan saham Asia di tengah koreksi pasar.(Foto : ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Ekonomi

Valuasi Saham Bank Murah, BBCA BBRI Layak Dibeli?

Senin, 19 Okt 2026 - 23:00 WIB

BAM DPR RI dan pemerintah daerah menyepakati empat poin penyelesaian konflik agraria Zona Merah Kota Jambi.(Foto : Tribun Jambi/Sopianto)

Jambi

BAM DPR RI Sepakati 4 Langkah Selesaikan Zona Merah Jambi

Senin, 19 Okt 2026 - 21:00 WIB

BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mengalami keterlambatan di sejumlah wilayah Indonesia.(Foto : TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Nasional

Jadwal Musim Hujan 2026/2027, BMKG Ungkap Prediksi Terbaru

Senin, 19 Okt 2026 - 19:00 WIB

Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan pasar domestik dan ketegangan geopolitik global.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat

Senin, 19 Okt 2026 - 17:00 WIB