Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan pasar domestik dan ketegangan geopolitik global.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan pasar domestik dan ketegangan geopolitik global.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jakarta, Britakini.com – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Nilai tukar rupiah turun 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp18.035 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup pada level Rp18.027 per dolar AS.

Sejumlah faktor domestik dan global menekan pergerakan rupiah. Dari dalam negeri, investor menyoroti kondisi pasar modal Indonesia. Sementara itu, konflik geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan harga minyak dunia.

Meski demikian, pemerintah dan otoritas keuangan memiliki sejumlah langkah untuk menjaga kepercayaan pasar. Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan mampu memperbaiki sentimen investor.

Analis Prediksi Rupiah Masih Menghadapi Tekanan

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Ia menilai sentimen domestik dan global akan memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia.

“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta hearing BEI (Bursa Efek Indonesia) mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar,” ujar Lukman, seperti dikutip dari Antara.

Menurut Lukman, langkah OJK dan BEI dapat membantu memulihkan kepercayaan investor. Namun, otoritas terkait perlu menunjukkan langkah pengawasan yang efektif agar pelaku pasar kembali yakin terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.

Usulan MSCI Membayangi Pasar Modal Indonesia

Selain faktor nilai tukar, investor juga mencermati laporan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penyedia indeks global tersebut mengusulkan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar mandiri.

Baca Juga :  69 Saham Turun di Bawah Rp50, Ini Dampaknya

MSCI memberi kesempatan kepada pelaku pasar untuk menyampaikan masukan hingga 30 April 2027. Setelah itu, MSCI menargetkan penetapan keputusan final sebelum 30 Juni 2027.

Dalam laporan tersebut, MSCI menilai pasar saham Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang cukup dan konsisten. Lembaga itu menyampaikan penilaian tersebut berdasarkan masukan dari para pelaku pasar.

MSCI juga menyoroti dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan lemahnya bukti penegakan aturan. Kedua persoalan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.

Kondisi ini dapat memengaruhi keputusan investor. Pasalnya, investor membutuhkan informasi yang transparan dan aturan yang konsisten sebelum menanamkan modalnya.

Jika ketidakpastian terus berlanjut, sebagian investor mungkin mengurangi investasinya pada aset keuangan Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.

Konflik Geopolitik Picu Kekhawatiran Harga Minyak

Di pasar global, investor turut memantau konflik di Timur Tengah atau Asia Barat serta perang Rusia-Ukraina. Ketegangan di kedua kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Lukman menyoroti perkembangan konflik yang melibatkan Iran, Rusia, dan Ukraina. Ia menilai serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta fasilitas minyak dapat memengaruhi sentimen pasar energi.

Baca Juga :  Sugiono Perintahkan Evakuasi 15 WNI dari Iran

“Di Timteng tentunya serangan Iran pada kapal-kapal di Selat Hormuz dan di Eropa, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak,” kata Lukman.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Untuk membayar impor tersebut, pelaku usaha membutuhkan dolar AS. Karena itu, peningkatan kebutuhan dolar berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, konflik geopolitik dapat mendorong investor beralih ke aset yang mereka anggap lebih aman. Dolar AS sering menjadi salah satu pilihan ketika ketidakpastian global meningkat.

Peralihan investasi tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar AS. Jika permintaan terus menguat, rupiah berpotensi menghadapi tekanan tambahan.

Analis Prediksi Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.100

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan potensi fluktuasi nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar.

Ke depan, investor perlu memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan kebijakan OJK serta BEI. Selain itu, situasi geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia juga dapat memengaruhi arah rupiah.

Jika otoritas berhasil memperkuat kepercayaan pasar, sentimen terhadap aset keuangan Indonesia berpotensi membaik. Sebaliknya, jika konflik global meningkat dan ketidakpastian pasar modal berlanjut, rupiah dapat kembali menghadapi tekanan.

Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan faktor domestik dan global sebelum mengambil keputusan investasi. (ven*)

Editor : Vendra

Sumber Berita: Liputan6.com

Berita Terkait

Rupiah Melemah ke Rp18.035, Harga Minyak Jadi Sorotan
Harga Emas Antam Tertinggi, Simak Prediksi Emas Sepekan
OJK Perkuat Reformasi dan Transparansi Pasar Modal Indonesia
Harga Emas Antam Stabil, Simak Daftar Harga Terbaru
IHSG Anjlok 11,57 Persen, MSCI Evaluasi Status Pasar Indonesia
Harga Emas Hari Ini: Antam, UBS, Galeri24, Mana Termurah?
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000
IHSG Ambruk 10,76%, Saham Bank Mandiri Ikut Terkoreksi
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rp18.035, Harga Minyak Jadi Sorotan

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas Antam Tertinggi, Simak Prediksi Emas Sepekan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:00 WIB

OJK Perkuat Reformasi dan Transparansi Pasar Modal Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Antam Stabil, Simak Daftar Harga Terbaru

Berita Terbaru

BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mengalami keterlambatan di sejumlah wilayah Indonesia.(Foto : TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Nasional

Jadwal Musim Hujan 2026/2027, BMKG Ungkap Prediksi Terbaru

Senin, 19 Okt 2026 - 19:00 WIB

Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah tekanan pasar domestik dan ketegangan geopolitik global.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Domestik dan Global Meningkat

Senin, 19 Okt 2026 - 17:00 WIB

Rupiah melemah ke Rp18.035 per dolar AS seiring tekanan pasar global dan kenaikan harga minyak.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.035, Harga Minyak Jadi Sorotan

Senin, 19 Okt 2026 - 15:00 WIB

Daftar harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 di Pegadaian pada Senin, 19 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Antam Tertinggi, Simak Prediksi Emas Sepekan

Senin, 19 Okt 2026 - 13:00 WIB

Sekda Alpian memimpin Apel Kerja Senin sekaligus mencanangkan Core Values ASN BerAKHLAK di Lapangan Kantor Wali Kota Sungai Penuh.(foto : Prokopim Kota Sungai Penuh)

Sungai Penuh

Sekda Alpian Tekankan Disiplin ASN Lewat BerAKHLAK

Senin, 19 Okt 2026 - 11:00 WIB